Berita Kabupaten Sikka
Penjabat Bupati Sikka Sabangi Rumah Duka Korban Rabies
Kepergian selamanya EG (5,5) digigit anjing berpenular virus rabies, Minggu (2/9/2018) pukul 07.05 Wita menyentak semua pihak
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Eueginius Mo’a
POS-KUPANG.COM| MAUMERE-- Kepergian selamanya EG (5,5) digigit anjing berpenular virus rabies, Minggu (2/9/2018) pukul 07.05 Wita menyentak semua pihak di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penjabat Bupati Sikka, Drs. Flori Mekeng, Kepala Dinas Kesehatan, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Germanus Goleng, Kepala Dinas Pendapatan Daerah, Servas Serwar, Direktris RSUD dr.T.C.Hillers Maumere, dr.Clara Francis, dan staf dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Sikka ikut melayat ke rumah duku di Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang, Minggu malam.
“Tadi malam kami hadir bersama Penjabat Bupati (Sikka) ke rumah duka di Baomekot,” kata Germanus kepada POS-KUPANG.COM, Senin (3/9/2018) di Maumere.
Menurut Germanus, keluarga menerima kematian ini sebagai kehendak Tuhan. Penjabat hadir untuk menyatakan turut berdukacta dari pemerintah dan masyarakat Sikka.
Staf pengajar Program Studi Kesehatan Hewan Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Dr. Ewaldus Wera, mengingatkan jatuhnya korban jiwa EG (5,5) hari Minggu (2/9/2018) menegaskan kepada warga Kabupaten Sikka dan Pulau Flores bahwa virus rabies itu masih bersirkulasi di antara populasi anjing mengancam generasi penerus Flores.
“Setiap pemilik anjing harus memastikan anjing kesayangannya divaksinasi setiap tahun. Vaksinasi pada anjing selain memberikan kekebalan terhadap anjing juga dapat memutuskan rantai penularan virus rabies kepada manusia,” kata Ewaldus, dihubungiPOS-KUPANG.COM, Senin (3/9/2018).
Doktor Epidemiologi dan Ekonomi Veteriner Wageningen University Belanda, mengaku terkejut jatuhnya korban jiwa. Dia bersama Charlotte Warembourg dari Veterinary Public Health Institute University Of Bern Swiss, baru pekan lalu menyelesaikan riset Dampak Interaksi Anjing terhadap Dampak dan Pengendalian Rabies di Kabupaten Sikka, Pulau Flores.
Penelitian ini kelak mengajikan kembali apakah rekomendasi penanganan rabies masih releven. Penelitian ini juga mengidentifikasi faktor-faktor apa saja dalam interaksi anjing berlangsung seberapa lama terjadi dilakukan di Desa Habi, Kecamatan Kangae untuk wilayah populasi anjing tinggi. Desa Hepang di Kecamatan Lela untuk populasi sedang dan Desa Pogon di Kecamatan Waigete, daerah populasi anjing rendah.
Ewaldus mengatakan, anjing yang diriset dipasang dengan GPS, diambil darahnya, divaksinasi rabies dan mewawancarai pemilik anjing.
Dari riset ini ditemukan 43 persen anjing divaksin dan 94 persen anjing bebas berkeliaran. Tentu saja ini potensial menyebarkan virus rabies.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/anjing-rabies_20180321_140432.jpg)