Mencari Pengurus PSSI NTT

Yabes Roni, Bily Keraf, Alsan Sanda muncul karena proses talent scouting yang dilakukan oleh pelatih Timnas. Bukan atas jasa PSSI NTT.

Mencari Pengurus PSSI NTT
ist
Anggota DPRD Kota Kupang, Isidorus Lilijawa

BURSA pemilihan pengurus asosiasi PSSI Provinsi Nusa Tenggara Timur sudah di depan mata. Dalam agenda PSSI NTT, bulan Desember 2017 ini pemilihan pengurus ini akan segera terlaksana. Itu berarti dalam hari-hari ini, masyarakat NTT melalui asosiasi PSSI kabupaten/kota sedang mencari, menimbang-nimbang dan memilah-milah manakah figur terbaik untuk menduduki posisi Ketua dan komite eksekutif PSSI NTT. Pertanyaan penting adalah figur macam manakah dan dengan kualifikasi apakah yang pantas duduk di kursi kepengurusan PSSI NTT beberapa tahun ke depan?

Mencari Saat Ini

Proses pencarian figur pengurus PSSI NTT hemat saya bukan hanya untuk konteks yang akan datang (future) tetapi juga yang sudah ada saat ini (hic et nunc). Mencari figur yang pantas untuk periode mendatang mesti bertolak dari bagaimana figur pengurus PSSI NTT saat ini. Maka, yang paling penting adalah mencari figur pengurus PSSI saat ini. Dalam catatan saya, pengurus PSSI NTT saat ini telah hilang dan karena itu harus dicari dan ditemukan lagi.

Apakah yang patut warga NTT banggakan dari kepengurusan PSSI NTT saat ini? Mereka mungkin saja berbicara banyak. Bepergian banyak. Namun, tidak berbuat banyak untuk kemajuan sepak bola NTT. Saya mencoba dengan indikator permasalahan dan solusi yang mereka tawarkan. Sepak bola NTT memiliki beberapa persoalan krusial dan klasik, diantaranya: 1) Belum adanya fasilitas olahraga sepak bola yang memadai dan standar seperti lapangan sepak bola, dan sarana latihan lainnya; 2) Belum adanya pembinaan sepak bola usia dini (SSB) yang berkelanjutan dan dikelola dengan baik; 3) Belum adanya kompetisi sepak bola rutin untuk menemukan dan menempa para pemain lokal; 4) Para wasit dan pelatih yang kebanyakan tidak memiliki lisensi kepelatihan atau perwasitan; 5) Kepengurusan PSSI di Provinsi maupun daerah yang kental dengan budaya birokrasi dan mengabaikan pendekatan hati dan profesionalitas dalam pengelolaan sepak bola.

Sekarang kita bedah berdasarkan problem-problem di atas. Apa yang sudah pengurus PSSI NTT buat untuk menghadirkan fasilitas dan lapangan sepak bola yang standar dan memadai? Selama beberapa periode mengurus PSSI, menghadirkan satu lapangan sepak bola standar saja tidak sanggup. Mestinya malu pada SSB Bintang Timur Atambua yang memiliki lapangan standar internasional, juga pada Pemkab Ende yang berhasil merenovasi stadion Marilonga menjadi stadion berstandar nasional. Mengurus stadion Oepoi, satu-satunya itu seperti sudah bukan main. Tidak heran, pertandingan-pertandingan resmi PSSI (misalnya Pra PON) saja sulit dilakukan di NTT karena tidak ada stadion yang memenuhi standar.

Soal yang kedua adalah pembinaan sepak bola usia dini. Pertanyaannya, apakah yang sudah pengurus PSSI NTT lakukan untuk melahirkan, menghidupkan dan menggairahkan pembinaan sepak bola usia dini di NTT? Beberapa sekolah sepak bola yang berdiri saat ini, baik di Atambua, Soe, Kupang, Larantuka, Maumere, Ngada adalah SSB yang didirikan dan dikembangkan oleh pihak-pihak di luar PSSI. Ini murni pengorbanan orang yang punya hati buat sepak bola. Bukan atas campur tangan PSSI NTT. Bahkan untuk bantu menggairahkan SSB yang sudah ada pun enggan. Visi pembangunan sepak bola usia dini menjadi tak tampak dalam aksi. Yang lebih memprihatinkan adalah hilangnya NTT dalam Pertamina Piala Seoratin U15 2017. PSSI NTT sepertinya sudah mengurus hal yang lain, dan bukan lagi mengurus sepak bola sampai kecolongan tidak mengirim tim untuk turnamen resmi PSSI ini.

Hal berikut adalah soal tidak adanya kompetisi rutin di NTT. Kita masih mengandalkan kompetisi El Tari Memorial Cup (ETMC) yang masuk dalam format kasta liga 3 PSSI. Tidak mengherankan banyak potensi sepak bola NTT yang tidak muncul ke permukaan. Beberapa nama seperti Yabes Roni, Bily Keraf, Alsan Sanda muncul karena proses talent scouting yang dilakukan oleh pelatih Timnas. Bukan atas jasa PSSI NTT. Mengurus kompetisi liga 3 ETMC 2017 juga tidak beres. Berakhirnya kompetisi ini dengan kisruh antara Perse Ende dan PSN Ngada hingga kini menimbulkan keresahan dan tanda tanya besar. PSSI NTT tidak mampu menggelar turnamen secara profesional. Niat baik PSSI Pusat mengirim supervisor ditolak. Alhasil kapasitas stadion dilangkahi demi memuluskan deal-deal di belakang layar. Lebih lucu lagi, PSSI NTT melakukan investigasi untuk persoalan yang mereka sendiri terlibat di dalamnya. Hal yang ditertawakan oleh publik sepak bola NTT.

Persoalan lain adalah apakah yang sudah dilakukan PSSI NTT untuk meningkatkan kompetensi para wasit dan pelatih sepak bola di NTT? Kalau satu tahun satu kali mengadakan coaching clinic untuk para pelatih, itu bukan prestasi. Organisasi lain di  luar PSSI bisa melakukan hal yang lebih dari itu. Tidak adanya terobosan luar biasa yang dilakukan PSSI NTT menyebabkan perkembangan sepak bola NTT begitu-begitu saja. Ada yang berprestasi, itu benar, tetapi bukan hasil karya PSSI NTT. Itu jerih lelah orang-orang yang punya passion untuk sepak bola, di saat PSSI NTT justru kehilangan passion semacam  itu.

Mencari untuk Besok

Pengurus PSSI NTT hari ini adalah pengurus yang diliput banyak persoalan seputar sepak bola di NTT. Itu berarti bertitik tolak dari realitas ini, publik NTT mendamba lahirnya figur-figur pengurus PSSI NTT yang baru, yang mengusung spirit perubahan, yang memiliki passion untuk sepak bola, yang mencintai sepak bola dan rela berkorban bagi kemajuan sepak bola NTT. Hemat saya, ada beberapa catatan untuk ini.

Pertama, mengharap hadirnya kepengurusan PSSI dari kalangan eksekutif (gubernur, bupati/walikota) sudah tidak memberikan garansi lagi. Selama ini, Ketua PSSI di Provinsi atau Kabupaten/Kota kebanyakan mereka yang memiliki jabatan di bidang eksekutif baik sebagai gubernur/bupati/walikota. Alasannya, dari aspek anggaran mereka bisa mem-back up melalui APBD. Pertanyaannya, jika persoalan sepak bola NTT hari ini karena minim anggaran sehingga dalam banyak kompetisi atau turnamen resmi PSSI, NTT tidak terlibat, lantas untuk apa mempertahankan kekuasaan itu pada mereka? Masih ada banyak orang yang mampu berbuat untuk sepak bola tanpa mengandalkan duit dari APBD. Punya jaringan ke APBD tetapi tidak memiliki hati untuk sepak bola juga jadi soal. Berilah kesempata ini kepada pihak swasta yang benar-benar mencintai sepak bola dan mau berkorban untuk sepak bola. Duit itu bukan soal ketika ada passion sepak bola yang luar biasa.

 Kedua, carilah orang yang mempunyai hati untuk sepak bola. Orang-orang dengan tipikal ini akan melakukan apa saja agar sepak bola berkembang, bahkan mengorbankan duit dari kantong sendiri. Jangan mencari orang yang memanfaatkan posisi di kepengurusan sepak bola untuk mencari uang atau memperkaya diri. Kita mesti belajar dari turnamen-turnamen yang digelar PSSI NTT. Mengapa sering ricuh? Apakah ada kaitannya dengan uang?

 Ketiga, carilah figur yang telah melakukan terobosan-terobosan bagi sepak bola NTT tanpa berharap terlalu banyak dari APBD. Pengurus PSSI NTT mesti diisi oleh orang-orang yang banyak bekerja di lapangan, bukan banyak omong dan diplomasi. PSSI harus menjadi organ yang hidup, yang memiliki gairah hidup. Bukan organ yang hidup musiman, atau hidup menjelang ada turnamen. Tidak perlu juga mencari guru besar hingga para pakar di depan kelas. Yang terpenting adalah yang memiliki kepakaran hati sanubari bagi sepak bola.

 Keempat, carilah figur yang menguasai peta persepakbolaan NTT, nasional dan regional; figur yang memiliki jaringan lokal pun regional; figur yang dalam banyak kesempatan selalu hadir di lapangan sepak bola, entah dalam pembinaan usia dini maupun dalam sepak bola prestasi bukan figur yang piawai sepak bola di koran tetapi hatinya tak pernah sampai lapangan.

 Kita masih punya waktu untuk mencari, menimbang-nimbang, memilah-milah. Jadikan kepengurusan PSSI NTT saat ini sebagai pembelajaran. Sepak bola NTT harus lebih baik dari saat ini. Semuanya kembali kepada pemilik suara. Akankah Desember ini adalah momen perubahan sepak bola NTT? Mari mrmberikan yang terbaik.  (Anggota Komunitas Masgibol NTT)

Editor: Sipri Seko
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved