Polisi Tembak Warga Sumba Barat
YLBHI Serukan Polisi Harus Profesional. Komnas HAM dan LPSK Diminta Lakukan Hal ini
Meminta KOMNAS HAM melakukan penelitian terhadap dugaan pelanggaran HAM di dalam peristiwa Marosi dan mengawal proses-proses penyelidikan Mabes Polri.
Penulis: Fredrikus Royanto Bau | Editor: Fredrikus Royanto Bau
POS-KUPANG.COM|KUPANG - Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyayangkan pernyataan Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto bahwa, pengusutan kasus penembakan di Marosi, Sumba Barat akan diurus oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda NTT dan pihaknya tidak akan menerjunkan tim langsung ke sana untuk mengusut kasus ini.
Menurut WALHI, pernyataan ini menunjukkan dua hal.
Pertama, Mabes Polri tidak menyikapi tindakan penembakan warga oleh anggotanya dalam kaitannya dengan pengamanan investasi sebagai sesuatu kejahatan yang serius.
Kedua, Mabes Polri cenderung mengecilkan kasus ini sebatas pelanggaran etik, alih-alih melihatnya sebagai suatu kejahatan, sehingga Propam lah yang didorong untuk memeriksa kasus ini.
Baca: MANTAP! Tentara Penjaga Perbatasan RI-RDTL Sunat Gratis Warga Desa Derokfaturene Belu
Demikian disampaikan YLBHI dalam siaran pers yang diterima POS-KUPANG.COM, Minggu (29/4/2018).
Siaran pers yang ditandatangani Asfinawati selakua Ketua Umum YLBHI ini menyebutkan, penembakan warga di Sumba Barat oleh Polisi Resor setempat sekitar pukul 13.00 WIB pada Selasa, 25 April 2017.
Penembakan berawal dari aktivitas pengukuran lahan sekitar 200 ha yang tersebar dalam 7 bidang Pesisir Pantai Morosi, Desa Patiala Bawah, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, NTT.
Pengukuran ini dilakukan BPN bersama PT. Sutra Marosi Kharisma (SMK) yang didampingi oleh 50 orang Polisi bersenjata lengkap dengan pakaian anti huru hara dan mobil anti huru hara.
Warga yang melakukan protes hanya melihat aktivitas pengukuran tersebut.
Baca: Polsek Malaka Tengah Imbau Pengunjung Pasar Betun Waspadai Pencopet
Ketika pengukuran di bidang 5, warga mengambil foto dan rekaman aktivitas tersebut.
Polisi marah dan merampas Hp serta melakukan pemukulan.
Melihat ada tindakan kekerasan dari Polisi, warga bergerombol datang ke lokasi dan seketika polisi langsung melakukan penembakan.
Akibatnya seorang warga, Poro Duka (40) tewas karena ditembak di dada dan Matiduka, laki-laki, luka ditembak di kedua kakinya.