Berita Kota Kupang

Dari Media Gathering OJK Provinsi NTT Ratenggoro, Wekuri dan Mananga Aba Cantik Tapi Terabaikan

Pantai ini cukup cantik. Selain pantai ada Kampung Adat Ratenggoro dengan 12 rumah adat beratap joglo tinggi menjulang

Dari Media Gathering OJK Provinsi NTT Ratenggoro, Wekuri dan Mananga Aba Cantik Tapi Terabaikan
POS KUPANG/ADIANA AHMAD
Danau Wekuri 

Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Adiana Ahmad

POS-KUPANG.COM| KUPANG—Jumat, 2 November 2018, sejumlah pekerja media yang tergabung dan Media Gathering yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Provinsi NTT mendapat kesempatan untuk mengenal Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) melalui sejumlah tempat wisata baik budaya maupun alam. Menggunakan bus milik salah satu sekolah tinggi di daerah itu, sejumlah wartawan meluncur ke tiga tempat wisata.

Berawal dari Pantai Ratenggoro, Desa Maliti Bondoate, Kecamatan Walandimu, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Untuk mencapai pantai itu butuh waktu sekitar  satu setengah jam.  Pantai ini cukup cantik. Selain pantai ada Kampung Adat Ratenggoro dengan 12 rumah adat beratap joglo tinggi menjulang. Belum lagi kuburan megalitik di halaman kampong hingga bibir pantai. Kuburan itu ada yang sudah bertuan, ada yang masih kosong.

Baca: Kisah Sedih yang Mengawali Ketenaran Komentator Cilik Daddy Sopbaba

Baca: Bertin Minta Peserta Ujian SKD CPNS Ikuti Aturan

Baca: BEM STKIP Citra Bakti Ngada Adakan Seminar Sehari, Ini yang Dibahas

Baca: Ketua Sinode GMIT : Wujudkan Keterlibatan Gereja Dalam Persoalan Sosial Masyarakat

Baca: Ketua Sinode GMIT : Wujudkan Keterlibatan Gereja Dalam Persoalan Sosial Masyarakat

Perpaduan keindahan pantai dan rumah adat dengan atap menjulang menjadikan Ratenggoro sebagai salah satu destinasi wisata yang cukup lengkap. Sayang tak ditemukan fasilitas pendukung di sini. Tak ada tempat untuk berteduh, tak ada souvenir, tak ada makanan. Akibatnya, para pengunjung yang berkunjung ke tempat itu hanya sekedar mengabadikan keindahan alamnya tapi tidak memberikan kontribusi apapun bagi masyarakat setempat.        

Ada beberapa warga dengan inisiatif sendiri menawarkan  beberapa produk souvenir seperti Mamuli, perhiasan perempuan sumba yang terbuat dari kulit penyu. Ada juga yang terbuat dari kayu. Namun  karena tidak dikemas secara baik, souvenir itu tidak begitu diminati para wisatawan.  Ada juga music gambus. Lagi-lagi soal kemasan yang membuat music itu menjadi kurang menarik bahkan terkesan mengganggu.

Kembali tentang keindahan Pantai Ratenggoro. Lautnya yang masih jernih dengan hamparan pasir putih menjadikan Ratenggoro sebagai destinasi cukup menjanjikan di masa depan. Di tempat ini anda juga bisa menunggang kuda menyusuri Pantai Ratenggoro dan Kampung Adat Ratenggoro hanya dengan membayar Rp 50.000,00.

Seorang warga bernama Thomas Tariwungo menuturkan, Kampung Ratenggoro  terdiri dari 12 rumah yang dihuni 12 keluarga. Kampung itu hingga kini masih dipelihara keasliannya. Seluruh bahan yang digunakan seperti kayu dan bamboo berasal dari alam. Atapnya menggunakan rumbia dan bangunan berbentuk panggung dengan tiga susun ruang. Pertama, teras, pendopo dan ruang utama.  

Bagi pecinta kain tenunan Sumba, di sini anda bisa temukan pilihan warna dan motif kain Sumba dengan harga bervariasi.

Baca: Anggota Pos Maubusa Perbaiki Gubuk Warga Belu

Baca: Petani di Kupang Senang dengan Bantuan P3-TGAI

Itu tentang Pantai dan Kampung Ratenggoro. Dari Ratenggoro, kita menuju Wekuri. Di sini bukan pantainya yang menjadi daya tarik. Tapi danau air asin dengan air yang cukup jernih. Para pengunjung bisa menghabiskan waktu untuk mandi di danau asin ini. Dibandingkan dengan Ratenggoro, Wekuri lebih baik. Di Wekuri sudah ada jalan – jalan setapak dari rabat beton  dan jembatan penyeberangan yang memudahkan para wisatawan untuk mengeksplore setiap sudut dari tempat wisata itu. Juga ada sebuah bangunan lopo  dengan luas sekitar 5x7 meter per segi. Sudah ada toilet dan kamar mandi. Meski persediaan air bersih terbatas dan belum ada listrik.

 Di sana sudah ada pedagang local yang menyiapkan makanan dan minuman meski hanya sekedar mie rebus, kopi dan kelapa muda. Ada juga kain sumba dengan harga cukup terjangkau. Mulai dari Rp 200.000,00 per lembar hingga Rp 450.000,00 per lembar.

Dari Mananga Abad an Wekuri, kita jalan-jalan ke Mananga Aba, Pantai Pasir Putih dengan panjang sejauh mata memandang. Di lokasi ini memang sudah ada hotel dan restoran. Ada juga lopo-lopo. Hanya saja tak ada fasilitas pendukung lainnya. Akibatnya membuat pengunjung jenuh. Lagi-lagi soal kemasan. Belum lagi keterbatasan informasi tentang lokasi-lokasi wisata yang ada di daerah itu. (*)

 

Penulis: Adiana Ahmad
Editor: Rosalina Woso
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved