19 UMKM Asal NTT Siap Ikut Expo IBT di Surabaya
Ini penjelasan Kepala Biro Ekonomi Setda NTT terkait dengan expo yang akan digelar di Surabaya
Penulis: Hermina Pello | Editor: Marsel Ali
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Hermina Pello
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sebanyak 19 UMKM dari Sikka, Sumba, Alor, Rote dan Kupang mengikuti kegiatan Indonesia Bagian Timur (IBT) Expo di Surabaya, Jawa Timur.
Penjelasan ini disampaikan Kepala Biro Ekonomi Provinsi NTT, Petrus Keron didampingi Kabag Kelembagaan Ekonomi Daerah, Arie Ondok dan koordinator UMKM, Hermanus Seran Tae, Jonny Lulan di ruang rapat Biro Ekonomi Setda Provinsi NTT, Senin (27/11 /2017).
Acara IBT Expo ini akan berlangsung mulai 29/11 /2017 hingga 3/12/2017.
Kegiatan ini merupakan kerja sama antara IBT center dengan Pusat Promosi Provinsi NTT di Surabaya dan dilaksanakan di Hotel Garden Palace Surabaya.
Diharapkan dengan adanya Expo ini produk NTT semakin di kenal di Jawa Timur dan provinsi lainnya.
Menurutnya, Expo ini tidak sama dengan kios dimana beli barang langsung dapat keuntungan tapi targetnya adalah bisa mendatangkan investor dan menghubungkan UMKM agar UMKM memiliki link.
"Kalau targetnya PAD maka ini bukan yang dicari tapi lebih daripada itu. Contoh tahun lalu setelah pelaksanaan Expo maka ada dua investor yang sudah masuk di NTT dan dua sementara dalam proses. Ini artinya ada pembukaan lapangan pekerjaan, dan peningkatan ekonomi, "katanya.
Menurutnya, alasan dipilihnya Kota Surabaya karena Surabaya merupakan kota yang hampir menguasai seluruh pasar, dan kota kedua yang siap menghadapi MEA.
" Targetnya adalah menjadikan produk dan jasa supaya lebih dikenal oleh masyarakat di Jatim dan luar Jatim," katanya.
Menurutnya, tiga UMKM dari Sumba sudah berangkat dan lainnya akan berangkat pada Selasa
Program Expo sangat baik untuk menarik minat investor untuk masuk ke NTT.
Dari pengelola IBT menyampaikan kalau dari Maluku dan Bali sudah daftar dan nantinya akan banyak yang terlibat.
Ia menambahkan, selama ini pemerintah provinsi sudah berupaya untuk memfasiltasi UMKM. Tetapi kadang kesulitan pada keberlanjutan dari produk tersebut.
Contoh untuk tenun ikat, ternyata ada banyak yang berminat namun tidak bisa dipenuhi oleh UMKM.
"Pada waktu Expo ada yang berminat karena harganya lebih murah yakni Rp 300 ribu per lembar. Dan mereka minta kalau bisa dikirim secara rutin namun UMKM tidak bisa memenuhi permintaan tersebut," katanya.
Menurutnya, jejaring UMKM belum bagus sehingga kondisi ini bisa terjadi tetapi pemerintah tetap terus berupaya untuk memfasilitasi UMKM. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/expo_20171127_183952.jpg)