Cerpen dan Puisi

Berbagi Luka : Cerpen Arysh Dhae

Ia kerap bercucuran air mata setiap kali aku menemukannya. Nuraniku meriak ingin bertanya apa gerangan yang membuatmu menangis?

ilustrasi

Namun, sejak beberapa minggu yang lalu harapanku diguncang sehingga aku tidak mampu lagi lebih optimis tehadap mimpiku itu. Paman telah memutuskan untuk tidak lagi membiayai kuliahku demi memangkas beban ekonomi keluarga. Hidupku rasanya sudah berakhir. Aku tidak tahu ke mana harus kulabuhkan pengharapanku lagi. Aku tidak punya siapa-siapa untuk bersandar lagi; bapak, paman maupun sekolah, rasanya mereka tidak mau memberikan pundaknya bagiku.

Baca: Deretan Atlet Asing yang Jadi Sorotan pada Asian Games 2018

***
Dari pengalamanku, kutahu amat beresiko bila kubiarkan Srinka yang diberondong berbagai pengabaian dari mereka yang mempunyai hak asuh atas dirinya melangkah seorang diri. Kusadari pula bahwa alangkah indah bila seorang yang diabaikan menemukan orang lain yang dilukai oleh masalah yang sama. Karena hanya yang pernah terluka yang dapat memahami orang yang sedang terluka. Sementara itu, aku pun ingin agar Srinka menemukan sahabat bagi jiwanya itu. Maka aku pun mulai membuka catatan lembaran hidupku yang memang setali tiga uang dengan Srinka.
***
Srinka, aku pun pernah disendirikan dan hingga saat aku menemukanmu aku berada dalam kesendirian. Ibuku menyuruhku pergi ke Pulau Besar. Alasan Ibu adalah pendidikan di sana lebih murah dan juga berkualitas. Aku akhirnya pergi dengan mimpi menemukan harta karun yang dipendam dunia pendidikan Pulau Besar itu.

Hari berganti hari aku berjuang untuk menuntaskan kuliahku. Aku datang sebagai minoritas dan kemudian bertemu pemuda-pemuda picik yang berlagak bijaksana. Persatuan mereka anggap keseragaman. Kekhasan individu mereka abaikan, katanya itu demi kolektivitas. Namun, petualanganku untuk menemukan harta karun itu malah memukul dan melempar aku ke dalam alam kesendirian yang mengancing seluruh inderaku. Seiring dengan itu aku makin disudutkan para pemuda picik itu. Hingga akhirnya aku merasa tidak sanggup menghadapi mereka lagi. Aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke Pulau ini dan berpikir untuk melanjutkan studi di tempat ini saja. Saat aku tiba di rumah, keluargaku ternyata tidak mau memahamiku, menurut mereka aku menyia-nyiakan uang ibuku. Mereka memutuskan untuk tidak lagi menyekolahkanku.

Baca: Jusuf Kalla Minta Caleg Unjuk Gigi, Bukan Serang Lawan

Aku tidak bisa mengubah keputusan mereka, tetapi aku pun tidak bisa mengabaikan hasratku untuk menemukan harta karun yang dipendam dunia pendidikan. Maka aku melarikan diri ke kota ini, berguru di Kampus ini sambil bekerja untuk membiayai kuliahku. Kaum kerabatku telah memilih untuk menjauh dariku. Kini aku tertindih oleh amarah mereka dan tercampak ke dalam tubir yang gelap gulita; terpisah dari cinta mereka.
***
Kini kami berangkat ke kampus dengan lebih bergairah. Ada sesuatu di sana yang seakan telah menambatkan hati kami. Di saat kami bertemu mata, kami akan beradu pandang dan masing-masing merasakan pancaran aneh, yang muncul setelah kami saling berbagi kisah, dari dia yang dipandang. Senyum segar terpatri abadi di wajah kami dan rasanya hanya kepada kami berdua bunga yang kembali mekar di awal musim semi itu ditujukan.

Hari ini, tanggal 15 Agustus, hari ulang tahunku. Sepanjang usiaku yang sudah menjelang dua dekade, tanggal ini tidak pernah menyajikan kejutan istimewa bagiku. Satu-satunya kebanggaan karena tanggal lahirku ini adalah aku se-zodiak dengan Napoleon Bonaparte, sang jenderal terbesar Eropa, serta pahlawan dan martir yang agung dari El Salvador, Mgr. Romero. Namun, pagi tadi Srinka mengajakku untuk pergi bersamanya malam nanti. Tentu tujuan kami bukan tempat-tempat maha-istimewa, hanya rumah makan pasar malam. Ini mungkin kejutan bagiku.

Baca: Ini Penyebab Kematian Bintara Polisi yang Tewas Dianiaya Dua Seniornya

***
Malam telah tiba, kami sudah duduk berhadapan di salah satu meja di rumah makan yang kami tuju. "Aporia," panggil Srinka perlahan. Aku menatap padanya, Srinka menarik napas pelan-pelan dan kemudian ia mengulurkan tangannya yang menggenggam suatu kotak kecil. "Kado ulang tahun untukmu," kata Srinka sesaat setelah kuterima kotak itu dari tangannya. Dua untaian kalung dengan liontin berbentuk gabungan huruf A dan S bertakhta di dalamnya. Ah, Srinka, rasaku memang telah tenggelam dalam kelamnya penderitaan yang menyerupai kelamnya malam. Namun, kini di malam yang kelam pula kau mengangkatnya. Aku mengecup keningnya, sesaat ia nampak kaget tetapi serentak pula ia membalas kecupanku. Kami kemudian saling mengalungkan kedua untaian kalung itu pada tonggak yang menegakkan suatu istana di mana energi untuk menatap hari baru dengan harapan dan kepercayaan berdiam.

Aku merenung dan berusaha memahami makna kekelaman yang ke dalamnya kami masing-masing telah jatuh. Hingga akhirnya aku tiba pada suatu kesadaran yang membersitkan suatu syair, dari seorang Pujangga, yang kiranya sanggup menjelaskan makna itu. Aku lalu menulis syair itu di atas tabut yang menjadi halaman terakhir kisah kekelaman kami. Inilah yang tertulis di atas tabut itu. Wahai MALAM pembimbing MALAM yang jauh melebihi fajar dan yang mempersatukan KEKASIH dan KEKASIH.***
(Agustus 2018. Tinggal di Rumah Novisiat OCD Bogenga-Bajawa).

Catatan:
*Ine: sapaan untuk wanita dalam bahasa Negekeo.

Puisi James Sutaluwa
(Siswa SMA Seminari St. Rafael)
Kemarau Rindu

Batang-batang itu adalah kenangan
Bersama daun yang kian mengering
Dan akhirnya tertiup angin
Burung-burung yang dulu tertawa
Dengan suaranya yang indah
Kini tertunduk berat merendah diri
Bersatu dengan tanah dalam kenangan
Lalu,
Sang burung bercerita
Menangisi temannya
Tiada tempat mengadu
Selain dari pada rindu
Panas, kering, hangus
Menelan kenangan
Yang tersisa adalah cinta, kenangan dan rindu

Puisi Patris Bulu Manu
Penyesalan

Mentari memecahkan cakrawala
Dalam hembusan penantian
Menembus dinding-dinding kehidupan
Yang tersayat rindu

Namun,
Semuanya telah purna
Dirasuki kebohongan

Kini
Aku tahu
Semuanya telah berakhir

Puisi Agustinus Gunadin
Layakkah Engkau Marah

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved