Minggu, 26 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Renungan Harian Kristen Protestan Minggu 31 Maret 2019

Daud merasakan tenaganya makin berkurang, dan merasa seperti "dibuang" dan tidak dipedulikan lagi (Maz 71: 9).

Editor: Ferry Jahang
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA 

Perungan dalam arti apakah kita yang punya orang tua, kita yang punya para lansia yang nota bene keluarga kita, apakah di masa tua mereka kita meningalkan mereka dalam kesepian, tanpa teman bicara, tanpa teman bersenda gurau, tanpa teman berolah raga.

Apakah kita tega mendengar keluhan mereka seperti Daud: ""Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis."

Memang harus diakui tidak sedikit orang tua yang semakin tua semakin menyebalkan dan merepotkan anak-anak dan cucunya, baik dalam perkataan maupun tindakan-tindakan mereka.

Banyak Opa dan Oma yang semakin tua justru makin rajin ke gereja. Apalagi kalau pada gereja itu ada tiga kali jam kebaktian: jam 06:00 pagi, 08:00 pagi dan 17:00 sore hari.

Bisa dibayangkan bagaimana repotnya anak-anak dan cucu yang harus mengantar orang tua mereka mengikuti kebaktian dalam satu hari minggu sebanyak tiga kali.

Apalagi selama tiga kali kebaktian harus mendengar khotbah dari pendeta yang sama. Pasalnya orang tua kita, para lansia itu sudah ada pada taraf kepikunan yang akut.

Ketika lonceng gereja tanda kebaktian pagi 06: 00 berdentang, si Oma atau Opa minta diantar ke gereja.

Ketika pulang dari gereja selang beberapa menit sambil duduk minum kopi pagi, lonceng tanda kebaktian ke dua jam 08:00 ia minta di antar lagi ke gereja. Begitu juga yang sore hari jam 17:00, karena ia lupa bahwa tadi sudah gereja.

Itu baru satu hal, belum lagi hal-hal lain. Itulah sebabnya banyak anak-cucu yang tidak mau repot terpaksa menitipkan orang tua mereka di panti jompo.

Mungkin bagi keluarga si Opa danatau Oma masalahnya beres. Tetapi tidak bagi para lansia. Mereka akan merasa kesepian dan lebih dari pada itu merasa seperti "dibuang" oleh keluarganya.

Mungkin mereka tidak akan pernah berbangkit-bangkit atau mengungkit-ungkit apa yang mereka telah perbuat bagi anak-anaknya. Karena mereka hanya memberi dan tak pernah mengingatnya lagi. Itulah ketulusan mereka.

Mereka bagaikan matahari. "Banyak memberi, tak harap kembali, bagaikan surya menerangi dunia.." demikian sepengal lagu terkenal.

Dulu kala di Jepang ada sebuah tradisi yang dikenal dengan nama Ubasute. Yaitu tradisi membuang orang tua di hutan.

Ubasute adalah praktik kuno dari cerita rakyat Jepang di mana kerabat yang sakit atau lanjut usia dibuang di tempat terpencil untuk mati.

Alkisah ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si ibu telah lumpuh dan pikun. Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved