Senin, 13 April 2026

BWS Nusa Tenggara II NTT Bersihkan Air Sagu

Keluarga besar Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II melaksanakan aksi bersih-bersih di Air Sagu, Kelurahan Bakunase.

Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/Laus Markus Goti
Kepala Balai Sungai Nusa Tenggara II Ir. Agus Sosiawan, ME saat memberikan sambutan usai aksi membersihkan Air Sagu di Kelurahan Bakunase, Jumat (29/3/2019). 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Keluarga besar Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara II melaksanakan aksi bersih-bersih di Air Sagu, Kelurahan Bakunase, Jumat (29/3/2019). Aksi tersebut merupakan rangkaian kegiatan Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II untuk memperingati Hari Air Sedunia.

Pada Jumat pagi, rombongan sudah turun ke lokasi usai melaksanakan senam pagi bersama di Kantor Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II di Jalan Frans Seda. Mereka membersihkan sampah-sampah di sekitar lokasi mata air dan merapikan ranting dan dahan pohon yang berserakan.

BREAKING NEWS: Dibawa Ibunya Berobat Luka di Puskesmas, Ibu Terkejut, Siswi SMA Didiagnosa Hamil

Dalam sambutannya, Kepala Balai Sungai Nusa Tenggara, Ir. Agus Sosiawan, ME menegaskan Air Sagu harus dijaga dengan baik, karena merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat.

Dalam kesempatan itu juga Sosiawan menyampaikan pesan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, M. Basuki Hadimujono terkait peringatan hari air sedunia.

Warga dan staf BWS Nusa Tenggara II membersihkan sampah di seputaran mata air, Air Sagu, Kupang, Jumat (29/3/2019).
Warga dan staf BWS Nusa Tenggara II membersihkan sampah di seputaran mata air, Air Sagu, Kupang, Jumat (29/3/2019). (ISTIMEWA)

Sosiawan mengatakan, saat ini, dunia dihadapkan dengan berbagai permasalahan air, lebih dari 2 Milyar atau 40 persen penduduk dunia hidup tanpa air bersih.

"Di sisi lain, pertumbuhan populasi penduduk yang sangat cepat menyebabkan kebutuhan akan air bertambah hingga 30% pada tahun 2050," ungkapnya.

BREAKING NEWS: Dijemput Tengah Malam, Pelajar SMP di Kupang Disetubuhi di Belakang Sekolah

Kelompok marjinal, pengungsi, masyarakat adat dan penyandang disabilitas seringkali terabaikan dan terdiskriminasi dalam mendapatkan akses air bersih yang mereka butuhkan.

Penduduk di beberapa kawasan juga terpaksa menggunakan air dari sumber yang tidak aman, seperti air permukaan, kolam dan sungai yang tercemar.

Faktor-faktor seperti urbanisasi, degradasi lingkungan, perubahan iklim, dan kemiskinan juga mengakibatkan kesulitan dalam mengakses air bersih.

Di Indonesia, pemerataan penyediaan air bersih di seluruh wilayah Indonesia juga menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan sumber daya air yang terpadu dan berkelanjutan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian PUPR telah menetapkan Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) sebagai dasar penyusunan program pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan pengembangan wilayah, guna pemerataan distribusi air agar semua penduduk Indonesia mendapatkan air bersih tanpa terkecuali.

Tema peringatan HAD tahun 2019 ini berhubungan dengan agenda pokok Sustainable Development Goals tahun 2030, yaitu SDG 6.

Peringatan HAD merupakan upaya bersama untuk meningkatkan perhatian publik akan pentingnya air dan pengelolaan sumber-sumber air yang berkelanjutan. HAD merupakan momentum untuk mengajak generasi milenial turut berperan aktif menjaga lingkungan dan air.

"Kita perlu melakukan kampanye dari pintu ke pintu untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya air atau daya rusak air akibat kerusakan lingkungan. Kalau lingkungan dan air tidak dirawat dengan baik, bisa menjadi "musuh" tetapi kalau dirawat dengan baik akan menjadi kawan," tegasnya.

Menurutnya, perilaku kita terhadap air dan lingkungan akan beresonansi dengan perlakuan air dan lingkungan terhadap kita. Apabila terus terjadi penebangan liar dan kerusakan lingkungan maka akan terjadi kekeringan dan banjir.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved