Polisi Tembak Warga Sumba Barat

Pengacara Poro Duka Serahkan Peluru Tajam Utuh

Proses penyelidikan kasus kematian Poro Duka, warga Kabupaten Sumba Barat yang tewas ditembak polisi masih terus dilakukan.

Pengacara Poro Duka Serahkan Peluru Tajam Utuh
POS-KUPANG.COM/Ricko Wawo
Kepala Sub Direktorat Penerangan Masyarakat, AKBP Antonia Pah, Komisioner Kepolisian Nasional RI, Andrea H Poeloengan,Pejabat Sementara Kepala Sub Bidang Kedokteran Kepolisian, dr. Eni Astuti dan Ketua Bidang Kedokteran dan Kesehatan, dr. Retnawan Pujiatmika saat menggelar jumpa pers di Polda NTT, Selasa (15/5/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM | KUPANG -Proses penyelidikan kasus kematian Poro Duka, warga Kabupaten Sumba Barat yang tewas ditembak polisi masih terus dilakukan.

Sejak Jumat (11/5/2018) kemarin, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Republik Indonesia pun sudah melakukan monitoring dan klarifikasi langsung terhadap kasus kematian Poro Duka di Sumba Barat.

Hingga Sabtu (12/5/2018), pengacara Poro Duka juga telah menyerahkan barang bukti berupa selongsong peluru karet, satu selongsong peluru gas air mata dan satu butir peluru tajam yang masih belum terpakai.

"Masih ada proses selanjutnya soal dimana itu (peluru tajam) ditemukan dan siapa yang menemukannya," kata Komisioner Kompolnas RI, Andrea H Poeloengan dalam sesi jumpa pers di lobi Gedung Kepolisian Daerah NTT (15/5/2018) siang.

Didampingi Kepala Sub Direktorat Penerangan Masyarakat, AKBP Antonia Pah, Pejabat Sementara Kepala Sub Bidang Kedokteran Kepolisian, dr. Eni Astuti dan Ketua Bidang Kedokteran dan Kesehatan, dr. Retnawan Pujiatmika, Andrea menjelaskan penemuan peluru tajam yang masih utuh ini perlu ditelusuri lebih lanjut.

Sebab dari hasil penyelidikan, semua aparat keamanan yang bertugas pada saat kejadian penembakan 25 April silam hanya membekali diri dengan peluru karet dan peluru hampa.

"Penyebab kematian Poro Duka adalah luka tembak peluru karet pada dada yang mengenai jantung. Peluru bersarang di kantung jantung," terang dr. Eni yang melaporkan hasil otopsi terhadap almarhum Poro Duka.

Dari hasil pengambilan keterangan terhadap saksi-saksi, Andrea juga membenarkan adanya penyerangan lemparan batu yang mengarah kepada aparat dan peralatan milik negara.

"Pelemparan dilakukan menggunakan tangan kosong maupun senjata ali-ali," tandasnya.

Setelah diteliti dan dimintai keterangan dari berbagai pihak ihwal penyerangan menggunakan ali-ali ini, ia melanjutkan, tindakan ini sesungguhnya sudah masuk kriteria yang dapat menyebabkan luka parah dan ancaman yang membahayakan nyawa manusia sebagaimana termaktub dalam Peraturan Kapolri No.1 Tahun 2009.

"Akan tetapi adanya ekses yang menyebabkan jatuhnya korban meninggal dunia adalah masalah serius lainnya," tegas Andrea.

Hingga saat ini, katanya, Kompolnas masih memantau keseriusan yang tinggi dari kepolisian dalam menangani masalah penembakan terhadap Poro Duka oleh polisi.

"Sebagai sanksi awal Kapolres Sumba Barat telah diganti. Tinggal menunggu waktu serah terima dan persidangan," katanya. (*)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved