Renungan Jumat

Renungan Jumat: Muhasabah Diri

Ingatlah, hari itu airmata tak lagi berguna. Karena hari itu bukan hari untuk berdoa. Hari itu bukan hari untuk meminta.

Penulis: Bebet I Hidayat | Editor: Bebet I Hidayat
nusantaramengaji.com
Ilustrasi - Musahabah diri 

Tapi itulah manusia, dia masih saja angkuh, tetap saja sombong. Dan merasa dirinya adalah penguasa di atas bumi ini.

Maka ingatlah, orang-orang yang baik itu, tidak pernah berhenti mengajak kepada kebaikan. Umat ini dikatakan baik, bukan karena banyak ibadahnya. Umat ini dikatakan baik bukan karena dia bolak balik ke Makah untuk berhaji dan umroh. Tidak ! Tapi Allah puji umat ini,

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ kalian umat terbaik. Bila mana umat ini disebut umat terbaik? تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ ketika engkau sanggup mengingatkan saudaramu dalam kebaikan. Pagi engkau ingatkan tentang siang.Siang ingatkan tentang petang.Petang ingatkan tentang malam.Dan kalaumalam ingatkan, bahwa besok pagi, kita harus selalu tetap berbuat kebaikan. وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ dan cegah mereka dari perbuatan mungkar.

Hari-hari yang telah kita lewati,tidak akan pernah kembali. Dan ingat, bahwa waktu-waktu yang telah kita pergunakanitu tidak akan berlalu begitu saja,karena semua akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT.

Sejak kita tegak berdiri di atas muka bumi ini, maka sejak itu pula, kita akan ditanya; afala halagnakum abasa apakah kalian Kami ciptakan sia-sia? Apakah kamu sangka, apakah kamu duga, bahwa Kami (kata Allah), menciptakan kamu, lalu kamu tidak akan kembali menghadap Kami? Tidak! Tapi semuanya akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah. Dan pada saat itu, semuanya akan dihitung, semuanya tidak ada yang luput, tidak ada yang lepas dari pandangan dan pengawasan Allah, inna alaikum la hafiziin,karena bersama kamu ada malaikat hafadzah. kiraaman, mulia, kaatibin mencatat, yaklamuna ma taf’alun, dia tahu semua yang kamu lakukan.

Waktu-waktu kita yang telah berlalu, tak dapat lagi kita tebus dengan apa pun, kecuali denganmemperbaiki diri kita,untuk menata dan menjemput masa depan,yang kekal abadi.

Oleh karena itu hadirin Rahimakumullah. Marilah kita tingkatkan kualitas ibadah kita, kualitas sholat berjamaah, tingkatkan tadabur Al Qur’an. Dan kalau pun usia kita sudah lanjut, maka kembalilah kepada Allah, didiklah anak cucu kita, agar menjadi generasi Qur’ani, generasi Islam, yang selalu mendekatkan dirinya kepada Allah Swt.

Andai saja, masa muda kita penuh dosa, masa muda kita penuh narkoba, penuh maksiat, jangan sangka Allah tutup rapat pintu taubat-Nya. TIDAK ! Kecuali orang-orang, yang mempersekutukan-Nya.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ Sesungguhnya Allah tidak menerima taubat orang yang mempersekutukan-Nya, وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ  tapi taubat selain itu, akan diterima oleh Allah Swt.

Oleh sebab itu, mari kita sama dan bersama-sama, anda dan saya, perbaiki diri, persiapkan anak cucu kita.Ajak mereka ke jalan Allah Swt. Karena itumerupakan salah satu cara, untuk memperbaiki masa lalu kita, dan mempersiapkan masa depan kita, sebelum ajal datang menjemput.

Kenapa sih, Allah masih saja memberikan kesempatan kepada kita? Padahal kita ini adalah ahli maksiat? Mengapa Allah masih juga memberikan kesempatan hidup sampai saat ini? Padahal kita  ini adalah ahli judi, ahli mabuk, ahli zina? Bahkah hidup kita jauh dan semakin menjauh dari Allah Swt? Tiada lain karena Allah ingin menguji siapa yang masih tetap  istiqomah dalam iman dan Islam. Waya takhiza minkum syuhada, dan Allah masih ingin melihat, siapa diantara kita, yang pantas untuk menjadi suhada.

Jadi Allah ingin melihat kita, siapa yangIsykariiman, hidup mulia, aumut syahidan atau mati sahid. Maka pilihan kita tidak banyak; kalau mau hidup, maka hidup mulia, dan kalau mati, mati sahid. Hanya itu pilihan kita. Janganlah hidup terhina, mati terlunta-lunta, maka tidak akan diterima Allah SWT.

Tetesan airmata, peluh keringat dan kerinduan. Bermunajat kita ditengah malam, di saat yang lain terlelap dalam tidurnya, akan dibayar lunas oleh Allah SWTt, dengan tetesan darah seorang sahid. Man mata duna malihi, siapa yang mati membela kehormatan hartanya, fahuwa sahid, maka dia mati sahid, mati sebagai seorang suhada. Allahu Akbar !

Betapa seorang yang susah melarat, hanya untuk menjaga diri dari yang haram, menjauhkan dirinya dari subhat, maka Allah muliakan dia.Inna akramakum indallah, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah, atkaakum, yang paling takut, yang paling taqwa kepada Allah SWT.

Dia takut terjerumus dalam riba,takut terjerumus dalam subhat. Dia takut makan yang haram. Dia takut hidupnya bergelimang dosa dan maksiat. Sehingga dia rela dirinya hidup dalam kesusahan, dia rela hidup dalam kemiskinan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved