Berita Kabupaten Malaka
Prosesi Patung Maria di Dekenat Malaka! Sejak 1958 Arca Maria Diarak dari Paroki ke Paroki
Nyanyian berirama tebe khas Malaka terdengar dari kejauhan. Suara mereka nyaring dalam radius sekitar satu kilometer. Lagu-lagu tebe
Penulis: Paul Burin | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Wartawan Pos Kupang.com, Paul Burin
Pesannya ialah bagaimana setiap umat menjadi besar dan terdahulu menurut takaran Tuhan. Bukan sebaliknya menakar kebesaran melalui cara berpikir insani yang kadang terlampau kecil dalam menangkap keinginan atau kemauan Tuhan yang besar.
MENJELANG rembang malam. Nyanyian berirama tebe khas Malaka terdengar dari kejauhan. Suara mereka nyaring dalam radius sekitar satu kilometer. Lagu-lagu tebe itu sebagai eskpresi atau ungkapan kegembiraan umat di pusat Paroki Santu Laurensius Wemasa, Keuskupan Atambua.
Pusat paroki ini terletak di Desa Litamali, Kecamatan Kobalima berjarak 18 kilometer dari Betun, Ibukota Kabupaten Malaka.
Nyanyian tebe biasanya diikuti dengan tarian.
Sudah beberapa malam patung bunda itu ditahtakan di sini. Selama itu pula umat memadati tempat itu untuk berdoa dan memberikan penghormatan secara khusus. Ada pula umat yang memilih bermalam bersamanya.
Lalu, beberapa jam sebelum diberangkatkan ke Desa Rainawe setelah sebelumnya dari Desa Sisi, umat berkumpul kembali untuk mendaraskan doa. Lagu-lagu bertema Maria terus mereka senandungkan bersama.
Pada wajahmu yang suci/Matamu tampak bening sejuk lembut/Kau pandang pada abdimu berdoa/Oh Bunda pembantu abadi, dan seterusnya. Lagu karya Frater Albert Thius (almarhum) asal Noemuti, Timor Tengah Utara (TTU), ini tak putus-putus dinyanyikan oleh umat setempat sebagai kidung pemungkas. Beberapa perempuan tampak menitikkan air mata.
Umat merasa sungguh dekat dengannya. Sebab ia bunda yang selalu menolong. Bunda yang selalu memberi perhatian dalam setiap kesempatan. "Kami sedih karena bunda akan meninggalkan kampung kami," kata Linda Manek, seorang perempuan yang mengenakan kain tais dan berbaju kaus oblong berwarna putih, Sabtu (15/9/2019) sore itu.
Linda, perempuan paruh baya yang tinggal di Kota Betun, ini merasa beruntung karena bisa hadir di kampung itu. Hari itu Linda terdorong datang ke Desa Litamali untuk menemui bunda. Ia ingin menyampaikan permintaan khusus untuk sebuah ujut atau ikhtiar.
Sedangkan Antonio Sarmento, seorang pemuda yang tinggal di Kota Betun yang sore itu mengikuti prosesi ini terus menatap bunda ketika hendak diberangkatkan ke desa tetangga. Sembari mengatupkan dua tangannya ia berdoa, "Bunda, tolong jaga kami, Terima kasih bunda," katanya dengan lirih.
Begitu pula Lodovikus Besa yang hari-hari sebagai sopir di paroki ini memberi "testimoni" yang sama. Lodofikus mengatakan, hadirnya patung Bunda Maria di pusat paroki itu dapat mengibur seluruh umat. Sebab selama ini mereka merindukan kedatangannya. Ketika tiap dua tahun patung bunda datang dan umat mengantarnya, mereka selalu berharap pada dua tahun kemudian ia datang lagi.
Ungkapan hati Linda, Antonio dan Lodovikus itu merupakan ekspresi keterwakilan hati seluruh umat di paroki itu. Sebelum patung bunda dilepas, Pastor Paroki Santo Laurensius, Romo Dominggus Kabosu, Pr, membawakan doa dan memberi berkat kepada umat. Pastor berambut panjang ini menatap lepas lambang bunda itu sembari menyampaikan terima kasih atas kedatangan di paroki itu.
Usai berdoa, beberapa pemuda bersiaga di samping kiri dan kanan untuk memikulnya. Sembari berjalan para lelaki yang rata-rata adalah Orang Muda Katolik (OMK) memberi isyarat kepada umat lain untuk berarak dalam barisan yang rapi. Spontan barisan itu terbentuk dalam hitungan menit saja. Debu yang beterbangan tak menyurutkan semangat mereka untuk berarak dari depan maupun belakang patung.
Perjalanan ke Kampung Rainawe sejauh empat kilometer ditempuh sekitar dua jam lebih. Perarakan tak boleh terburu- buru. Langgamnya diatur lambat. Di situlah umat memberi hormat tiada henti kepadanya. Mereka berdoa, bernyanyi dan berdoa. Jalanan menjadi padat. Tak ada kendaraan baik roda dua maupun empat yang melewati ruas jalan itu karena space sudah tak ada lagi.
Suasana yang sama dilakukan Romo Erlando Afoan, Pr, pastor rekan di Paroki Seon yang menggelar misa sebelum melepas perarakan patung bunda menuju Kusa, Malaka Timur, Minggu (23/9/2019). Ratusan umat yang menghadiri misa ini khusuk mendengarkan kothbah pastor muda ini.
Romo Lando mengingatkan umat untuk selalu melihat figur Yesus dan Bunda Maria sebagai pribadi yang besar. Pribadi yang menerima tugas dari Tuhan dan menjalaninya dengan penuh syukur dan tanggung jawab. Pesannya ialah bagaimana setiap umat menjadi besar dan terdahulu menurut takaran Tuhan. Bukan sebaliknya menakar kebesaran melalui cara berpikir insani yang kadang masih terlampau kecil untuk menangkap keinginan atau kemauan Tuhan yang jauh lebih besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/patung-bunda-maria-di-malaka_20180926_120815.jpg)