Harga Fantastis Hotel Terapung Rp 60 Juta Semalam Ada di Labuan Bajo
Ini termasuk harga fantastis dari Hotel Terapung yang ada di Labuan Bajo, Manggarai Barat
Penulis: Servan Mammilianus | Editor: Marsel Ali
Laporan wartawan Pos Kupang, Servan Mammilianus
POS KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Kalau selama ini, kita selalu menggelengkan kepala mendengarkan betapa mahalnya biaya hotel hanya untuk semalam mencapai puluhan juta rupiah.
Kenyataan seperti ini, ternyata sudah sejak lama ada di Hotel terapung atau Kapal Mewah di Labuan Bajo untuk berwisata sekaligus menginap per malamnya mencapai Rp 60 juta.
Namun harga yang dibayar, tergantung jenis kapal dan fasilitas yang disiapkan di dalamnya.
Beberapa spot atau pulau yang menjadi pilihan kapal berlabuh untuk menjadi tempat inapnya wisatawan dalam kapal, yakni Gililawa, Padar, Kalong di Komodo dan Pulau Kambing serta beberapa lokasi lainnya.
Scuba School Internasional (SSI) Dive Master Instructor Labuan Bajo, Stanislaus Stan yang juga pemilik kapal, menyampaikan bahwa harga kapal untuk hotel terapung, berbeda antara kapal wisata milik warga lokal dengan kapal mewah milik pengusaha.
"Harga kapal per malamnya tergantung model dan fasilitas kapal. Kalau kapal mewah bisa mencapai Rp 60 juta per malam. Kapal itu terdiri dari 6 kamar, sehingga kapasitasnya bisa 12 orang menginap. Harga tergantung kelas kapal, ada juga yang harga Rp 20 juta sampai Rp 30 juta per malam. Kalau kapal lokal Rp 5 juta sampai Rp 8 juta per malam, biasanya dipakai oleh para backpacker," kata Stanis kepada Pos Kupang, Rabu (11/10/2017).
Wisatawan yang ingin melihat sunset sekaligus sunrise, maka pilihan menginapnya, kata dia di Gililawa. Sedangkan wisatawan yang hanya ingin menikmati sunrise, maka pilihannya di Pulau Padar.
Hal yang paling penting, kata Stanis, bukanlah harga kapal, namun standarisasi yang ditentukan oleh pemerintah.
"Standar kapal untuk wisatawan itu tidak boleh hanya ditegaskan kepada pengusaha kapal. Namun kapal-kapal lokal juga juga harus berlaku sama. Misalnya diwajibkan untuk pelatihan penanganan kondisi darurat," kata Stanis.
Terkait kondisi itu, dia mencontohkan penyediaan jeket pelampung.
"Pelampung itu tidak sekedar ada tetapi malah disimpan di dalam lemari kapal. Bagaimana kalau terjadi sesuatu. Demikian juga dengan kesiapan oksigen termasuk sarana untuk pemadam kebakaran serta skoci, harus ada. Jangan sampai ada kapal wisata yang tidak siapkan itu. Makanya harus ada standarisasi oleh pemerintah," tutur Stanis.
Menurutnya, bisnis kapal wisata di Labuan Bajo juga diwarnai ego negara.
"Selama ini hampir semua backpacker menggunakan kapal lokal. Sedangkan kelas menengah ke atas, memakai kapal mewah. Yang menjadi persoalan adalah adanya ego negara. Misalnya, wisatawan dari Jerman akan menggunakan kapal milik pengusaha Jerman. Ini mestinya diatur, kalau tidak maka pengusaha lokal akan mati," tutur Stanis.
Dikonfirmasi terpisah, pemandu wisata di Labuan Bajo, Alfonsius Basri, menuturkan bahwa wisatawan yang menggunakan hotel terapung, biasanya selama 3 hari dan 2 malam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/labuan-bajo_20170826_100854.jpg)