Renungan Harian Kristen Protestan
Karena Adanya Hari Kiamat, maka Berbenah Diri Perlu
Begitu juga kalau orang yakin besok dunia kiamat para tim sukses mendadak berhenti bekerja bagi paslon yang didukungnya.
Karena Adanya Hari Kiamat, maka Berbenah Diri Perlu
Renungan Harian Kristen Protestan Tanggal 28 Februari 2019
Oleh: Pdt. DR Mesakh A.P. Dethan, MTh, MA
KALAU orang tahu pasti besok dunia kiamat, maka orang itu akan menunjukkan sikap hidupnya yang berbeda. Dan ia pasti akan berubah 180 derajat. Ia pasti akan mempersiapkan sikap hidup dan tutur kata dengan baik.
Begitu juga kalau orang yakin besok dunia kiamat para tim sukses mendadak berhenti bekerja bagi paslon yang didukungnya. Para tim sukses tidak lagi repot-repot isu apa yang harus diangkat untuk kampanye.
Mungkin juga orang yang suka hina-hina paslon yang dibencinya akan berhenti menghina dan mungkin memanjatkan doa minta ampun atas sikap dan tutur katanya.
Kalau tahu besok dunia kiamat tentu semua orang akan berbenah diri dan meninggalkan semua kesibukannya untuk mempersiapkan dirinya menyambut hari akhir dunia dan berharap bisa masuk surga dan hidup abadi di sana.
Karena urusan dunia kiamat terutama bukan urusan negara atau masyarakat tetapi urusan pribadi masing-masing.
Nabi Amos (Amos 5:18-20) menggambarkan hari Tuhan atau hari kiamat sebagai hari yang sangat mengerikan.
Dalam ayat 18 dikatakan bahwa yang akan terjadi pada hari Tuhan itu adalah kegelapan dan bukan terang.
Kegelapan adalah simbol kematian, simbol dari sesuatu yang buruk. Sesuatu yang tidak membawa harapan apa-apa. Sesuatu yang menuju kebinasaan.
Dalam ayat 19 Nabi Amos menggambarkan hari Tuhan seperti seorang yang lari terbirit-birit ketakutan dari kejaran singa.
Kalau lari dari kejaran anjing masih mendingan. Paling-paling hanya digigit di kaki saja dan mungkin juga kita sudah ketakutan karena bahaya penyakit Tetanus. Apalagi terhadap singa yang bisa terkam seluruh tubuh, tentu lebih ketakutan lagi.
Orang yang menantikan hari Tuhan menurut Nabi Amos, seperti itu. Tapi bukan hanya takut terhadap kejaran singa, tetapi ketakutannya lebih lagi.
Karena saat dia sedang lari dari kejaran singa, namun ia tidak menyangka ada beruang yang sedang siap-siap menyongsongnya dan siap untuk mencakar dan memakan tubuhnya.
Kalau pun ia dapat lolos dan dengan sekuat tenaga dia berlari ke rumah dengan harapan bisa aman, ternyata waktu tangannya memegang pintu atau dinding rumah dengan nafas ngos-ngosan, seekor ular juga sudah siap memagutnya . Ini istilah bukan lagi sudah jatuh tertimpa tangga pula, tetapi situasi yang cocok seperti orang dikubur hidup-hidup dalam kuburan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pendeta-messakh-dethan.jpg)