Ini Salah Satu Tujuan Mengapa Warga TTS Memamerkan Hasil Kerajinannya
Inilah salah satu tujuan mengapa warga di Kampung TTS nekad mengikuti pameran hasil kerajinan di Kota Soe
Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: Marsel Ali
Laporan wartawan Pos Kupang, Novemy Leo
POS KUPANG.COM, SOE - SEJAK Senin (9/10/2017) pagi, lapangan Suspenmas SoE sudah ramai dipadati ribuan masyarakat Kabupaten TTS. Puluhan stand pameran sudah menghiasi dua sisi lapangan itu.
Hari itu berlangsung pembukaan pameran dan Festival Pah Meto TTS di SoE. Pameran ini akan berlangsung hingga Sabtu (14/10/2017) malam.
Sejumlah pejabat daerah di Kabupaten Timor Tengah Seatan (TTS) seperti Bupati TTS, Paul Mella, pimpinan DPRD, 32 camat, 13 lurah, muspida, termasuk Pejabat Propinsi NTT seperti Guebrnur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan istrinya, Ny. Lusia Adinda Lebu Raya beserta Kadis PPO NTT, Sinun Petrus Manuk, hadir dalam kegiatan itu.
Ribuan masyarakat yang terdiri dari petani, peternak, dokter, pendeta, pelajar, hingga berbagai komunitas dan paguyuban di TTS juga tumpah ruah di sana.
Acara pembukaan itu didahului dengan karnaval, selanjutnya dilakukan tarian bonet secara massal dan seremonial makan putak, salah satu pangan lokal TTS.
Atraksi atraksi kesenian dari berbagai kecamatan ikut mewarnai pembukaan kegiatan Fesival Pah Meto itu.
Pameran dan festival Pah Meto selama 6 hari sejak tanggal 9-14 Oktober 2017 itu akan diisi dengan berbagai kegiatan yang diikuti oleh sejumlah SKPD, kecamatan, kelurahan dan masyarakat.
Seperti lomba tarian Bonet, lomba cipta menu pangan lokal, lomba fashion show pakaian motif tenun daerah, lomba mars Lagu PKK, Lomba Lari Boti dan juga pameran makanan lokal dan hasil olahan, kerajinan kain tenun, ukiran, pahatan dan daur ulang.
Setiap tim peserta festival dan peserta pameran berupaya menampilkan hasil atau produk kerajinan dan atraksi terbaiknya.
Tak ada tujuan lain dari apa yang mereka pamerkan itu mereka ingin sekali produk mereka bisa dilihat dan dibeli oleh masyarakat pengunjung.
Vincent Tapatab dari Kecamatan Tobu mengatakan, mereka membawa ubi ungu, ubi kayu, ubi keladi, jagung dan madu.
Hasil yang menonjol dari Kecamatan Tobu, kata Vincent, yakni ubi ungu dan madu.
"Ubi Ungu dari Kecamatan Tobu sudah dipasarkan sampai ke Kupang," kata Vincent, Rabu (11/10/2017).
Agus dari Kecamatan Amanatun Utara hasil kerajinan tangan dari bahan dasar tempurung kelapa.
Produk kerajinan itu dibuat berbentuk asbak, tempat sirih, gelas, toples dan hiasan meja. Harga jualnya sekitar Rp 30.000.
Agus mengatakan, dia baru belajar membuat kerajinan dari tempurung kelapa itu sehingga belum ada pasaran.
"Saya harap dengan pameran ini hasil kerajinan saya bisa dikenal masyarakat dan akhirnya saya bisa punya pemasaran," kata Agus, Senin (9/10/2017). (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/menari-bonet_20171010_012145.jpg)