11 Maret 1998, Saat Soeharto Dilantik Jadi Presiden untuk Kali Ketujuh
11 Maret 1998, Saat Soeharto Dilantik Jadi Presiden untuk Kali Ketujuh Republik Indonesia
Setelah itu, pimpinan fraksi mempersiapkan berkas pencalonan Soeharto untuk segera disidangkan pada rapat MPR.
Pelantikan dan ucapan selamat Pencalonan Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia masa bakti 1998-2003 telah memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Ketetapan MPR Nomor 2/MPR tahun 1973.
Tiga hari setelah perwakilan fraksi di MPR ke Cendana, Pimpinan MPR akhirnya mengesahkan Soeharto menjadi Presiden RI periode 1998-2003.
Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 12 Maret 1998, disaksikan jutaan pasang mata manusia melalui tayangan televisi, Soeharto mengucapkan sumpah jabatan Presiden Republik Indonesia untuk periode ketujuh (1998-2003).
Presiden Soeharto mengindikasikan akan memegang jabatan secara penuh selama lima tahun ke depan. Dia juga memprediksikan bahwa Indonesia tidak akan lagi mengalami pertumbuhan ekonomi seperti yang telah dinikmati selama 25 tahun terakhir.
Dalam pidato singkatnya, Presiden menyatakan, bangsa ini sedang mengalami ujian dan cobaan yang sangat berat, yakni berupa guncangan perekonomian dan keuangan yang sangat keras.
"Kita tidak akan mengalami lagi pertumbuhan ekonomi seperti yang kita nikmati lebih dari seperempat abad terakhir. Sebaliknya, walaupun program keluarga berencana secara nasional berhasil, penduduk kita tetap bertambah banyak," kata Soeharto.
Jenderal Bintang Lima ini juga bersedia memikul tugas yang sangat berat karena Majelis yang merupakan penjelmaan rakyat Indonesia (MPR) memberi kepercayaan kepadanya untuk memimpin bangsa ini.
Begitu tiba kembali di kediaman Jalan Cendana usai upacara pelantikan di Gedung MPR, Presiden Soeharto disambut ucapan selamat dari seluruh putra-putri, menantu, cucu, cicit, dan kerabat dekat.
Selain itu, Pemerintah Malaysia dan Singapura secara resmi mengirim ucapan selamat kepada Presiden Soeharto yang terpilih kembali sebagai Presiden RI masa bakti 1998-2003.
Ucapan selamat itu dikirim oleh Yang Dipertuan Agung Malaysia Tuanku Ja'afar bin Tuanku Abdulrahman beserta permaisuri, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, dan Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong. (Kompas.com)