Renungan Kristen Protestan 19 Februari

Kenyamanan Sejati

Tuntutan yang diberikan Yesus ini merupakan suatu tuntutan yang susah bagi kita orang-orang Kristen modern.

Editor: Ferry Jahang
Dok Pribadi
Dr. Messakh Dethan 

"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku."

Tuntutan yang diberikan Yesus ini merupakan suatu tuntutan yang susah bagi kita orang-orang Kristen modern.

Siapa yang bisa mengikuti Yesus secara konsekwen dan memenuhi apa yang Yesus tuntut.

Siapa yang mengikut Yesus tanpa hidup nyaman tanpa dukungan keluarga (ayah, ibu, istri, anak, saudara-saudara dan keluarga dekat (tanpa rumah, tanpa berteduh),, siapa yang bisa hidup tanpa itu semua?

Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apa maksud Yesus sebenarnya? Apa yang dituntut Tuhan Yesus bagi para pengikutnya?

Jawaban yang benar dapat kita peroleh kalau kita memahami gaya bicara apakah yang digunakan Tuhan Yesus dalam teks kita ini.

Beberapa penafsir Jerman mengatakan bahwa Tuhan Yesus sedang menggunakan gaya bahasa retorik.

Dengan menggunakan gaya bahasa ini Tuhan Yesus mau menekankan bahwa Firman Allah harus ditempatkan dalam skala prioritas nomor satu berhadapan hal-hal lain, termasuk hubungan kekeluargaan sekalipun (lihat ayat 26).

Gaya bicara retorik menurut G. Otto (dalam bukunya Von geistlicher Rede, sieben rhetorische Porfile, Güttersloh 1979) telah digunakan oleh orang-orang Yunani pada tahun 404 bahkan jauh sebelum Kristus lahir.

Gaya bicara seperti ini juga Tuhan Yesus telah ungkapkan sebelumnya dalam Lukas 9: 57-62, khususnya ayat 60. Atau dalam Mat 24: Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanku tidak akan berlalu.

Di sini Tuhan Yesus menggunakan gaya bicara retorik yang disebut dengan superlativvergleichweise (gaya perbandingan yang paling utama), dimana mengajak para pendengar untuk menguji prioritas hidup mereka.

Kata-kata Tuhan Yesus berorientasi pada Firman Allah sebagai ukuran utama segala sesuatu, lebih utama dari hubungan kekuluargaan manusia, dan lebih berharga dari segala segala harta dan keyamanan duniawi.

Bagi Yesus pilihan mengikutNya dan mentaati firmanNya adalah prioritas yang paling utama dibandingakan dengan hal-hal lain (orang tua, pasangan hidup, anak-anak dstnya) bagi semua mereka yang mau mengikutinya.

Ini poin pertama yang penting dari teks ini.

Persoalan yang berikut, bagaimana cara kita mengikutiNya? Itu yang soal.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved