Berita Kabupaten Sikka

Ternyata Ini Syarat Sekolah Binaan NTA di Sikka

Beruntung 17 sekolah, SD-SMP di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat pendampingan langsung dari NTA

Ternyata Ini  Syarat  Sekolah  Binaan  NTA  di  Sikka
POS KUPANG/EUGINIUS MO'A
Salah satu tarian adat Sikka di Pulau Flores, Propinsi NTT. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Euginius Mo’a

POS-KUPANG.COM|MAUMERE--- Beruntung   17 sekolah,  SD-SMP  di  Kabupaten  Sikka,  Pulau  Flores, Propinsi Nusa Tenggara  Timur  (NTT) mendapat pendampingan langsung dari Nusa  Tenggara Association (NTA) dengan Yayasan Pengembangan Masyarakat Flores (YPFM).

“Sekolah  yang dibina  NTAh diseleksi.  Kriteria utamanya  berada di  desa  atau tidak di kota, fasilitas sekolah minim dan  membutuhkan bantuan,” kata  Direktur   NTA  Indonesia,  Ir. Don  Bosco  Meke, kepada  POS-KUPANG.COM, Kamis   (8/11/2018).

Baca: Nilai Hasil Ujian Kompetensi Lelang Jabatan di Matim Sudah Terima dari Pansel. Ini Rinciannya

Baca: Anda Ingin Melakukan Perjalanan Menggunakan Kapal Pelni ? Yuk Simak Jadwalnya

Baca: Pengadilan Negeri Bajawa Eksekusi Lahan Rumah Milik Kornelis Suara Di Mbay

Baca: Yuk Intip! 6 Penampilan Artis Indonesia Saat Belanja di Pasar Tradisional

Baca: Hari Ketiga Ujian CPNS di Nagekeo Hanya Satu Orang yang Lulus, Ini Namanya!

Don menyebut   17  sekolah  binaan   NTA-YPFM yakni   SDK Nangahaledoi, SMPN Kewapante, SD I Watuwekak, SMP St. Paulus Pogon, SDK Watu Kobu, SD I Hoba, SD Gere, SMPK Roberto, SD I Weko, SDN XXXIX Hubing, SDK Tomu, SDI Orin Mude, SDI Moko, SDN Habi Janang, SDK Nangarasong, SDN Sinarbauwunut  dan SDK Wolomude. Mulai   pagi ini, Kamis  (8/11/2018)  utusan  dari   14  (bukan  17)  sekolah ini menggelar festival seni dan  tari  di  SDK Nangarasong, 16 Km arah utara  Kota Maumere.

Festival seni dan  tari, kata  Don,  mengingatkan kepadai seusia  anak SD dan supaya sedini mungkin  mengetahui dan mencintai  budaya lokal yang sudah di lakukan turun temurun oleh masyarakat Sikka khususnya seni tari dan nyanyi agar tidak punah atau hilang.

“Agar  kbudayaan  tidak   tergilas   globalisasi,  harus dipelihara menjadi   aset atau  kekayaan yang tidak dapat dinilai dengan materi,” tandas  Don. (*)

 

 
 

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved