Berita Kabupaten Nagekeo Terkini

Gelas Bambu dan Wati, Kearifan Lokal Nagekeo untuk Kurangi Sampah Plastik

Gelas bambu dan Wati, kearifan lokal Nagekeo untuk mengurangi sampah plastik

Gelas Bambu dan Wati, Kearifan Lokal Nagekeo untuk Kurangi Sampah Plastik
KOMPAS.com/MARKUS MAKUR
Dari kiri ke kanan. Salah seorang perajin wadah Wati, Istri Bupati Nagekeo, Uskup Agung Ende, Mgr Vinsensius Potokotta, Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja dan Ketua DPRD NTT, Anwar Pua Geno, Kamis (27/12/2018), memegang wadah wati dan gelas bambu sebagai tempat untuk konsumi pangan lokal khas Nagekeo seusai misa perutusan Bupati dan Wakil Bupati terpilih. 

Gelas bambu dan Wati, kearifan lokal Nagekeo untuk mengurangi sampah plastik

POS-KUPANG.COM | MBAY -  Pemakaian bahan plastik di berbagai kebutuhan hidup rumah tangga memberikan dampak berbahaya bagi kesehatan dan alam semesta. Produk-produk hasil olahan pabrik yang berbahan plastik mampu merusakan keberlangsungan dan keberlanjutan lingkungan hidup.

Indonesia termasuk salah satu Negara di dunia yang memiliki masalah sampah plastik terbesar. Perabot rumah tangga yang berbahan plastik dapat merusak lingkungan hidup. Bahan-bahan plastik merusakan tanah. Dan ini menjadi masalah terbesar dialami Bangsa Indonesia.

Para pemerhati dan pekerja lembaga swadaya masyarakat (LSM) selalu menyoroti pemerintah terhadap masalah sampah plastik. Banyak cara yang dilakukan pemerintah bersama dengan lembaga swasta untuk mengatasi masalah sampah plastik serta bahan plastik. Kawasan darat dan laut selalu bertumpuk masalah sampah plastik yang sulit diatasi.

Kemensos Verifikasi Data Korban Tsunami untuk Santunan Ahli Waris

Botol, gelas air minum kemasan yang berbahan plastik harus didaur ulang oleh berbagai pihak yang fokus mengatasi sampah plastik.

Lembaga-lembaga Internasil dan wisatawan asing dan nusantara selalu memperbincangkan sampah plasti di obyek wisata yang merusak lingkungan. Mendaur ulang sampah plastik belum bisa mengatasi sampah plastik. Dan kebiasaan warga yang membuang sampah plastik di sembarangan tempat, baik pinggir jalan raya, lingkungan rumah dan alam terbuka mampu merusak lingkungan.

Upaya Konservasi Mewujudkan Ketahanan Air dan Kedaulatan Pangan

Berangkat dari sulit mengatasi sampah plastik di Pulau Flores umumnya dan di Kabupaten Nagekeo khususnya, maka Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do dan Wakil Bupatinya, Marianus Waja yang dilantik Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Bungtilu Laiskodat, Minggu (23/12/2018) memiliki konsep dan program untuk mengatasi masalah sampah plastik.

Gerakan kebangkitan produksi lokal selama lima tahun ke depan.

Salah satu yang dikembangkan oleh pemimpin baru Nagekeo itu dengan memakai produk-produk lokal yang dianyam oleh rakyatnya dan bahannya berasal dari alam Nagekeo.

Bahan-bahan yang bersumber dari alam Nagekeo sangat ramah lingkungan. Bahannya berasal daun lontar serta bambu yang dianyam oleh kaum perempuan dan laki-laki yang bersumber dari alam Nagekeo.

Dimulai dari wadah untuk makan yang disebut “wati” dan tempat minum dari bambu. Ini menggantikan pemakaian piring plastik yang berasal pabrik.

Selama ini apabila rakyat Nagekeo membeli gelas plastik, piring plastik dan mangkok kaca dan alumenium untuk tempat makan serta minuman kemasan yang berbahan plastik maka uang rakyat Nagekeo kembali ke pemilik pabrik dan rakyat Nagekeo hanya memperoleh tumpukan sampah plastiknya.

Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo di era kepemimpinan selama lima tahun kedepan, maka uang rakyat dan uang pemerintah harus berputar di seluruh kampung dengan membeli bahan-bahan yang ramah lingkungan yang berasal dari alam Nagekeo.  (Kompas.com)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved