Setiap Bulan 20 Warga Kabupaten Sikka Terkena Stroke
Jumlah ini tergolong sangat besar untuk Kabupaten Sikka yang hanya berpenduduk 315.477 jiwa.
Penulis: Eugenius Moa | Editor: Agustinus Sape
Laporan Wartawan Pos-Kupang.com, Eginius Mo’a
POS.KUPANG.COM | MAUMERE - Diagnosa penyakit stroke dilakukan di RSUD dr.T.C. Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, selama dua tahun (Januari 2015 - Januari 2017) terdapat 468 pasien.
Jumlah ini tergolong sangat besar untuk Kabupaten Sikka yang hanya berpenduduk 315.477 jiwa.
Artinya setiap bulan, hampir mendekati 20 orang yang menderita stroke dan dirawat di RSUD dr TC Hillers.
“Dari jumlah itu, 87% pasien berdomisili di Sikka dan 13% pasien lainnya adalah rujukan dari kabupaten lain di Pulau Flores yang jarak tempuh kurang lebih 4-8 jam perjalanan darat.
Usia penderita yang cenderung semakin muda, bahkan ada dua orang yang terkena stroke pada di bawah 34 tahun,” dr. Candida Isabel Lopes Sam, Sp.S, Spesialis Saraf/Neurologist dari RSUD Maumere, dalam seminar awam di Apotdk Agradaece Maumere, pada peringatan Hari Stroke Sedunia, Minggu (29/10/2017).
Candida menjelaskan, faktor risiko paling banyak didapatkan pada pasien stroke yang dirawat di RSUD TC Hillers yakni hipertensi (85%).
Penyakit diabetes melitus didapatkan terjadi pada 13,8% dari seluruh pasien yang dirawat.
Pasien yang memiliki gangguan irama jantung, atrial fibrilasi, hanya sebesar 1,8%. Padahal cardiac emboli akibat dari atrial fibrilasi merupakan salah satu penyebab utama stroke. Hal ini seringkali sulit dideteksi karena banyaknya penderita atrial fibrilasi yang bersifat paroksismal.
Candida mengatakan, stroke merupakan penyakit kegawatdaruratan neurologi yang bersifat akut menjadi salah satu penyebab kecacatan dan kematian tertinggi di beberapa negara di dunia.
Data terakhir (2016), terdapat sekitar 17 juta kasus stroke, sebanyak 6,5 juta pasien mengalami kematian dan 26 juta pasien yang masih hidup.
Di Kanada, Eropa, dan Jepang, stroke merupakan penyebab ketiga kematian dan kecacatan pada orang dewasa, sementara di Korea Selatan sama seperti Indonesia yaitu menjadi penyebab kematian nomor satu.
Perbedaan ini dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari kesadaran masyarakat hingga ke tingkat pengetahuan petugas kesehatan akan pentingnya manajemen stroke pada fase akut dengan menggunakan metode reperfusi yang mutakhir.
Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan RI tahun 2013 menyebutkan stroke di Indonesia merupakan penyebab kematian tertinggi di luar penyakit infeksi.
Prevalensi stroke di Indonesia adalah 12.1%.
Provinsi paling tinggi adalah Sulawesi Selatan (17.9%) dan NTT berada di posisi ke-12 dengan angka (12.1%). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/seminar-stroke_20171030_234531.jpg)