Parodi Situasi
Anak Kita
Cap orang kita emosional dan suka baku hantam, dikurangi dan dihilangkan sama sekali. Diganti dengan anak
Oleh Maria Matildis Banda
POS-KUPANG.COM - Benar ataupun tidak benar kasus perkelahian anak-anak kita dengan pemuda di rantau orang itu, patut dibahas secara serius. Supaya tidak terjadi lagi.
Cap orang kita emosional dan suka baku hantam, dikurangi dan dihilangkan sama sekali. Diganti dengan anak kita atau pemuda kita itu sabar, ramah, suka menolong, dan berpikir baik-baik sebelum bertindak!
***
"Mau pikir apa? Sudah minum mabuk?"
"Ubah image suka minum mabuk menjadi suka menolong!"
• Tonton Laga Liverpool vs Manchester United, Southampton vs Arsenal Pukul 22.30 WIB
• Ramalan Zodiak Senin 17 Desember 2018, Pisces Waspadalah, Pengkhianatan dari Orang Terdekat
• V Nangis Dengar BTS Sempat akan Bubar, Ternyata Pemerintah Korsel Pernah Dapat Petisi Pembubaran BTS
"Suka cari tenar dengan berkelahi!"
"Ubah image suka berkelahi menjadi sabar dan suka menolong!"
"Suka pesta sampai pagi, musik, dansa, dan hantam!"
"Siapa bilang?"
"Rasa bangga sekali kalau sudah bakalai!"
"Bangga sekali kalau ditangkap polisi!"
"Tidak kasihan kamu punya mama kah?" tanya Nona Mia. "Mama tidak bisa tidur karena ingat kelakuan kamu-kamu yang suka buat onar dan bikin malu keluarga saja."
"Ya, mau bagaimana lagi?"
"Ubah semua. Jangan lagi pesta sampai pagi, kecilkan suara musik, kurangi minum-minum, dan jangan mabuk, apalagi baku hantam! Belajar untuk tenang!"
"Memang kamu kira gampang? Mana mungkin!"
"Gampang dan terlalu mungkin!" kata Nona Mia lagi. "Kita bisa berubah!"
***
Rara malas tahu. Menurutnya berkelahi itu harus! Apalagi kalau ada yang memancing. Tetapi kali ini dirinya was-was dengan apa yang terjadi. Maklum! Baru saja dia tiba di Jakarta. Tepatnya sebelum tiba dia sudah diberi peringatan keras untuk hati-hati!
Mengapa? Karena ada kasus anak-anak kita berkelahi. Infonya, perkelahian itu sampai meninggalkan korban tewas. Balas dendam itu mungkin terjadi.
"Memangnya siapa yang bakulai?" tanya Rara dengan cemas. "Natal dua bulan lagi. Bagaimana saya bisa tenang jalan keliling pusat perbelanjaan di Jakarta?"
"Baku hantam antara siapa dan siapa lai?"
"Lihat saja berita yang beredar. Sudah ada ancaman nyawa dibayar nyawa!" kata Benza dengan mimik wajah khawatir sekaligus kecewa. "Serius sekali!"
"Oh, yang di Banten kah? Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa yang bisa menimbulkan masalah lebih besar lagi." Wajah Nona Mia tampak pucat karena terlalu mencemaskan kasus, yang dia sendiri tidak mengerti! Apakah berita itu benar atau tidak benar!
"Kenapa ya kita punya anak-anak ini terkenal dengan baku hantam, ribut, buat masalah. Ditambah lagi dengan pesta sampai pagi, musik keras, dan mengganggu tetangga. Tidak peduli di kampung sendiri atau di rantau orang," Rara mengeluh. "Sekarang saya yang jadi susah!"
"Mudah-mudahan berita ini tidak benar!"
***
"Benar ataupun tidak benar. Kasus seperti ini harus segara dihentikan. Cukup sudah! Hidup ini sudah susah. Setiap kita berjuang sendiri untuk menjadikan hidup yang susah ini menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kita wajib dan berhak menolong diri sendiri untuk berubah dan menjadi lebih baik," demikian kata Benza dengan yakin.
"Ya! Kita mesti menjadi pelopor untuk perubahan. Anak-anak kita, anak-anak NTT yang berjuang, bekerja keras meraih masa depan," kata Nona Mia.
"Di mana pun kita berada, apapun pekerjaan kita, jadilah yang terbaik. Jika kita tidak bisa pulang ke kampung kita di NTT, cukup kirim pulang itu nama baik!"
"Oh, Jaki ditangkap!" suara Rara tidak membuat Benza dan Nona Mia terkejut karena sudah diduga sebelumnya. Biang kerok perkelahian itu akan diseret pihak berwajib.
"Bagaimana kita menolong Jaki?" Rara kebingungan.
"Biar saja! Biar dia bertanggung jawab pada perbuatannya!" kata Benza.
***
"Dia anak kita! Harus ditolong!" Rara tambah bingun memikirkan Jaki.
"Proses hukum itu juga bagian dari menolong!" sambung Benza. "Supaya tidak terjadi lagi. Supaya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa kekerasan itu bukan jalan keluar!"
"Tolonglah! Dia anak kita!" kata Rara lagi.
"Pasti ditolong!" kata Benza. "Untuk hadapi proses hukum. Bertanggung jawab. Karena mereka anak-anak kita!" (*)
* Parodi Situasi adalah kolom Maria Matildis Banda yang terbit pada setiap edisi Minggu Pos Kupang cetak. Penulis mengungkap fakta sosial dengan gaya parodi yang menyentil reflektif .
* Maria Matildis Banda adalah sastrawan asal Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang tergolong produktif. Dia sudah menghasilkan banyak karya cerpen, cerbung dan novel. Sehari-hari Maria merupakan staf pengajar pada Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, Bali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/balita-1_20180523_082323.jpg)