Breaking News

Opini Pos Kupang

Menakar Optimisme Tahun 2019

Optimisme menjadi kekuatan pengharapan dan sikap positif dalam memasuki tahun baru. Sementara itu peringatan

Editor: Dion DB Putra
TribunStyle.com/ chinesenewyear2019.org
ilustrasi 

Oleh RD Maxi Un Bria
Pimpinan Tahun Diakonat Keuskupan Agung Kupang

"Omnia sint fausta et prospera; semoga semua sejahtera dan maju" (Provebia Latina)

POS-KUPANG.COM - Presiden Joko Widodo jelang akhir tahun 2018 memberikan pesan kepada segenap rakyat Indonesia agar mengedepankan optimisme dan meninggalkan individualiasme.

Optimisme menjadi kekuatan pengharapan dan sikap positif dalam memasuki tahun baru. Sementara itu peringatan untuk meninggalkan individualisme menjadi penting karena sikap yang hanya terfokus kepada kepentingan diri tanpa peduli terhadap kepentingan dan keselamatan banyak orang dapat menghancurkan pengharapan dan membawa penderitaan bagi perjalanan bidup bersama baik sebagai komunitas, keluarga dan bangsa.

Kita memang harus selalu optimis. Sebab tanpa optimisme, hidup menjadi hambar. Hidup berada dalam bayang-bayang ketakutan, kegagalan, kegelisahan, kegalauan dan ketidakberdayaan.

Bukan Cuma Foto & Video Syur, Brigpol DW Dipecat Karena Ketahuan Check in dengan Dua Perwira Polisi

Sekali Kencan dengan Artis VA Tarifnya Rp 80 Juta

3 Zodiak ini Diprediksi Bakal Beruntung di Bulan Januari: Cancer Bakal Dilamar Kekasih?

Jungkook BTS Terciduk Liburan Bersama Sang Kakak, Intip Foto-foto Kerennya!

Sebaliknya bila kita hidup dengan optimisme yang tinggi, hidup menjadi sungguh-sungguh hidup. Ada energi baru dan antusiasme yang besar dalam beraktivitas dan berkreasi menuju masa depan dengan penuh percaya diri.

Optimisme dapat menginspirasi dan menggerakkan setiap orang untuk berbuat sesuatu yang berguna dan bermakna bagi kepentingan banyak orang. Optimisme melawan segala sikap pesimistis dan memberi ruang serta kesempatan bagi terbangunnya sinergitas dan kolaborasi inklusif dalam gerak pembangunan bangsa.

Tantangan terbesar kita hari ini adalah individualisme yang memicu dan menghantam sendi-sendi kehidupan bersama baik dalam hidup bergereja, bermasyarakat dan bernegara. Individualisme menjadi badai yang terus menerpa simpul-simpul kehidupan bersama.

Betapa tidak, sebagai contoh kecil bila kita hadir dan saksikan setiap perayaan publik, ada sebagian orang asyik bermain handphone dan sibuk dengan dirinya sendiri.

Mereka kurang fokus memberikan perhatian pada esensi kegiatan serta sesama yang duduk berdampingan. Ternyata sarana komunikasi handphone telah merampas dan mengalihkan perhatian begitu banyak orang terhadap esensi kegiatan dan keberadaan sesama. Seolah-olah handphone mendekatkatkan yang jauh tetapi telah mengasingkan yang terdekat.

Masih tentang individualisme, pada momentum akhir tahun sebagian anak muda dan remaja merayakan pergantian tahun dengan bermain kembang api dengan dentuman bunyi yang keras sepanjang malam tanpa peduli tetangga dan para lansia yang sakit dan butuh ketenangan.

Juga beberapa kecelakaan lalulintas di jalan raya jelang akhir tahun dan tahun baru menjadi contoh bagaimana orang tidak berpikir jauh tentang keselamatan dan kehati-hatian di jalan umum. Kepentingan individu lebih diutamakan daripada kepentingan dan keselamatan banyak orang.

Mirisnya ada sopir angkuatan umum yang berani mengonsumsi alkohol dengan jumlah yang tinggi tanpa peduli dampaknya bagi keseimbangan diri dan terutama keselamatan saat mengenderai mobil yang mengangkut banyak penumpang. Bahkan ada segelintir orang yang berani dan tega menyebarkan berita hoax dengan tujuan menghancurkan persatuan bangsa dan komunitas serta merusak toleransi dan harmonitas hidup bersama.

Indonesia hari ini berhadapan dengan individualisme sebagai tantangan dalam pembangunan bangsa. Individualisme menjadi momok bagi perkembangan dan pemberdayaan pembangunan yang bersinergi dan kolaboratif. Individualisme dapat menghancurkan kebersamaan dan kerja sama inklusif.

Namun individualisme dapat diperangi dengan membangun kesadaran hidup yang tinggi. Ilmu-ilmu peradaban sosial menegaskan bahwa kekuatan manusia yang berdaya ada pada kemampuannya untuk mengembangkan dan mengelola intelektualitas, perasaan dan emosi, kemauan, mimpi besar dan perilaku yang benar dan baik sebagai manusia.

Dengan membangun dan mengembangkan intelektualitas yang benar, manusia secara sadar dan kritis dapat membuat pilihan-pilihan hidup yang berguna dan bermanfaat sebagai insan yang berbudi.

Kemampuan manusia dalam mengembangkan intelektualitasnya ikut memberi dampak bagi perkembangan peradaban dalam dunia serta terbangunnya sikap-sikap manusia yang sadar, peduli dan kontributif bagi kepentingan hidup bersama, bergereja dan berbangsa.

Kemampuan setiap individu dalam mengelola perasaan dan emosi secara bijaksana dapat memberi manfaat yang positif dalam memelihara keberlangsungan hidup yang harmonis dan damai.

Selanjutnya kondisi damai memungkinkan manusia berjuang mewujudkan impiannya menjadi insan yang bahagia, mandiri dan sejahtera . Perwujudan cita-cita manusia ikut ditentukan oleh kemauan yang kuat dan perilaku serta karakater yang baik dalam bersosialisasi membangun kebersamaan yang bersinergi.

Optimistis dan Kerja sama Inklusif

Gubernur Provinsi NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dalam Pesan Natal pada Perayaan Natal Ekumene yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Kupang, Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), dedominasi Kristen lainnya bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur di Gereja Kaisarea Kolhua-Kupang (4 Januari 2019) menegaskan pentingnya optimisme dalam memerangi kemiskinan dengan bekerja secara inklusif melibat berbagai elemen masyarakat, utamanya kerja sama kolaboratif antara Gereja dan pemerintah agar mampu melahirkan manusia-manusia yang cerdas dan kaya.

Optimisme untuk bangkit dan bekerjasama secara inklusif dalam pembangunan dapat menjadi kekuatan dan harapan baru serta gerakan bersama dalam memerangi kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Semoga tahun 2019 yang kita jalani saat ini, memberikan optimisme besar yang memberi perhatian, ruang dan anggaran yang memadai untuk pengembangan sumber daya manusia Provinsi NTT. Agar menghasilkan manusia NTT yang memiliki kapasitas, kapabilitas dan kecerdasan yang tinggi, yang mampu berpartisipasi mengisi pembangunan secara benar, bermutu dan bermartabat.

Kita berharap perpaduan antara kecerdasan iman, ilmu dan budaya mampu menciptakan manusia-manusia yang cerdas dan berkarakter, yang tidak saja memikirkan tentang kepentingan dirinya sendiri tetapi serius merefleksikan kehadiran diri, pekerjaan dan pelayanan berkaitan dengan planet dan penghuninya, properti, partnership -kerjasama bersinergi dan kolaboratif, keutuhan ekologi serta hidup bersama secara damai (peace), sebagai panggilan dan tanggungjawab bersama secara berkelanjutan.

Perayaan Natal Ekumene 2018 dan Tahun Baru 2019 yang dirayakan umat Kristiani semoga menjadi anugerah istimewa untuk membangun optimisme dan kekuatan baru dalam mengisi pembangunan dan memaknai ziarah kehidupan sebagai insan-insan yang memiliki kepedulian terhadap kepentingan hidup bersama, baik dalam tatanan hidup bergereja dan berbangsa.

Sudah sejauhmana kita berupaya memaknai kehadirin diri dan peran masing -masing dalam memberikan kontribusi bagi kemajuan bunum commune dan melayani kepentingan umum? *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved