Tradisi Ritual Adat Minta Berkat Leluhur di Gunung Mandeu-Belu Punya Daya Tarik Wisata
Menurut Johanes, tren wisata dunia saat ini cenderung back to nature ikut menjadi faktor pendorong.
Penulis: Fredrikus Royanto Bau | Editor: Agustinus Sape
Karena menyakini leluhurnya pernah hidup dan tinggal di puncak gunung, anggota suku sering melakukan ritual adat sesuai keyakinan mereka. Ritual adat ini dilakukan dengan mendatangi tempat rumah (Uma Fatik atau Ksadan) di puncak gunung.
Seperti halnya, salah satu suku yang meyakini leluhurnya berasal dari Puncak Gunung Mandeu adalah suku Laka Amanas (Laka Amanas-Biku Barani).
Anggota suku ini sesungguhnya telah berkembangbiak dan bertambah banyak. Saat ini rumah suku berada di Dusun Oekofu, Desa Renrua atau berjarak sekitar 10 kilometer dari puncak gunung Mandeu.
Sedangkan anggota suku telah menyebar di desa-desa sekitarnya seperti Desa Mandeu Raimanus, Desa Faturika, Dua Koran dan daerah lainnya.
Baca: Polsek Aesesa-Nagekeo Roadshow ke Parpol, Bangun Pemahaman Bersama
Bahkan dalam tutur adat disebutkan bahwa leluhur orang Malaka, Kabupaten Malaka juga berasal dari puncak gunung ini.
Baru-baru ini, Sabtu (4/11/2017) puluhan anggota Suku Laka Amanas mendatangi puncak Gunung Mandeu, tepatnya di tempat yang disebut Ksadan Malaka.
Kedatangan anggota suku ini bukan untuk sekadar jalan-jalan atau berpiknik. Melainkan datang membawa hewan berupa babi dan ayam serta niatan yang tulus untuk “meminta berkat” kekuatan dan rejeki kepada leluhur.
Dalam bahasa Tetun, ritual meminta berkat ini sering di sebut Hana’i atau ada yang menyebutnya Husu Matak Malirin (minta berkat).
Baca: Rekomendasi Dewan Pakar, Golkar Harus Segera Gelar Munaslub Pilih Pengganti Setya Novanto
Dalam kehidupan sehari-hari terkadang orang setempat menyebutnya Sa’e Foho (mendaki gunung dalam artian menuju tempat leluhur untuk minta berkat) atau ba tunu (pergi bakar/ lebih pada persembahan hewan kurban) yang bisa diterjemahkan sebagai prosesi adat meminta berkat kepada leluhur.
Tradisi ini biasanya dilakukan setahun sekali atau terkadang dilakukan jika ada anggota suku yang mendapat petunjuk melalui mimpi.
Jika ada seorang anggota suku yang mendapat petunjuk, dia akan memberitahu ketua suku atau tua adat untuk segera dilakukan ritualnya.
Anggota suku yang mendapat petunjuk ini biasanya akan menanggung hewan ternak besar (bisa babi atau sapi) untuk disembelih.
Sedangkan anggota suku lainnya hanya membawa ayam jantan yang juga nantinya akan disembelih untuk bisa “melihat” jalan kehidupan atau berkat apa yang bakal diterima. Prosesi ini disebut leno urat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pariwisata-belu_20171120_231027.jpg)