Tradisi Unik Suku Fore Makan Otak Manusia, Ternyata ini Tujuannya

Suku Fore melakukannya sebagai ritual pemakaman, setelah dua hari meninggalnya keluarga.

Editor: Fredrikus Royanto Bau
ISTIMEWA
ilustrasi suku fore 

Sementara jiwa yesegi, atau kekuatan leluhur akan diteruskan kepada semua anak.

Ritual pemakaman dengan memakan jenazah ini sebagai pemurnian, dipercaya tidak mencemari mereka yang memakannya.

Melalui ritual itu, suku Fore memastikan bahwa hal positif keluarga yang meninggal dunia akan tetap ada di dalam suku.

Baca: Posisi Mantan Ketua Golkar IA Medah Dipertanyakan, ini Sosok yang Didukung

poskupangonline
instagram.com/poskupangonline

Sementara jiwa auma, ama, dan kwela mencapai tanah orang mati, kwelanandamundi.

Dilansir tribunnews, kebiasaan suku Fore di Papua Nugini yang gemar memakan otak manusia ternyata bak pisau bermata dua.

Melansir Kompas.com pada Rabu (19/6/2018), menurut investigasi, dengan memakan otak maka suku Fore rentan terserang penyakit sapi gila.

Namun disamping itu, mereka juga menjadi kebal terhadap beberapa penyakit lainnya.

Penyakit sapi gila pertama kali dikenal setelah seorang petugas medis distrik Nugini memperhatikan beberapa orang dari suku Fore terserang penyakit mematikan.

Para korban akan kehilangan kemampuan berjalan, menelan dan mengunyah.

Pada gilirannya, ini menyebabkan penurunan berat badan dan kematian.

Baca: Jadwal Piala Dunia 2018, Malam ini Argentina vs Kroasia, Perancis vs Peru Live Trans TV

Baca: Halal Bihalal Keluarga Besar BPS Provinsi NTT Bersama Anak Panti Asuhan Attin Namosain

Pada puncaknya, penyakit ini menyebabkan kematian sekitar 2 persen dari suku per tahun.

Suku Fore melakukan ritual pemakaman di mana para pria memakan daging sementara para wanita memakan otak mereka.

Namun mereka tidak tahu betapa bahaya itu, karena molekul mematikan hidup di otak manusia yang menyebabkan kematian jika dimakan.

Ritual makan otak manusia dilarang di Papua Nugini pada 1950-an, penyakit itu pun kemudian mulai menghilang.

Namun, para ilmuwan kini telah temukan kebiasaan makan otak menghasilkan perkembangan resistensi genetik terhadap penyakit.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved