Pemilik Depot Bakso 99 Tuntut Puskesmas Bakunase Jika Tidak Terbukti Gunakan Formalin

Pemilik Depot Bakso 99 Kuanino Kupang tuntut Puskesmas Bakunase jika tidak terbukti gunakan formalin

Pemilik Depot Bakso 99 Tuntut Puskesmas Bakunase Jika Tidak Terbukti Gunakan Formalin
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Pemilik Depot Bakso 99 Kuanino Kupang, Sutarno (50) ketika ditemui di tempat usahanya di Jln Jendral Sudirman Kelurahan Nunleu, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Jumat (29/3/2019) sore. 

Pemilik Depot Bakso 99 Kuanino Kupang tuntut Puskesmas Bakunase jika tidak terbukti gunakan formalin

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Pemilik Depot Bakso 99 Kuanino, Sutarno (50) menegaskan, jika bakso jualannya tidak terbukti menggunakan formalin, maka dirinya akan menuntut Puskesmas Bakunase, Senin (1/4/2019) sore.

Tuntutan tersebut karena viralnya foto dengan keterangan bahwa bakso miliknya mengandung bahan berbahaya formalin.

NTT akan Luncurkan Miras Sopiah, Pengamat Ekonomi: Itu Ide Bagus

"Pihak Puskesmas Bakunase harus bertanggung jawab. Kalau saya terbukti tidak mengandung barang itu (formalin) harus diposting kembali kalau saya tidak gunakan dan minta maaf kepada pelanggan saya," ungkapnya ketika ditemui di tempat usahanya di Jln Jendral Sudirman Kelurahan Nunleu, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang.

Ia mengaku, tidak ingin masalah ini berlarut-larut dengan melaporkan Puskesmas Bakunase ke pihak kepolisian.

BREAKING NEWS: Warga Kupang Temukan Mayat Bayi di Jalur 40, Sudah Membusuk dan Berulat

Namun, ia akan menuntut Puskesmas Bakunase untuk memulihkan nama baik usaha yang telah dirintis oleh ayahnya 40 tahun silam.

akibat beredarnya informasi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya tersebut, lanjut Sutarno, pihaknya mengalami kerugian belasan juta.

Pelanggan semakin sepi dan bakso dagangannya lama terjual.

Sebelum masalah ini mencuat ke publik, dalam sehari, Sutarno menghabiskan 50 kg hingga 60 Kg daging sapi untuk jualan bakso.

Akan tetapi, saat ini, lanjut Sutarno, 50 Kg daging sapi untuk dagangan bakso miliknya laku terjual selama tiga hari.

"Saya rugi besar. Kalau dulu, omset kotor jualan satu hari bisa lebih dari Rp 10 juta. Itu 50 Kg sampai 60 Kg daging sapi. Sekarang lihat saja. 50 Kg daging sapi lakunya dalam tiga hari," jelasnya.

Dengan keadaan ini, Sutarno pun mengaku sulit untuk bisa membayar biaya kontrak lahan sebesar Rp 90 juta dalam satu tahun dan memberikan upah bagi 6 karyawannya.

Selain itu, pada Sabtu (29/3/2019) lalu, dua petugas dari Dinas Kesehatan Kota Kupang memintanya untuk ke kantor Dinas Kesehatan Kota Kupang di bilangan walikota pada keesokan harinya, Minggu (30/3/2018) pagi.

Sutarno mengaku bingung karena diminta ke kantor tersebut di luar jam kantor pada Minggu (30/3/2018) sekitar pukul 08.00 Wita.

"Hari Sabtu sore jam 5 ada yang datang untuk undang ke kantor Dinas Kesehatan Kota Kupang. Saya diminta Minggu pagi jam 8 ke kantor. Tapi saya tidak pergi. Tadi pagi masih telepon saya tapi saya bilang kalau perlu datang saja ke warung, kalau saya salah silahkan ditegur," kisahnya.

Diberitakan sebelumnya, Pemilik Depot Bakso 99 Kuanino Kupang, Sutarno (50) membantah dengan keras bakso dagangannya mengandung formalin, Jumat (29/3/2019) sore

"Itu tidak benar, saya sudah 40 tahun usaha bakso dan tidak pernah gunakan (formalin)," kata Sutarno ketika ditemui di tempat usahanya di Jln Jendral Sudirman Kelurahan Nunleu, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang.

Sutarno mengakui, pada Kamis (28/3/2019) pihak Kelurahan Nunleu dan Puskesmas Bakunase melakukan Sidak (Inspeksi Mendadak) di depot miliknya.

Dalam Sidak itu, tim yang berjumlah sekitar enam orang melakukan pengecekan dan membawa enam pentolan bakso sebagai sampel untuk diuji.

Setelah itu, ia mengaku kaget karena mendapatkan informasi dari keluarganya bahwa telah beredar informasi baik di Facebook dan pesan WhatsApp bahwa bakso miliknya mengandung formalin.

Tidak terima akan informasi yang sangat merugikannya, Sutarno membawa sebanyak 30 pentolan bakso miliknya untuk dilakukan uji laboratorium oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM).

"Saya bawa 30 butir (pentolan bakso) ke Badan POM karena tidak terima. Nanti hari Senin, (1/4/2019) baru hasilnya keluar.

Ia mengaku, dengan adanya informasi yang beredar sangat merugikan dirinya.

Usaha yang dirintis oleh ayahnya puluhan tahun silam ini sepi sejak pagi. Dalam sehari, 40-50 kg daging sapi yang telah diolahnya dapat habis terjual.

"Dari kemarin pengaruh. Sekarang sepi," katanya singkat.

Dikatakannya, daging yang telah diolahnya setiap hari akan laku terjual. Ia juga dibantu oleh enam orang pekerja.

"Saya beli daging pagi hari dan langsung diolah. Bahan bakso dari daging, vitsin, lada dan bawang. Saya belanja pagi dan langsung diolah untuk di jual dibantu enam pekerja," katanya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved