Korem 161 Wira Sakti Gandeng Undana Gelar Focus Group Discussion, Ini yang Mereka Bahas

Korem 161 Wira Sakti Kupang menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai makna dan implementasi butir-butir kesepakatan Oepoli.

Korem 161 Wira Sakti Gandeng Undana Gelar Focus Group Discussion, Ini yang Mereka Bahas
POS-KUPANG.COM/MARIA AE TODA
Danrem 161 Wira Sakti Kupang, Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa SE, MM saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatn FGD di Aula Undana Kupang, Senin (7/5/2018). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria A E Toda

POS-KUPANG.COM | KUPANG - Korem 161 Wira Sakti Kupang menggelar Focus Group Discussion (FGD) mengenai makna dan implementasi butir-butir kesepakatan Oepoli antara Liurai Sila, Sonbai Sila, Benu Sila, Afo Sila demi rekonsiliasi di perbatasan RI-RDTL di Lantai 3 Aula Undana Kupang, Senin (7/5/2018).

Baca: 64 Mahasiswa IPDN Kampus Nusa Tenggara Barat Praktik Lapangan di Ende, Ini yang Mereka Lakukan

FGD kali ini melibatkan para akademisi yang berasal dari Universitas Nusa Cendana (Undana) yang langsung dipimpin Rektor Undana, Prof. Fredrik L Benu.

Dalam sambutannya mengawali FGD, Fred Benu, mengatakan, pembangunan daerah perbatasan bukan hanya merupakan tugas pemerintah atau pihak tertentu tetapi menjadi tugas semua elemen masyarakat.

Baca: Sehari Nikita Mirzani Jalani 3 Operasi, yang Ini Salah Satunya

Menurutnya, pembangunan bukan hanya diartikan mengolah sumber daya alam yang ada tetapi juga bagaimana membantu mengolah masalah atau konflik yang terjadi.

"Kedua negara memang dibatasi oleh batas teritorial tetapi kehidupan tidak bisa dibatasi kecuali kita bangun tembok pemisah. Kita juga harus menghargai hukum adat atau aturan adat masyarakat setempat dan tidak bisa kita tekan menggunakan aturan kita,'' ujar Fred.

Untuk itu, menurut Fred, semua pihak harus duduk bersama untuk mengetahui batas yuridis seperti apa begitupun dengan batas yang sudah diatur masyarakat setempat secara adat. Pihak pemerintah juga harus mengakomodir adat istiadat masyarakat setempat untuk mencapai kesepakatan.

Ia mencontohkan masyarakat Rote yang mencari ikan sampai batas Australia. ''Unttuk mengatasi itu melalui MoU Box dengan beberapa persyaratan seperti harus menggunakan perahu layar, dan menggunakan alat tangkap tradisional dan tidak menggunakan GPS,'' kata Fred.

Ia berharap agar FGD yang dilaksanakan bisa menghasilkan satu solusi yang bisa membantu rekonsioliasi konflik yang ada. (*)

Penulis: Maria Enotoda
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved