Berita Timor Rote sabu

Ini Kebijakan Direktur RSUD MGR. Gabriel Manek Terkait Pungutan Terhadap Pasien ODHA

Mereka sudah mendaftar di loket, pasien umum harus bayar. Ditarif perbup, kalau bertemu dokter umum bayar Rp 35 ribu

Ini Kebijakan Direktur RSUD MGR. Gabriel Manek Terkait Pungutan Terhadap Pasien ODHA
POS KUPANG/EDY BAU
Direktur RSUD MGR. Gabriel Manek Atambua, Drg. M. Ansilla F. Eka Mutty-- 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Edy Bau

POS- KUPANG.COM| ATAMBUA--Direktur RSUD MGR. Gabriel Manek Atambua, Drg. M. Ansilla F. Eka Mutty langsung memanggil dokter yang bertugas di bagian VCT dan Komisi Penanggulangan AIDS untuk mendapatkan klarifikasi langsung terkait keluhan pasien Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) atas pungutan tanpa tindakan medis dari dokter.

“KPA dan Dokter, semua petugas di sini saya panggil untuk klafirikasi,” kata Drg Ansilla usai pertemuan di ruangan kerjanya, Selasa (9/1/2018).

Menurutnya, dari penjelasan dokter dan petugas yang bertugas di bagian VCT, diketahui bahwa pasien ODHA yang mengeluhkan pembayaran saat berobat itu memang tidak membawa rujukan dari puskesmas sehingga harus membayar karena dihitung sebagai pasien umum. “Kasus kemarin itu memang pasien itu tidak membawa rujukan.

Dia datang ambil obat. Dokternya juga ada. Mereka sudah mendaftar di loket, pasien umum harus bayar. Ditarif perbup, kalau bertemu dokter umum bayar Rp 35 ribu. Tapi menurut petugas, sempat ditawarkan mungkin karena buru-buru atau bagaimana jadi pasiennya pergi,” jelas drg. Ansilla.

Dikatakannya, hasil klarifikasi kepada Dokter Andre yang bertugas di VCT diketahui bahwa pelayanan pada saat pasian ODHA selalu siap. Hanya saja mungkin terjadi miskomunikasi.

“Jadi belajar dari ini, saya juga tidak mengatakan kami yang salah atau tapi kita mencari jalan keluar atas apa yang diberitakan. Beberapa saat lalu, saya membuat kebijakan bahwa setiap pasien yang dirujuk dari luar, selama ini orang –orang yang melalui loket akan terkena pembayaran,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, Untuk pasien ODHA tidak tercover dalam kebijakannya maka ke depan bagi pasien ODHA yang hanya datang mengambil obat program, tidak perlu lagi melalui loket dan mendaftar di sana.

“Saya buat kebijakan bahwa semua pasien ODHA yang hanya mengambil obat program, tidak usah singgah loket, langsung ke VCT ambil obat dan pulang. Saat dia menghadap dan kalian melihat ada sakit ikutan misalnya, lemas, batuk, tawarkan kepada dia untuk diperiksa. Kalau misalkan kalau mau gratiskan, kita belum bisa pastikan.
Tanya mereka punya BPJS, kalau punya mereka harus bawa rujukan supaya kita bisa claim,” jelas drg. Ansilla.

Selanjutnya, tambah drg. Ansilla, pihaknya akan berdiskusi dengan Dinas Kesehatan dan BPJS untuk pasien ODHA untuk mencari solusi agar para pasien ODHA ini diakomodir sebagai peserta BPJS Penerima bantuan iuran (PBI). (*)

Dikirim dari ponsel cerdas Samsung Galaxy saya.

Penulis: Fredrikus Royanto Bau
Editor: Rosalina Woso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved