Berita Kota Kupang
LIVE STREAMING Orangtua Menduduki dan Menyegel SMAN 4 Kupang
orang tua siswa yang anaknya tidak diterima melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 4 Kupang menduduki dan menyegel sekolah sejak pagi hingga siang
Penulis: Wilibrordus Kau Suni | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Rerporter POS-KUPANG.COM, Wili Suni
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Sejumlah orangn tua siswa yang anaknya tidak diterima untuk melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 4 Kupang menduduki sekolah sejak pagi hingga siang tadi di Jalan Adisucipto, Oesapa, Penfui Timur, Kupang Tengah, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (11/7/2018).
Tidak terima dengan perlakuan pihak sekolah dan pemerintah terkait, para orang tua siswa ini mengambil tindakan dengan cara memotong sejumlah pohon di seberang jalan sekolah, membeli kawat dan paku, kemudian secara bersamaan seluruh pintu-pintu ruangan dan gervang utama ditutup atau disegel. Para orang tua siswa ini tidak mau meninggalkan sekolah hingga ada kepasatian dari pihak sekolah dan atau pihak dinas.
Amarah mencuat ketika salah seorang staf dinas yang diutus secara khusus oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NTT untuk menemui Para orang tua siswa ini. Sontak situasi yang sebelumnya berhasil diredam menjadi lebih memanas lagi. Para orang tua siswa ini berteriak memanggil pihak yang terkain untuk dating dan memberi tanggapan atau arahan terhadap mereka.
Yes Polly, salah satu orang tua siswa yang saat itu turut dalam aksi penyegelan ini menyatakan, bahwa sudah dua minggu lebih mereka tidak menjalankan aktivitas lain, selain mengurus anak mereka yang ingin melanjutkan sekolah tapi tidak diterima ini. Mereka menuntut pertanggungjawaban dari pihak sekolah dan pemerintah terkain untuk menerima anak mereka menjadi peserta didik barui di SMAN 4 Kupang ini.
"Kami bukan mau menuntut yang aneh-aneh, tetapi kami ingin anak-anak kami sekolah di sini. Mana mungkin, kami yang tinggal tepat di belakang sekolah ini, tetapi sekolah di temapt lain karena tidak diterima di sini, sekolah ini", ujar Yes sambil berteriak kepada siapa saja yang ada di lokasi kejadian.
Hal yang benar-benar tidak bias diterima oleh para orang tua ini adalah saat mereka mendaftar secara online, anak mereka dinyatakan lulus dalam tahap verifikasi. Akan tetapi, ketika mereka bersama anak-anak yang sebelumnya telah lulus atau dirterima di SMAN 4 Kupang ini dating, mereka menemukan fakta yang bebeda, yakni nama anak-anak yang sebelumnya dinyatakan lulus ini nama-namanya tidak ada pada printout yang telah ditempelkan di beberapa sisi sekolah ini.
Loriana Andy juga mengeluhkan hal yang sama. Anaknya telah lulus sejak tahap pendaftaran secara online hingga verifikasi data, yang dilaksanakan di sekolah.
"Anak saya ini juga sebelumnya telah lulus tetapi namanya tidak ditemukan di daftar nama-nama yang dinyatakan lulus, yang ditempelkan di salah satu sisi sekolah ini. Nah, ketika saya bersama beberapa orang tua ingin mempertanyakan pesoalan ini, kami mendapatkan penolakan hingga dipermainkan oleh semua pihak seperti pihak sekolah, dinas, dan juga aparat pemerintah setempat. Kami disuruh ke sana-sini untuk mengadukan masalah ini, tetapi seolah kami selalu menemukan sebuah jalan buntu", tegas Loriana.
Kepala sekolah SMAN 4 Kupang, Agustinus Bire Logo yang dihubungi secara terpisah menyatakan, kebijakan untuk penambahan rombongan belajar (rombel) baru disampaikan oleh pihak dinas hari ini dan mereka membutuhkan waktu hingga besok untuk mengerjakan atau menyelesaikan persoalan ini.
"Kami baru mendapatkan informasi terkait penambahan romnel ini pagi tadi, jadi kami butuh waktu yang cukup untuk menyelesaikan ini. Kami menambahkan dua ruang belajar yang setiap rombelnya menampung 36 peserta didik. Jadi total yang akan kami terima untuk semua rombel ini sebanyak 72 peserta didik", lanjut Agustinus.
Para orang tua siswa ini tidak mau pulang ke rumah masing-masing hingga pihak sekolah datang menemui merekan dan menerima anak mereka untuk sekolah. Aksi protes ini diwarnai isak tangis dari sejumlah orang tua. Mereka mempertanyakan sesuatu yang jawabannya telah hilang. Tidak ada satupun di antara mereka yang tergolong masih muda, tetapi tidak berhenti berjuang.
Pertanyaan terbesar mereka saat ini adalah di manakan letak kemerdekaan yang akan kita rasakan sebagai suatu bentuk kebebasan, jika peraturannya tidak berpihak seperti ini. Mereka merasa belum merdeka atau merasa belum bebas untuk melanjutkan sekolah.
Simak videonya link berikut:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1948800545151284&id=202555259775830
(*)