Sabtu, 25 April 2026

Renungan Harian Kristen Protestan

Karena Adanya Hari Kiamat, maka Berbenah Diri Perlu

Begitu juga kalau orang yakin besok dunia kiamat para tim sukses mendadak berhenti bekerja bagi paslon yang didukungnya.

Editor: Ferry Jahang
Dok Pribadi
Pendeta Messakh Dethan 

Pertanyaannya mengapa Nabi Amos menggambarkan hari Tuhan begitu mengerikan? Apakah memang akan seperti itu?

Menurut Erich Zenger, Einleitung in das Alte Testament, Kohlhammer, Stuttgart 2006, hal. 534) ramalan hari Tuhan dari Nabi Amos ditujukan kepada Suku Yehuda dan kerajaan Israel Utara.

Tuhan menurut Nabi Amos akan menghukum mereka dengan menggunakan bangsa-bangsa yang ada di sekitar Israel, yakni bangsa Aram (Siria), bangsa Filistin, Tirus dan Edom, Amon dan Moab.

Jadi hari Tuhan seakan Bangsa Israel yang tidak bisa lolos dari posisi manapun karena musuh-musuhnya ada dimana-mana.

Nabi Amos hendak mengatakan kepada umat Israel mulai dari para pejabatnya maupun rakyat jelata yang tidak mempersiapkan dirinya dan hidupnya dengan baik, maka akan mengalami hal seperti itu.

Mereka akan ketakutan dan seperti bernapas dalam kuburan.

Menurut J.A. Motyer (J.A. Motyer, Amos, dalam New Bible Commentary, Inter Vaarsity Press, Leicester, England, hal. 734.) Bangsa Israel sudah terpuruk duluan kehidupan mereka (Amos 5:1-3).

Oleh karena itu Nabi Amos meminta tiga hal yang perlu direformasikan dari kehidupan Isael (Amos 5:4-27), yakni pertama, reformasi spiritual (Amos 5:4-13) untuk menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan; kedua, orang-orang Israel harus kembali membangun kehidupan relegius yang benar (ayat 4 dan 5); dan ketiga, menghindari eror-eror moral dalam hal kebajikan (ayat 6 dan 7).

Dengan mengingat akan hari Tuhan yang mengerikan itu Nabi Amos hendak menegur orang Israel yang hidupnya jauh dari Tuhan.

Para pejabat negara yang memeras para janda, menindas orang-orang miskin, yang melakukan banyak ketidakadilan. Mereka rajin beribadah, tetapi kehidupan mereka sehari-hari jauh dari Tuhan.

Para pemimpin hanya memberi janji muluk, tetapi tidak pernah realisasi. Lebih suka berbohong untuk menjaga citra, dari pada jujur dan memperbaiki situasi yang terpuruk.

Nabi Amos hendak mengatakan bahwa bagi mereka yang tidak bertobat akan merasakan ketakutan seperti itu. Karena itu Nabi Amos memberi teguran yang sangat keras kepada mereka.

Pesan Nabi Amos jelas ini bukan hanya penting bagi Bangsa Israel pada masa lalu tetapi bagi kita juga sekarang ini, bahwa untuk hari Tuhan orang mestinya mempersiapkan dirinya melalui kebaikan-kebaikan yang taburkan dimana-mana.

Nilai-nilai kejujuran, ketulusan, rendah hati dan masih banyak nilai lain yang perlu kita tambahkan dalam diri kita agar ketika Hari Tuhan tiba, kita tidak ketakutan seperti yang digambarkan oleh Nabi Amos tadi, tetapi kita dengan penuh sukacita disambut mempelai laki-laki, yaitu Kristus sendiri.

Dalam kaitan dengan pemilu serentak dari pesan Nabi Amos ini mungkin kita belajar menjaga sikap dan tutur kata kita secara arif dan bijaksana.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved