Tradisi Ritual Adat Minta Berkat Leluhur di Gunung Mandeu-Belu Punya Daya Tarik Wisata

Menurut Johanes, tren wisata dunia saat ini cenderung back to nature ikut menjadi faktor pendorong.

Penulis: Fredrikus Royanto Bau | Editor: Agustinus Sape
POS KUPANG/EDY BAU
Kadis Pariwisata Kabupaten Belu, Johanes Andes Prihatin (tengah) dalam konferensi pers pembangunan pariwisata Belu di Hotel Nusantara II Atambua, Senin (20/11/2017). 

Selain hewan ternak yang dibawa, untuk kepentingan ritual, perlu ada juga jewawut yang dalam bahasa setempat disebut Tora.

Baca: Waspadai Intrik Politik Pondi dan Popo

Jika tidak ada jewawut/tora, sering diganti dengan sejenis padi beraroma harum (hare bauk morin). Tak lupa juga pinang dan daun sirih untuk ritualnya.

Tora atau hare bauk morin yang dibawa akan dimasak menjadi nasi dan akan dicampur dengan daging sudah dimasak tanpa garam atau bumbu apapun. Dijadikan sesembahan kepada leluhur.

Sedangkan siri dan pinang yang dibawa, akan dijadikan sebagai media untuk “memberitahu” leluhur tentang ritual adat ini.

Baca: Mengagumkan! Baru Belajar Memotret, Hasil Foto Nenek 88 Tahun Ini Viral di Internet, Begini Aksinya

Nantinya, setelah semua ritual selesai, sirih dan pinang akan dikunyah (dimamah) oleh tua adat untuk melakukan kaba (memberi tanda pada testa/dahi dan dada anggota suku) sembari memohon doa agar diberkati, diberi rejeki, keberhasilan dalam usaha dan dijauhkan dari kesialan atau marabahaya. (*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved