Ini yang Dilakukan Brimob Polda NTT Menghadapi Pemilu 2019

Menghadapi Pemilihan Umum ( Pemilu ) pada April 2019 mendatang, Sat Brimob Polda NTT siap mem-backup satuan kewilayahan, Selasa (5/3/2019).

Ini yang Dilakukan Brimob Polda NTT Menghadapi Pemilu 2019
POS-KUPANG.COM/Gecio Viana
Komandan Satuan Brimob Polda NTT, Kombes Pol Deonijiu De Fatima, S.I.K., S.H (kanan) dan perwakilan wartawan, Kristo Ngai (kiri) dalam Temu Akrab Dansat Brimob Polda NTT, Kombes Pol Deonijiu De Fatima, SIK., SH beserta staf dan Bhayangkari dengan komunitas Wartawan NTT di Ruang Rapat Sat Brimob Polda NTT, Selasa (5/3/2019) 

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Menghadapi Pemilihan Umum ( Pemilu ) pada April 2019 mendatang, Sat Brimob Polda NTT siap mem-backup satuan kewilayahan, Selasa (5/3/2019).

Demikian disampaikan oleh Dansat Brimob Polda NTT, Kombes Pol Deonijiu De Fatima, SIK., SH ketika memberikan sambutan dalam Temu Akrab Dansat Brimob Polda NTT, Kombes Pol Deonijiu De Fatima, SIK., SH beserta staf dan Bhayangkari dengan komunitas Wartawan NTT di Ruang Rapat Sat Brimob Polda NTT.

Menurutnya, pemilu kali ini merupakan pemilu yang 'unik' dimana lima pemilihan dilakukan sekaligus yakni Pilpres, pemilihan DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Banmus Belum Bahas Interpelasi DPRD Terhadap Bupati Sikka

"Kami satuan Brimob khususnya menjalankan tugas membackup satuan kewilayahan," katanya.

Tugas Sat Brimob Polda NTT, lanjut Kombes Pol Deonijiu, berbeda dengan kesatuan lainnya yakni bertugas memberikan bantuan, perlindungan, memperkuat dan menggantikan.

Memperkuat satuan kewilayahan yakni bilamana satuan kewilayahan membutuhkan bantuan seperti yang bentrokan yang terjadi baru-baru ini di Kabupaten Alor dan Kabupaten Sumba.

Sejarah Baru, Pastor Jadi Kepala Sekolah SD di Belu

"Tujuannya dengan kehadiran anggota kepolisian yang berjumlah besar dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat baik yang membuat rusuh atau yang menjadi korban, sehingga tidak bada korban materi bahkan korban jiwa," jelasnya.

Selain itu, menurut Kombes Pol Deonijiu, kebiasaan masyarakat menyimpan dendam masih besar dan hal tersebut merupakan salah satu pemicu konflik.

"Apalagi masyarakat kita budaya dendamnya besar, yang satu luka sebelahnya harus luka juga," ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan tersebut merupakan bentuk pemahaman yang 'primitif' dan harus diubah dengan kerja sama baik semua elemen.

"Nah ini, pemahaman yang masih primitif yang harus kita ubah. Perubahan ini harus kita lihat dari perkembangan SDM dan Ilmu pengetahuan pengetahuan dikampung-kampung yang primitif dan masih menonjolkan budaya berkelahi, budaya ribut dan budaya baku bunuh," paparnya.

Saat pihak Sat Brimob Polda NTT dihadapkan pada situasi yang tidak kondusif di satuan kewilayahan, pihaknya selalu menangani sesuai prosedur dan SOP yang ada.

Nah, kalau Brimob sudah turun masalah harus selesai. Kami selesaikan dengan tahapan-tahapan. Yakni dengan imbauan dan tangan kosong sampai pada masyarakat yang melawan hukum kami berikan tindakan yang tegas dan proporsional sesuai dengan SOP," jelasnya.

Manakala kondisi atau keadaan dirasa tidak lagi kondusif dan sudah rusak dan membahayakan sampai mengakibatkan kerugian materi dan bahkan korban jiwa maka pihaknya akan melakukan tindakan tegas terhadap oknum atau kelompok masyarakat untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

"Oleh karena itu marilah kita bersama media menjalankan tugas agar betul-betul sesuai dengan norma, etika dan SOP sehingga ikut membantu mengingatkan kami untuk melaksanakan tugas-tugas dengan baik," katanya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana)

Penulis: Gecio Viana
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved