Berita Ekonomi Bisnis
Ada Harapan di Beranda NKRI
Wilayah Oepoli merupakan wilayah terdepan karena berbatasan dengan Oekusi yang merupakan daerah Timor Leste
Penulis: Hermina Pello | Editor: Hermina Pello
Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Hermina Pello
POS-KUPANG.COM | KUPANG- Oepoli, daerah di wilayah Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang sebenarnya tidak jauh letaknya.
Hanya sekitar 181 kilometer dari Kota Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Namun, tak sedekat itu waktu tempuhnya ke beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.
Di pagi itu, Jumat (5/10/2018) di halaman Kantor PT PLN Kupang, Pelaksana Harian General Manager PT PLN Unit Induk Wilayah NTT, Yonal Mirza selaku Senior Manajer PLN NTT melepas rombongan Press Tour.
Dengan menumpang empat unit mobil Mitsubishi, rombongan wartawan dan sejumlah pegawai PT PLN ini dilepas ke wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste, tepatnya ke wilayah Oepoli.

Perjalanan mulus diatas jalan aspal hanya dinikmati kurang lebih 76 kilometer.
Selebihnya, sekitar 105 kilometer jalanan tanpa aspal harus kami tempuh.
Kondisi ini diperparah dengan 54 aliran sungai atau kali dengan lebar bisa mencapai 300 meter dan tanpa jembatan penyeberangan harus dilewati sepanjang perjalanan.
Sebagian ruas jalan yang dilalui terdiri dari batu-batu lepas diselingi tanjakan tajam bahkan turunan yang cukup ekstrem serta kondisi tanah yang tidak padat sehingga debu beterbangan dan jarak pandang sangat pendek.
Penumpang tidak bisa ‘duduk manis’. Harus berpegang kuat pada bagian kendaraan karena harus mengalami sejumlah goncangan, miring kiri kanan, bahkan tiba-tiba pantat terangkat dari tempat duduk.
Seperti sedang berdisko tanpa musik. Sudah begitu, harus ‘makan’ debu. Tubuh pun terasa remuk.

Kondisi jalan ini membuat waktu tempuh menjadi cukup lama.
Meski berjarak hanya sekitar 181 kilometer, perjalanan ini harus ditempuh sekitar 7 jam menggunakan mobil.
Ini pun, masih untung karena perjalanan ini dilakukan saat musim kemarau, tutur sopir mobil yang saya tumpangi.