Ahli Bilang, Dokter Punya Niat Jahat jika Tahu Ada Rekayasa Kecelakaan Novanto

Dokter Bimanesh Sutarjo bisa saja dikatakan memiliki niat jahat (mens rea) apabila mengetahui ada rekayasa dalam kecelakaan Setya Novanto.

Ahli Bilang, Dokter Punya Niat Jahat jika Tahu Ada Rekayasa Kecelakaan Novanto
KOMPAS.COM
Ahli hukum pidana dari Universitas Jenderal Soedirman, Noor Aziz Said, memberikan keterangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (11/5/2018). 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Ahli hukum pidana dari Universitas Jenderal Soedirman Noor Aziz Said menilai terdakwa dokter Bimanesh Sutarjo bisa saja dikatakan memiliki niat jahat (mens rea) apabila mengetahui bahwa ada rekayasa dalam kecelakaan yang dialami Setya Novanto.

Baca: Mario Indonesian Idol Dukung Peluncuran All New Ertiga, Mari Kunjungi Yuk

Hal ini dikatakan Noor Aziz saat memberikan keterangan sebagai ahli di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (11/5/2018).

"Kalau minta (diagnosis) kecelakaan, tapi kecelakaan itu belum terjadi, jelas itu rekayasa. Itulah mens rea," ujar Noor Aziz.

Baca: Bawaslu NTT Temukan 242 Pemilih di Manggarai Timur Hilang dari DPT

Menurut Noor Aziz, sebenarnya tidak ada masalah jika dokter menerima pasien yang sedang bermasalah secara hukum.

Namun, apabila dokter tersebut mengetahui ada rekayasa dari pengacara pasien, dan tetap melanjutkan permintaan tersebut, maka dokter tersebut dapat dikenai sanksi pidana.

Baca: Rekan Istri Novanto Memberi Kesaksian Saat Bermalam di RS Medika Permata Hijau. Begini Ceritanya

"Apabila dokter konsisten dengan kenyataan, berarti benar tindakannya. Tapi kalau tahu ada rekayasa, itu berarti sudah memiliki mens rea," kata Noor Aziz.

Dalam kasus ini, Bimanesh didakwa bersama-sama dengan advokat Fredrich Yunadi telah melakukan rekayasa agar Ketua DPR, Setya Novanto, dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Hal itu dalam rangka menghindari pemeriksaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Saat itu, Novanto merupakan tersangka dalam kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

Dalam persidangan, Bimanesh mengakui bahwa Fredrich awalnya meminta agar Novanto dirawat karena diagnosis hipertensi. Namun, belakangan diagnosis diubah.

Menurut Bimanesh, pada 16 November 2017 lalu, Fredrich pernah memberitahunya bahwa skenario diagnosis Novanto diubah menjadi kecelakaan. Bimanesh menyebutkan kecelakaan mobil yang ditumpangi Setya Novanto merupakan rekayasa. (*)

Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved