Belu Kota Tais

Semuanya tergantung konsep dari pemimpin. Ke mana arah kota itu akan sangat tergantung kepada cara berpikir

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi 

POS KUPANG.COM - Banyak daerah atau kota di NTT belum memiliki ciri khas. Kota itu belum memiliki 'jenis kelamin' alias tak jelas atau belum jelas. Karena itu untuk mendapatkan kota dengan atribut yang jelas harus terus diperjuangkan.

Semuanya tergantung konsep dari pemimpin. Ke mana arah kota itu akan sangat tergantung kepada cara berpikir pemimpin dan masyarakat.

Dalam konsep pentahelix, kota kreatif itu menyangkut siapa melakukan apa untuk mewujutkan kota kreatif itu. Kota kreatif adalah kota yang memiliki identitas khusus atau branding, dihuni oleh individu-individu yang kreatif.

Jika kota kreatif itu tergantung pemimpin kota, maka bagaimana ia mendorong semua stakeholder untuk berperan. Semua warga patut ia dorong untuk melahirkan ide-ide kreatif. Atau ide sang pemimpin itu dapat disosialisasikan kepada masyarakat agar dapat menjadi ide publik. Ini soal strategi saja dalam menggolkan ide kepada masyarakat.

Pada diskusi yang dipandu Fiki Satari dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung di Atambua, pekan lalu telah merekomendasikan sebuah produk masyarakat, tais. Tais adalah sejenis tenunan khas Belu yang sudah merakyat.

Menurut tim yang melakukan observasi lapangan di kota perbatasan negara itu, kain tais memang menjadi ciri khas. Kain itu hadir di mana-mana. Di pasar, di toko-toko dan di rumah-rumah penduduk.

Karena itu dapat disimpulkan sebagai ciri khas kota. Bolehkah Atambua disebut sebagai Kota Tais? Rasanya pas karena ketenaran tais ini pun sudah menjadi branding di mana- mana.

Di Jakarta ada dua hotel yang menggunakan nama tais meskipun owner-nya berasal dari NTT. Begitu pula di Kupang dan akan menyusul hotel di Labuan Bajo dan Sumba Barat Daya menggunakan branding tais.

Sesungguhnya pemerintah kabupaten/kota segera menciptakan atau mengondisikan kota itu agar segera berciri. Seperti kita di Kupang. Apa ciri khasnya? Apakah kita masih menggunakan branding Kupang Kota Karang, Kota Bogenvile, Kota Kasih atau apa?

Jika nama itu menjadi branding, maka harus sesuai dengan nama itu. Dan, sebuah nama branding tak boleh bernuansa negatif. Sebaliknya, memberi makna positif atau mengasosiasikan sesuatu yang wah. Misalnya, sebentar lagi akan hadir patung Kristus Raja tertinggi di dunia hadir di Kota Kefamenanu, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Kita tak boleh diam. Memperjuangkan sesuatu butuh proses dan pergumulan. Diskusi pun tak hanya sekali dan melibatkan semua elemen masyarakat. Diskusi akan memberikan ragam pemikiran. Memberi pengayaan materi dan pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Tak salah jika kita mengadopsi konsep pentahelix. *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved