Berita Imajinasi
Puisi-Puisi Minggi Pos Kupang
Hujan di matamu jatuh setelah landai pipimu kian teduh menampung segala hasrat yang ingin ditulis.
Penulis: PosKupang | Editor: Apolonia Matilde
Puisi-Puisi Yurgo Purab
Jingga
Kemarin mendung di matamu menetas setelah rindu menumpuk di dada. Hujan di matamu jatuh setelah landai pipimu kian teduh menampung segala hasrat yang ingin ditulis. Hujan adalah kenangan di mana kau menulis garis-garis yang jatuh dari langit seperti panah. Seperti panah yang menikam jantungmu, seperti rindu yang mendedah hati. Kau tak membuatku betah dan lari pulang. Kau membuatku jadi hujan yang tak ingin pulang setelah jatuh di landai tanah. Kau tak akan menemukan aku sebagai hujan yang datang bulan Maret lalu.
Perempuan yang Berkarang di Musim Hujan
Perempuan yang berkarang di musim hujan
Ia dapati sisa langit merah masih sepi
Sesekali ia menggali harapan di dasar kenangan
Yang terbenam di dalam hati
Laut amat jinak
Setelah dilumat angin taufan
Ia dapati hidupnya karam
Sambil menadah harapan
Saat malam begitu kelam
(Hinga-Adonara 2019)
Melipat Kenangan
Setiap cinta ditanak dalam doa
Di pupuk dalam rindu
Dan dikekalkan di atas altar
Mungkin segala serba rumit
Dari rasa yang kian menggamit
Setelah sekian waktu kita mengkerut
Diterpa cinta berlarut-larut
Ibu yang duduk kalut
Melihat kita amat kolot
Mencintai tak hanya butuh kulit
Dari rasa yang bergetar kuat
(Hinga, 2019)
(Yurgo Purab, Penulis Buku Puisi "Tungku Kata". Tinggal di Hinga-Adonara).
Puisi-Puisi Sony Kelen
Surat Cinta Untuk Adonai
Aku mencintaimu kekasih
Seperti manisan yang di lidah
Yang menjadikannya tiada
Aku mencintaimu kekasih
Seperti rangkaian kata-kata
Yang menjadikanya puisi
Aku mencintaimu kekasih
Seperti payung yang di peluk hujan
Yang menjadikanya basah
(barangkali mencintai TUHAN
Adalah nyanyian puisi rindu
Yang menjelma menjadi sebuah kerinduan yang
tumbuh di hati yang tidak bisa kau bunuh)
Puella
Pada manik-manik wajahmu
Bermekar setangkai mawar milik Eva
Bibirmu yang lepas seperti pelangi ditumbuhi setangkai mawar
Milik gadis darah Nazareth
Kau menjelma pada diri ibuku
Menggenapi firman Tuhan
"beranak cuculah dan bertambah banyak
penuhilah muka bumi"
Ratu Perdamaian
Senyum...
Menyapa rindu beraduk gunda
Menyapa sobat mesti tak dikenal
Menyabut sahabat tak sedarah
Merajuk kasih walau tak bertali
Senyum...
Ramah tak sebanding ucapan "Selamat hari raya Natal"
sejuk tak sesejuk ucapan "Selamat Tahun Baru"
Santun tak sesantun ucapan "Semoga harimu berimbun rahmat"
Senyum...
Itu sejuk tak sesejuk embun di pagi yang masih buta
Indah tak sebanding tembang penyair kuno dari Lebanon
Harum tak serupa MUR sang raja dari Timur
Senyum melampaui segala unsur berwujud
Tak ada kata yang mampu berkata-kata
Sebab hanya hati yang bisa memberi jawaban
"Mengapa hanya senyum dapat dibilang manis dan membawa damai...?"
Senyum
Ratu perdamaian
Raja persatuan
(Quiot, Cebu, 05/1/2019)
Sang Pujaan Hati
Sang pujaan hati yang selalu ku nanti
Tak henti bertati mengejar meski tak berarti
Bagimu kasih sang pujaan hati
Meski tak jarang aku meranjang di tepi jalan
Terkapar karena hempasan angin yang bertiup tak pelan
Aku tetap berjalan
Menata remah yang sempat jatuh di waktu mentari melangit
Merias harap walau berakhir tragis dan sengit
Sang pujaan hati...
Laksana mentari kau hadir di relung hati
Laksana rembulan di atas bukit gersang ini
Kau ada dan selalu ada di sisi
Tak sekali tampik rasa ini
Dan terus menanti
Mesti kau tak memujaku sang penjaga hati
Tapi aku ini sang penanti sejati
Hingga senja di telan bumi
Sang pujaan hati...
Hariku tinggal sedetik lagi
Ruah dan kasih kugantungkan pada langit pekat ini
Meski kau tak peduli padaku lagi
Aku bahagia walau rintik datang tak henti
Karena pernah menjadi penjaga hati
(Cebu, Filipina, 10/9/2018)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/puisi-edisi-minggu-pos-kupang2.jpg)