Penyelundupan 41 Komodo Asal Pulau Rinca, Diduga Terjadi Sejak 4 Tahun Lalu

Dugaan dan kecurigaan tentang penyelundupan Komodo ke luar itu sudah diketahui sejak 3 atau 4 tahun lalu.

Penyelundupan 41 Komodo Asal Pulau Rinca, Diduga Terjadi Sejak 4 Tahun Lalu
KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA
Komodo di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

Tersangka melakoni bisnis perdagangan satwa ilegal lebih dari tiga tahun mulai 2016 hingga 2019.

Selama itulah tersangka sudah memperdagangan 41 ekor Komodo di Surabaya, Jakarta, hingga ke pasar gelap (Black Market) luar negeri Thailand dan Vietnam.

Dirreskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Ahmad Yusep Gunawan mengatakan, tersangka memperoleh 41 ekor Komodo dari ED (DPO) dan EB (DPO) senilai Rp 6 juta hingga Rp 8 juta.

Tersangka diduga mendapatkan Komodo itu dari hasil berburu secara ilegal di Pulau Rinca Flores yang berada di kawasan Taman Nasional Pulau Komodo Nusa Tenggara.

"Tersangka menjual Komodo ke beberapa pembeli (User) berharga Rp 15 juta hingga Rp 20 juta," ungkapnya.

Seperti yang diberitakan, tim gabungan Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim menangkap lima tersangka komplotan jaringan perdagangan satwa dilindungi.

Kelima tersangka itu satwa dilindungi yaitu tersangka Tersangka Veki Subun (32) warga Nusa Tenggara Timur, M Rizalla Satria (24) dan Afandi (32) keduanya merupakan warga Kota Surabaya. Andika Wibisiono (35) warga Kecamatan Ambarawa Jawa Tengah dan Rizky (32) mahasiswa asal Kota Surabaya.

Komodo diperdagangkan ke tiga Negara yang terindikasi di pasar hewan Thailand dan perorangan di Vietnam. Harga Komodo di pasar luar negeri mencapai Rp 500 juta per/ekor.

Adapun barang bukti disita meliputi lima ekor Komodo (Varanus Komodoensis), satu ekor Binturong (Arctictis Binturong), satu ekor Kakatua jambul kuning (Cacatua Sulphurea), satu ekor Kakatua Maluku (Cacatua Molucensis), lima ekor Burung Nuri Bayan (Elcectus Roratus).

Lima ekor Perkici Flores (Trichoglassus Weberi), satu ekor Kasuari Gelambir dua keadaan Offset (Casuarius casuarius), satu buah tengkorak bertanduk rusa, lima rekening Bank, lima kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM), tujuh Handphone, empat buah pipa paralon yang sudah dimodifikasi, satu kardus dan kontainer box.

Ditreskrimsus Polda Jawa Timur mengungkap jaringan perdagangan satwa liar yang menyelundupkan 41 ekor Komodo ke luar negeri.

Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan pendalaman berkaitan dengan informasi tersebut.

"Yang jelas dikirim di tiga negara di wilayah Asia Tenggara melalui Singapura," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur Kombes Akhmad Yusep Gunawan kepada wartawan, Rabu (27/3/2019).

Yusep mengatakan, pihaknya telah mengamankan lima ekor bayi Komodo di Surabaya dari operasional jaringan tersebut.

"Perdagangan Komodo ini lingkupnya internasional, satu ekor Komodo bisa dijual dengan harga Rp 500 juta," katanya.

Komodo-Komodo tersebut, kata Yusep, diambil dari Pulau Flores, dan sudah melalui beberapa tangan dalam penjualannya dengan harga yang berbeda pula.

Tangan pertama menjual Komodo dengan harga Rp 6 juta-Rp 8 juta dan tangan kedua menjualnya dengan harga Rp 15 juta-Rp 20 juta.

Sampai saat ini sudah ada sembilan pelaku yang diamankan polisi dari beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

"Masih ada satu lagi pelaku utama yang saat ini masih buron," ujarnya.

Tidak hanya menjual Komodo, jaringan ini juga terbukti menjual beberapa satwa liar, seperti binturung, kakatua jambul kuning, kakatua maluku, burung nuri bayan, burung perkicing, trenggiling, dan berang-berang.

Alur Penyelundupan Komodo

Yusep menjelaskan alur perdagangan satwa Komodo dari Indonesia menuju ke luar Negeri.

Sindikat perdagangan satwa dilindungi ini mengirim Komodo dari Pulau Rinca Flores menuju ke Surabaya.

Mereka memanfaatkan jasa sopir truk untuk mengangkut Komodo berukuran kecil menuju ke Pelabuhan Perak Surabaya.

Lalu, Komodo itu ditampung di rumah tersangka sembari memasarkannya melalui Facebook hingga transaksi bersama pembeli dari luar negeri.

(Komodo di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)

Komodo itu dititipkan ke sopir travel menuju ke Jakarta. Kemudian, diangkut melalui bus antar Provinsi menuju Medan atau Pekanbaru.

Komodo dipindahkan ke sebuah kandang berukuran kecil menggunakan Kapal Ferry menuju Pulau Batam.

Beberapa hari Komodo dirawat di Batam lalu dibawa kurir melalui pelabuhan penyeberangan menggunakan Kapal Ferry ke Malaysia.

Komodo diterima kurir travel di Malaysia diangkut menuju ke perbatasan Thailand. Sesampainya di sana Komodo diterima kurir lalu dibawa menuju ke pasar hewan Thailand.

"Kita masih menunggu hasil forensik patut diduga bahkan lebih dari 41 Komodo yang telah keluar diperdagangkan ke luar negeri," ungkap Yusep.

Yusep menambahkan perdagangan Komodo sudah berlangsung dari 2016 hingga 2019. Tersangka Veki Subun mendatangkan 41 Komodo dari Flores dikirim ke Surabaya.

Komodo di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)
Lalu, tersangka Afandi merawat 20 ekor Komodo dan tersangka Rizalla 18 ekor Komodo.

Selanjutnya, satwa dilindungi itu diterima tersangka Rizky empat ekor Komodo, BMY (DPO) empat ekor Komodo, Andika Wibisiono 10 ekor Komodo dan DNN (DPO) lima ekor Komodo.

Tersangka Rizalla menjual Komodo melalui Facebook. Dua ekor Komodo dibeli Mr Chien dan Mr Wangsel asal Vietnam.

"Tadi telah disampaikan ada satu paspor yang merupakan bukti bahwa yang bersangkutan terhubung dengan jaringan internasional," ujar Yusep. (pos-kupang.com/Servan Mammilianus/Fery Jahang)

# Penyelundupan 41 Komodo Asal Pulau Rinca, Diduga Terjadi Sejak 4 Tahun Lalu

Penulis: Servan Mammilianus
Editor: Bebet I Hidayat
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved