Kamis, 14 Mei 2026

Memperingati Hari Lahir Pancasila GMNI Cabang Waingapu Gelar Dialog Kebangsaan

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Waingapu menggelar dialog Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari lahirnya Pancasila

Tayang:
Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
POS KUPANG/ROBERT ROPO
Kapolres Sumba Timur Victor M.T.Silalahi dan Sekda Sumba Timur Juspan Pasande sedang mengikuti dialog Kebangsaan. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS KUPANG.COM | WAINGAPU--Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Waingapu menggelar dialog Kebangsaan dalam rangka memperingati Hari lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni 2018.

Kegiatan Dialog tersebut berlansung di Aula Kontor Kecamatan Kambera, Sabtu (2/6/2018).

Kegiatan dialog tersebut hadir juga Kapolres Sumba Timur AKBP.Victor M.T Silalahi, SH.MH, Sekda Sumba Timur Juspan Pasande dan juga dihadiri oleh organisasi-organisasi kepemudaan di Sumba Timur Yakni GMKI, IKPML, FPWK, FKPK, HIMAS, Ana Humba Komuniti, Komunitas Ana Tana dan Senat Unkriswina Sumba.

Kapolres Sumba Timur AKBP Victor M. T. Silalahi, S.H.,M.H. dan Sekda Sumba Timur Juspan Pasandse pada kegiatan diolog itu juga sebagai Narasumber.

Jalannya Dialog itu dipandu oleh Wakabid Organisasi GMNI Waingapu, Gabriel Ng. Behar.

AKBP Victor M. T. Silalahi, S.H., M.H dalam membawakan materi tersebut mengatakan terkait gerakan-gerakan radikalisme yang telah masuk ke masyarakat.

Kata dia, gerakan radikalisme telah masuk ke berbagai kelas masyarakat. Untuk itu menanamkan nila-nilai Pancasila bukan hanya tugas Polri dan TNI tetapi semua komponen bangsa sehingga munculnya kesadaran kolektiv.

"Hari ini yang harus di tangkal adalah radikalisasi intoleransi sebelum berkembang menjadi Radikalisme Anti Pancasila dan Puncaknya Radikalisme Terorisme," kata Kapolres Sumba Timur yang juga aktif melakukan Seminar Wawasan Kebangsaan dan mengunjungi semua Elemen dan Steak Holder di Sumba Timur untuk menangkal isu Radakalisme.

Sementara itu, Juspan Pasande saat membawakan materi tersebut mengatakan, memang mungkin kaum intelektusl biasanya menjadi dalang isu agama atau sara.

"Untuk orientasi kekuasaan tapi juga perlu kita sadari, masih banyak orang baik di Republik ini karena tidak semua kaum yang memiliki kemampuan itelektual sebagai inisiator pengerak isu radikalisme dalam bentuk kepentingan kekuasaan,"ungkap Juspan. (*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved