Opini Pos Kupang
Malaka dan Tradisi Dokumentasi
Begitulah, Kabupaten Malaka. Sebuah kabupaten berusia belum terlalu lama. Pada status kabupaten, wilayah ini terberi
Oleh Pius Rengka
Warga Kota Kupang
POS-KUPANG.COM - Pembangunan dan sejarah adalah dua hal dalam satu perkara. Tatkala pembangunan dicanangkan entah oleh siapa, terhadap apa dan di mana, semua itu adalah serial imajinasi pemimpin atau siapa pun yang terlibat di dalamnya.
Pembangunan tidak lain dari semua jenis impian perubahan sengaja. Dilakukan dalam skema pembebasan rakyat dari belenggu rantai kemiskinan. Pembangunan, kemudian semacam proses eksodus.
Karena itu, pembangunan juga merupakan pantulan serial imajinasi pemimpin dan rakyatnya. Serentak dengan itu terpantul pula terang benderang opsi fundamentalis atas apa yang harus dimulai dan mulai dari mana serta hendak pergi ke mana.
Begitulah, Kabupaten Malaka. Sebuah kabupaten berusia belum terlalu lama. Pada status kabupaten, wilayah ini terberi sebagai kabupaten berhamparan luas tanah nan subur.
Baca: BERITA POPULER : Ramalan Zodiak, Kecerdasan Pemimpin NTT, Terbaru Soal CPNS 2018
Di lembah Betun sejauh-jauh mata memandang, tampak sawah, kebun dan ternak. Tetapi, banyak orang tahu. Saban tahun Malaka dirundung dhuka. Kisah dhuka Malaka, bukan kisah baru.
Malaka dirundung pilu celaka karena dera derita ceritera kolera. Usai sungai Benenain menghajar dataran rendah Betun dan sekitarnya, menyusul banjir bandang itu datanglah wabah kolera. Banyak anak Malaka hadapi malapetaka kematian berantai.
Bahkan para penduduk Malaka sudah tahu pasti. Usai banjir bandang Benenain, kematian massal segera tiba. Kejadian itu, begitu rutin, sedemikian tetap seolah-olah semua itu merupakan bagian dari serial sejarah nasib manusia Malaka.
Namun, di samping kisah pilu itu, Malaka tanah nan subur. Semacam tanah terjanji. Dataran luas Malaka menjanjikan banyak hal. Bawang merah, kacang-kacangan dan bahkan padi begitu menjanjikan kemakmuran daerah itu. Tak ayal lagi, banyak manusia Malaka berkat nasib terberinya sukses belajar di tanah rantau.
Saya kenal betul orang Malaka di banyak tempat. Di Jogya, misalnya sebagai contoh. Banyak mahasiswa Malaka pintar-pintar. Kaum cerdik cendekia datang dari daerah ini. Mereka terampil mengusai ilmu pengathuan dan darinya pula sejumlah nama kesohor ada di semua tempat. Kaum intelektual Malaka boleh disebut satu dari komunitas terdepan di tanah Timor.
Baca: ARMY Baper, Member Kpop BTS Beli Coklat Untuk Halsey Di Tempat Seperti Ini
Berbicara tentang kaum klerus, banyak juga. Profesional di berbagai bidang jelas tersebar di mana-mana. Intinya, kualitas manusia Malaka adalah profil serpihan bintang-bintang intelektual yang tersebar di berbagai bidang dan tempat, lahir dari rahim tanah penuh celaka.
Sayangnya, dalam politik, maaf harus dikatakan. Manusia Malaka, terkesan tak kompak. Dalam urusan representasi politik elektoral di tingkat nasional, sebagai misal, manusia Malaka selalu kalah pamer, meski mereka punya pamor.
Karena itu ada semacam ironi. Meski banyak manusia pandai dari Malaka, tetapi nihil spirit solidaritas perutusan. Mengutus putra terbaik masuk Senayan, hanya semacam bayang-bayang yang terus melayang nun jauh tak terpandang. Apakah gejala ini muncul karena ada semacam "kebiasaan" tersembunyi, bahwa banyak manusia pandai di situ selalu ada kompetisi tersembunyi di dalamnya yang saling meniadakan?
Apakah juga di mana banyak manusia cerdas, justru di situ mereka tak saling mendorong, tak terorganisir, malah berkompetisi saling menghancurkan? Entahlah! Para sosiolog lebih pantas menerangkan dengan baik.
Faktanya, hingga hari ini, tak ada wakil rakyat masuk Senayan dari Malaka. Yang dipilih justru selalu orang salah yang silih lewat di situ. Lebih menyedihkan, dan tentu saja mengharukan, kemampuan intelektual aktor yang dipilih justru jauh di bawah anak-anak Malaka. Ini sejenis kecelakaan dan tentu saja petaka.
Baca: Pemkab Malaka Genjot Promosi Pariwisata
Namun, setelah lepas dari Kabupaten Belu, Malaka berjalan sendiri. Semua realitas politik Kabupaten Belu dibaca sebagai sejarah.
Kini Malaka kabupaten baru, dan baru mencatatkan diri daerah otonom baru yang baru memulai pembangunan di sana di bawah kendali Dokter Stef Bria Seran, Bupati Perdana dan Wakil Bupati Daniel Asa (alm). Jejak politik Dokter Stef Bria Seran,MPH, dapat ditelusuri sejak masa kecil di tepi sungai Benanain hingga kini menjadi bupati perdana Malaka.
Dia anak kepala desa. Ibunya disiplin, fokus, tetapi menyelimuti anak-anaknya dengan tenunan petuah bermakna sebagai via ticum perjalanan nasib mereka masing-masing. Ayah mereka dikenal sebagai pemimpin yang menjalankan roda kepemimpinannya sangat keras.
Mimpi tunggalnya, pembebasan rakyatnya. Konon ayah keluarga Bria ini, tak tanggung-tanggung menggunakan tangan besi. Khas pemimpin zaman lama.
Satu-satunya optio fundamentalis sang ayah ialah membawa bani rakyat kampungnya keluar dari derita. Dia sendiri lalu beri contoh. Dia mengharuskan anak-anaknya pergi sekolah.
Pola tangan besi yang sama pun digunakannya. Maka satu dari para anaknya, pergi studi kedokteran di Undip dan selesai. Singkat kisah, dari situlah dr. Stef mulai merajut tenunan sejarah hidupnya.
Ada yang khas unik. Menjadi bupati, bagi dr. Stef bukan peluang untuk hidup penuh kemewahan. Sebagai bupati, dr. Stef menggunakan mobil dinas bekas. Rumah jabatan belum dibuat.
Dia mendahulukan pembangunan gedung kantor lain yang layak. Kantor bupati pun cukup direnovasi untuk urusan kendali pemerintahan baru. Infrastruktur jalan kabupaten harus mantap, jaringan infrastuktur lain harus segera dikerjakan dengan kecepatan tinggi. Summus celeritate.
Maka, tak ayal lagi dapat dimengerti untuk pembangunan Malaka, dr. Stef menggunakan diksi revolusi. Serba cepat, serba multidimensional. Fokus pada pertanian, kesehatan dan pendidikan. Thesis pokoknya, rakyat harus kenyang, sehat dan terdidik. Karena itu uang pembangunan harus dikembalikan kepada rakyat demi pembebasan rakyat.
"Saya pasti akan sangat keras, disiplin. Hal itu saya lakukan karena saya mencintai rakyat. Saya mencintai mereka karena saya adalah bagian dari anak rakyat Malaka. Mereka susah saya susah, mereka senang saya senang. Kritik memang datang kepada saya dari mana-mana. Tak apa-apa itu nasihat yang baik," begitu dia berujar satu waktu sambil merunduk agak berlinang air mata.
Atas nama revolusi itu, sejumlah hambatan ditetas, diretas segera dalam tempo begitu lekas. Jalan kabupaten dibentang, jembatan dibangun agar rakyat bergerak lebih lekas menuju dan kembali ke kampung-kampung.
Komoditi rakyat dilepas ke pasar. Bahkan bawang merah diekspor ke Dili, kota dari negara terdekat. Tekadnya, cuma satu. Malaka harus keluar sebagai kabupaten terdepan. Makna terdepan, memang multi tafsir. Demi impian itu segala aral pelintang patut ditebang jauh-jauh terutama hambatan fisik terberi. Pada akibatnya, hasil pertanian tumbuh terhitung sejak itu, perubahan fisik tampak nyata. Sungai Benanain, dikendalikan dengan segera meski ancaman banjir bandang tetap menjenguk datang dari hulu.
Para petani, peternak dan pedagang pasar kian mengalami perubahan. Berubah. Itu kata yang kerap disebut-sebut di Malaka. Ir. Pius Klau Muti, tokoh masyarakat di Malaka, menyebut dr. Stef sebagai tokoh yang bekerja beyond of limit.
"Konsisten dan mau tanggung konsekuensi," ujar Pius Klau Muti. Dia menambahkan, dr. Stef pikir A, omong A, buat A dan hasil A. Bagi saya, bupati SBS (sebutan untuk Stef Bria Seran) itu be on the limit.
Namun, dokter Stef bukan tanpa kritik. Sebagaimana biasa masyarakat politik Malaka, syarat metafora. Kritikan halus, tentu datang dari kawan dan lawan politik. Tujuan kritikan juga sama, agar Malaka lebih lekas berkembang dan berubah benar dan tepat.
Para kritikus memberi dukungan dan pujian. Dalam pujian yang membadai itu, terselip kritik-kritik halus, tetapi bermakna dalam dan menukik.
Politisi ideologis senior Timor, Drs. Frans Skera, misalnya, mencatat Bupati Malaka dr. Stef memang cemerlang, tetapi di tengah selimut pujian itu diingatkannya agar Bupati Malaka lebih bijaksana, lebih tenang hadapi rakyat, lebih sabar, kurangi bicara dan memperbanyak perbuatan baik dan benar untuk rakyat.
Kohesi sosial memang mesti diwujudkan dalam kepemimpinannya, karena kohesi sosial adalah kapasitas masyarakat untuk memastikan kesejahteraan bagi semua orang, mengurangi disparitas agar rakyat memiliki akses dan kontrol terhadap kesejahteraan sosial dan keadilan sosial.
Pembangunan pendidikan, pertanian dan kesehatan merupakan pilihan sungguh serius dan harus didukung infrastruktur yang andal dan terandalkan. Hari itu, 23 Juli 2018. Refleksi dua tahun kepemimpinan dr. Stef Bria Seran dan Daniel Asa (Alm) dilakukan melalui jalan diskusi buku.
Buku lebih pantas disebut dokumentasi perjalanan kepemimpinan dan pembangunan Malaka dua tahun belakangan. Juga proyeksi pembangunan Malaka tahun ketiga.
Yang menarik, tentu saja, bukan dinamika diskusi. Tetapi justru tercatat sejumlah dokumentasi telanjang pendapat para aktor lintas kepentingan dan arena. Pada buku berjudul, "2 Tahun SBS-DA Memimpin Malaka", pendapat para tokoh yang bergerak di sektor negara, swasta, masyarakat sipil dan komunitas politik ditampilkan cukup telanjang.
Di sana-sini ada kritik, agak halus memang, tetapi bermakna. Tetapi gelombang dukungan, pujian dan data perkembangan pembangunan Malaka dua tahun belakangan ditampilkan dengan jujur.
Tradisi mencatat serial pembangunan secara jujur, memang patut dipuji. Dipuji bukan lantaran hadirnya aneka pujian pada sebuah buku, melainkan karena buku adalah catatan sejarah pembangunan agar kelak dijadikan dokumentasi penting bagi anak cucu negeri Malaka. Anak cucu kelak akan melihat konteks dan konten pembangunan dan dinamika politik yang mengiringinya. Sekian. *
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/sastra2_20160908_180957.jpg)