Breaking News
Kamis, 11 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Drivers for Change: Catatan Inspiratif Anak Muda Mollo dari Inggris (2)

Kami diapit rombongan wisatawan para opa-oma sehat dan bugar dari Italia. Saya dan Sisca dari Pasar Papringan deg-degan kalau prosesnya akan ribet

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
ISTIMEWA
Dicky Senda dan rekannya dari Indonesia 

Ini adalah puncak musim panas dan hingga jam 7 malam taman masih begitu ramai sebab saat musim panas, matahari baru akan terbenam di jam 10 malam. Dan ketika orang membubarkan diri dari taman, tidak ada satupun sampah plastic yang berceceran. Sisca adalah kawan perjalanan yang cerdas dan jeli melihat situasi sekitar, dan menyenangkan diajak diskusi.

Ketika pulang dari taman kami sadar bahwa kami begitu lelah karena begitu penasarannya kami lupa bahwa kami baru saja melewati lebih dari 16 jam perjalanan dari Indonesia!

Waktu terus berputar, banyak restoran mulai tutup karena memang sudah malam meski langit masih cerah. Untuk pertama kalinya, poundsterling kami pecah untuk makan malam.

Karena lelah ditambah tidak punya pilihan memilih restoran yang cocok, murah dan masih buka, akhirnya terpilihkan restoran cepat saji yang masih terbuka di dekat London Eye. McDonald. Agak berat hati, apalagi bagi Sisca.

Kami menghibur diri dan sadar bahwa datang ke Inggris dengan uang saku pas-pasan. Mengeluarkan uang 6 poundsterling per orang untuk makan malam sudah sangat cukup. Kalau dirupiahkan tentu saja mahal untuk ukuran makan di restoran cepat saji.

Ya sudah memang nasib punya mata uang yang lemah di bok-bok. Bicara mata uang beberapa teman di Inggris begitu kaget jika nilai tukar 1 poundsterling sama dengan Rp 19.000. "Kami akan sangat terlihat kaya kalau pergi ke Indonesia." Begitu canda mereka.

Setelah makan, kami pulang ke hotel. Berjalan kaki adalah hal biasa di sini, tapi tidak bagi kita di Indonesia. Sedikit-sedikit naik mobil atau motor. Besoknya kami pergi ke kantor British Council di dekat Museum Nasional.

Tentu saja setelah melewati proses nyasar. Tapi nyasar di jantung kota London mah seru. Mengapa? Padestriannya luas, banyak bangunan indah, banyak taman kota dan peta penunjuk jalan. Seru.

***

Di hari kedua kami di Inggris akhirnya bertemu lengkap sama semua kontingen internasional yang akan hadir di Drivers for Change di kantor British Council di dekat Trafalgar Square dan National Gallery. Pertama kali bertemu Bella Eames-Matthew yang selama ini mengurus semua proses sejak awal lolos seleksi Drivers for Change.

Makan siang di sini rata-rata sekitar jam 2. Ya Tuhan sudah berapa hari ini sonde makan nasi, itu oke, tapi menu di sini yang hambar saya langsung kangen makanan di rumah.

Agendanya adalah berkenalan dengan DICE salah satu program dari British Council yang membiayai perjalanan kami ke UK. DICE atau Developing Inclusive Creative Economies adalah lembaga funding yang berfokus pada pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dengan proyek perdananya ada di 5 negara berkembang: Brasil, Indonesia, Afrika Selatan, Pakistan dan Mesir. Di negara kami 18 peserta yang hadir.

DICE mendukung bukan saja dana tapi menjangkau hingga ke tingkat kebijakan, kelembagaan dan individu. Bagaimana pendanaan itu bisa mengintervensi pemberdayaan perempuan, menumbuhkan lapangan pekerjaan bagi kaum muda, mendukung penyandang cacat dan bisa melibatkan kelompok yang selama ini terpinggirkan.

Sesi ini dibawa oleh tim DICE dan British Council dengan sangat menyenangkan. Kami mengawalinya dengan memperkenalkan diri dan cerita pengalaman project kewirausahaan sosial apa yang sangat menginspirasi kami.

Di sini saya akhirnya tahu banyak hal hebat terjadi dalam diri 18 teman baru saya. Sisca dari Indonesia bercerita bagaimana Spedagi punya misi agar orang tidak mengabaikan desa.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved