Ini Loyalitas Tanpa Batas Seorang Mikhael Remi
gaya mendongeng dan bercerita bapak guru yang khas dan menarik hati seringkali menghanyutkan para siswa dalam alur kisah
Penulis: PosKupang | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS KUPANG.COM, KUPANG - Mikahel Remi sudah berusia 79 tahun. Sejak tahun 1958, ia pertaruhkan hampir seluruh hidupnya bekerja sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia di Seminari Yohanes Berkhmans Toda Belu, Mataloko.
Ini belum terhitung masa empat tahun yang ia habiskan di Seminari Mataloko sebagai seminaris (1950-1954). Itu berarti sudah 63 tahun ia berada di lembah dingin Mataloko. Tentu saja, ini sebuah pengabdian panjang penuh loyalitas yang tidak semua orang bisa lakonkan dalam hidup.
Dimas Radjalewa (23), mantan muridnya, berkisah, bapak guru, begitu ia biasa disapa, adalah seorang pendongeng dan pencerita yang hebat. Sastra klasik seperti Robohnya Surau Kami, Kelimutu, Tenggelamnya Kapal Van der Wijk dan bahkan kisah-kisah kuno Mahabrata juga sudah pernah didongengkannya di kelas. Tidak heran, jelas Dimas, kehadiran guru yang lahir di Kefamenanu, TTU, 3 Juni 1938 ini selalu dirindukan para siswa.
Dimas menjelaskan, gaya mendongeng dan bercerita bapak guru yang khas dan menarik hati seringkali menghanyutkan para siswa dalam alur kisah yang diceritakan. Mikhael bercerita seakan ia sendiri ada di dalam cerita itu.
"Suara bariton, mimik, intonasi, artikulasi, gerak-geriknya saat mendongeng tak pernah lekang dalam ingatan para seminaris sampai kapan pun," ungkap lelaki yang kini berdomisili di Maumere ini.
Romo Nani Songkares, seorang staf pembina di Seminari Mataloko, mengakui, berkat dongeng-dongeng yang diceritakan bapak guru, ia mulai menemukan imajinasinya yang merdeka.
"Saya juga mengenal sastrawan-sastrawan besar Indonesia beserta maha karya mereka dari bapak guru," tandas Romo Nani, demikian ia biasa disapa.
Pengakuan tentang kecerdasan bapak guru dalam mendongeng dan mengajar juga diakui para pembina seminari lain yang dulunya juga merupakan mantan muridnya.
Dalam sebuah wawancara pada Bulan Agustus 2017, Mikhael Remi menceritakan, pada tahun 1971, ia pernah ditawarkan untuk menduduki salah satu jabatan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Bahkan, beberapa kali pemilihan umum setelah itu, ia juga terus ditawari untuk mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Namun, ia menolak karena tidak bisa melepaskan pekerjaannya sebagai guru di seminari.
"Saya sulit meninggalkan pekerjaan saya di Seminari," terangnya.
Mikhal mengisahkan, ia merasa bangga pertama kali ditunjuk sebagai guru di seminari karena dia merupakan salah satu guru pribumi di antara pengajar lain yang hampir semuanya adalah misionaris asing.
"Keluarga juga merasa bangga," tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, ia mulai menyesuaikan diri dengan kehidupan harian di seminari. Beberapa mata pelajaran lain juga pernah diajarkannya di seminari seperti Bahasa Jawa Kuno, Sejarah, dan Antropologi Budaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/mikael-remi_20180501_210056.jpg)