Hari Pers Nasional

Peringatan Hari Pers Nasional, 9 Februari 2019: Pers di Ende Harus Cerdas Meliput Pemilu

Pers yang bekerja di wilayah Kabupaten Ende khususnya dan di wilayah Indonesia umumnya diharapkan cerdas dalam meliput Pemilu.

Penulis: Romualdus Pius | Editor: Agustinus Sape
POS-KUPANG.COM/ROMUALDUS PIUS
Para pembicara dalam diskusi publik di RRI Ende, Jumat (8/2/2019). 

Laporan Reporter Pos-Kupang.com, Romualdus Pius

POS-KUPANG.COM, ENDE - Pers yang bekerja di wilayah Kabupaten Ende khususnya dan di wilayah Indonesia umumnya diharapkan cerdas dalam meliput Pemilu.

Proses peliputan Pemilu tidak sekedar menulis tokoh atau sosok yang memenangi Pemilu, tapi juga harus menulis hal-hal lain terkait Pemilu, seperti warga yang tidak mendapatkan surat panggilan untuk mencoblos ataupun masalah lain yang terjadi di tingkat bawah dalam kaitannya dengan Pemilu.

Dosen STPM Santa Ursula, Ende, Elias Djima mengatakan hal itu dalam diskusi publik yang diselenggarakan oleh RRI Ende, Jumat (8/2/2019) di Studio RRI Ende.

Dalam diskusi dengan topik Peran Pers Mewujudkan Pemilu Damai 2019, Elias mengatakan bahwa berbagai event politik tidak lepas dari keberadaan media atau pers karena memang pers dibutuhkan keberadaannya.

Dalam Pemilu, pers tentu tidak sekadar memberitakan, tapi juga harus berani memberikan kritikan-kritikan sosial yang sifatnya membangun sehingga terjadi perubahan pola pikir dan tindakan dari para pengambil kebijakan, baik pemerintah maupun penyelenggara Pemilu serta pengawas Pemilu.

Pers, ujar Elias, tidak hanya indepeden dalam melakukan proses liputan Pemilu, tapi juga harus punya integritas serta tidak tendesius.

Ahok Resmi Masuk PDIP, Begini Reaksi Tim Kampanye Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi Jawa Timur

Renungan Harian Katolik 9 Februari 2019 Markus 6: 30-34, Evaluasi Kerja dan Keheningan

Ramalan Zodiak Sabtu 9 Februari 2019, Pisces Konflik, Leo Jangan Keras Kepala

Dalam diskusi spesial menyambut Hari Pers tersebut, Elias mengatakan bahwa seorang pekerja media jangan sampai menjadi tim sukses peserta Pemilu. Kalau ingin menjadi tim sukses, maka yang bersangkutan harus melepas semua identitas diri yang terkait dengan pers sehingga yang bersangkutan benar-benar total menjadi tim sukses.

Narasumber lainnya, Philipus Kami dari Komunitas Adat Nusantara mengatakan bahwa saat ini pers memang sudah memberikan porsi yang cukup dalam pemberitaan terkait adat dan budaya masyarakat, khususnya di Kabupaten Ende dan NTT.

Hal itu, menurutnya, sangat positif karena pers bisa membangkitkan kesadaran publik akan pentingnya budaya terutama budaya lokal NTT ataupun Kabupaten Ende secara khusus.

Philipus mengharapkan keberadaan pers hendaknya tidak diintervensi oleh berbagai kepentingan yang pada akhirnya justru merusak independensi dan intergritas pers itu sendiri.

Pater Amandus Klau SVD sebagai praktisi pers mengatakan, banyak harapan yang diberikan publik kepada pers dan hal itu semestinya disadari oleh pekerja pers karena pekerja pers bukan untuk menyenangkan pejabat tertentu, namun untuk kepentingan publik.

“Pers hadir untuk kepentingan publik, bukan untuk kepentingan diri atau kelompok, maka pers wajib menyuarakan kepentingan publik,” kata Pater Amandus.

Melki Boi Mau selaku Kepala Seksi Pemberitaan RRI Ende mengatakan, meskipun RRI adalah media yang erat kaitannya dengan pemerintah, namun RRI tetap independen dalam pemberitaan, termasuk mengkritisi apabila ada kebijakan pemerintah yang dinilai menyimpang.

Hadir dalam diskusi itu para wartawan yang ada di Ende, juga Dirut Pusam Indonesia, Casimirus Bara Bheri, SH. (*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved