Kamis, 30 April 2026

Robert Soter Marut

Dari Teknisi Pesawat Tempur Menjadi 'Teknisi' Flobamorata

Sekali melangkah maju, pantang untuk mundur. Itulah komitmen Robert selama mengikuti pendidikan kemiliteran.

Tayang:
Editor: Benny Dasman
ISTIMEWA
Marsda TNI (Purn) Robert Soter Marut, M.Sc 

--------------------------------------------------------------------
Kerja keras, komitmen, tidak berhenti belajar serta kedisiplinan, telah mengantar Marsda TNI (Purn) Robert Soter Marut menapaki tugas sebagai prajurit angkatan udara negeri ini.
----------------------------------------------------------------------

PRIA yang berulang tahun pada 22 April ini, lahir dan tumbuh di dalam keluarga guru. Ayah dan ibundanya pendidik, mengabdikan diri di wilayah pedesaan Manggarai, NTT. Pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat pedesaan menjadi hal utama di dalam keluarganya.

Robert menghabiskan masa kanak-kanaknya di Todo, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, tempat dia dilahirkan dan menamatkan sekolah dasar.

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah dasar, terbesit cita-citanya menjadi seorang pastor. Robert pun masuk gerbang pendidikan Seminari St. Pius XII Kisol, Manggarai Timur. Ia ditempa dalam irama pendidikan yang teratur dan taat akan peraturan. Baginya, pendidikan di seminari merupakan ladang belajar disiplin dan mandiri.

Namun, menjadi pastor bukanlah panggilan hidup Robert. Tuhan telah menyediakan ladang lain untuk ia berbakti. Setelah menamatkan pendidikan SMP di seminari, ia melanjutkan studi di SMA Swadaya Ruteng, kini SMA Negeri 1 Ruteng.

Pada tahun 1976, SMA Swadaya mengikuti Pawai HUT Kemerdekaan RI. Pihak sekolah berinisiatif menampilkan Roket Palapa yang baru diluncurkan oleh Pemerintah RI. Dengan senang dan gembira, para siswa yang ditunjuk pihak sekolah, termasuk Robert, membuat replika Roket Palapa. Robert ditunjuk menjadi astronotnya pada saat pelaksanaan pawai.

Pengalaman membuat roket dan berperan menjadi astronot ini tetap membekas di benak Robert. Dari situlah terbesit cita-cita menjadi Prajurit Negara. Ia ingin mengabdikan diri menjadi punggawa pertahanan negeri ini. Setelah menamatkan SMA, Robert merantau ke Jakarta melanjutkan pendidikan. Salah satu sasarannya masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).

Robert mengikuti seleksi masuk AKABRI di Daerah Kodam Jayakarta. Dari ribuan pendaftar, Robert lulus seleksi tingkat daerah dan dikirim untuk mengikuti seleksi tingkat pusat di Magelang. Selama sebulan mengikuti seleksi tingkat pusat di Magelang, Robert dinyatakan lulus dan diterima untuk dididik menjadi Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Sekali melangkah maju, pantang untuk mundur. Itulah komitmen Robert selama mengikuti pendidikan kemiliteran. Dengan tekun dan kerja keras, ia melalui aneka pendidikan dan tempaan dunia militer di kawah Candradimuka Magelang selama setahun.

Bisa jadi, pengalamannya berperan sebagai "astronot-astronotan", membuat ia terpilih untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AKABRI UDARA) di Jogyakarta dan bergabung dengan Jurusan Aeronautika, yang mengantarnya menjadi Teknisi Pesawat Terbang Angkatan Udara yaitu Teknisi Pesawat Tempur.

Kerja keras, komitmen dan tidak berhenti belajar serta kedisiplinan, telah mengantar Marsda TNI (Purn) Robert Soter Marut menapaki tugas sebagai prajurit angkatan udara negeri ini. Semua itu ia jalani tak semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada tantangan dan rintangan dalam tapak-tapak perjalanan kariernya di dunia militer.  Robert pun terus mengasah dan menempa kemampuan sebagai teknisi pesawat tempur.

Karir militernya diawali dengan penempatan pertama pada tahun 1982 di Pangkalan Utama Angkatan Udara Iswahjudi Madiun yang merupakan Pangkalan Khusus Pesawat Tempur. Cuma setahun di Madiun, Robert ditugaskan untuk membawa bersamanya 25 keluarga untuk pindah ke Pangkalan Udara Pekanbaru sebagai bagian dari Operasi Boyong dalam rangka penempatan Skadron Udara di luar Pulau Jawa.

Dari sini Robert belajar untuk mandiri dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan personel teknisi karena jauh dari pusat dukungan logistik. Sebagai teknisi pesawat tempur A-4E Skyhawk, Robert dan seluruh teknisi berusaha belajar terus dan sangat waspada. Sebab, pesawat yang disiapkan untuk melaksanakan tugas operasi bukan pesawat baru tetapi bekas pakai negara lain, sehingga benar-benar disiapkan secara cermat.

Pada tahun 1993, Robert diberi kesempatan belajar di Cranfield University, Inggris, mengambil jurusan Gas Turbine Design. Sekembali dari Inggris, Robert ditugaskan kembali di Lanud Pekanbaru.

Pada tahun 1996, Robert kembali ditugaskan di Inggris menjadi Technical Representative di pabrik pesawat Hawk Mk-109/209 BAe System Ltd, British Aerospace, yang dibeli oleh Pemerintah Indonesia menggantikan Pesawat A-4E Skyhawk yang telah berbakti untuk menjaga wilayah udara Nusantara.

Tugas sebagai Technical Representative di pabrik pembuat pesawat tempur canggih, Hawk, adalah untuk menjamin hasil produksi sesuai dengan Technical Specification yang diinginkan TNI Angkatan Udara. Tugas ini dilaksanakan selama delapan bulan bersama para ahli berkebangsaan Inggris di British Aerospace.

Setelah tuntas melaksanakan tugas di Inggris, Robert harus kembali ke tanah air untuk melaksanakan pendidikan Sekolah Staf Komando Angkatan Udara (SESKOAU) di Lembang, Bandung, tahun 1997/1998.

Setelah menyelesaikan Pendidikan SESKOAU, Robert diangkat menjadi Komandan Skadron Teknik 045 di Lanud Pekanbaru, bertugas memelihara Pesawat Hawk Mk-109/209 agar selalu siap operasional. Kemudian menjadi Kepala Dinas Logistik Lanud Pekanbaru sampai tahun 2002.

Pada tahun 2002 itu juga Robert mendapat kesempatan melaksanakan pendidikan Sekolah Staf dan Komando Gabungan (SESKOGAB) yang saat ini menjadi SESKO TNI. Pada saat yang sama Robert mendapat surat keputusan menjadi Dosen dan Perwira Penuntun di SESKOAU Lembang Bandung.

Pada masa sebagai dosen tersebut, Robert juga ditugaskan untuk menjadi Sekretaris Proyek Pengadaan Pesawat Hawk Mk-209 Batch II. Pada saat menjadi dosen inilah Robert mendapat kenaikan golongan dan pangkat menjadi Kolonel.

Setelah bertugas sebagai dosen selama dua tahun, Robert diangkat menjadi Kasubdisbinproftek. Tugasnya mengadministrasikan pendidikan dan penempatan personel korps teknik dibawah Kepala Dinas Aeronautika Angkatan Udara. Di Dinas Aeronautika Angkatan Udara, Robert menjabat tiga jabatan berturut-turut yaitu sebagai Kasubdisbinproftek, Kasubdispeslatu (pesawat latih utility) dan Kasubdispespur (pesawat tempur).

Pada akhir tahun 2008, Robert pindah tugas menjadi Direktur Personel di Mako Koharmatau (Komando Pemeliharaan Materiel Angkatan Udara). Jabatan ini diembannya hanya 6 bulan karena diberi tugas belajar di National Institute for Defence Studies (NIDS) setara LEMHANAS di Tokyo, Jepang, selama 10 bulan. Setelah kembali ke tanah air, Robert ditugaskan sebagai Sekretaris Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (DISLITBANGAU) di Bandung.

Penugasan sebagai Sekretaris DISLITBANGAU dijalankan selama 6 bulan, kemudian dipindahtugaskan menjadi Perwira Pembantu (Paban) III/Aero Staf Logistik Angkatan Udara sampai akhir tahun 2011 dan juga ditugaskan sebagai Kepala Proyek Pengadaan Pesawat Tempur Taktis Super Tucano dari Brazil.

Pada tahun yang sama, KASAU mengangkat Robert sebagai Perwira Tinggi Sahli KASAU Bidang Strategi Pertahanan. Robert bertugas sebagai Pati Sahli KASAU Bidang Strategi Pertahanan selama enam bulan, kemudian KASAU menunjuk Robert menjadi Kepala Dinas Materiel Angkatan Udara, yang bertugas menerima, menyimpan, mendistribusikan semua materiel Angkatan Udara yang dibeli, serta mengadministrasikannya sebagai aset negara.

Di sini Robert membuat aplikasi digital untuk pengelolaan materiel Angkatan Udara secara terintegrasi mulai dari MABESAU sampai pengguna paling depan yaitu Skadron Udara. Aplikasi tersebut disebut Integrated Logistic Support Management System (ILSMS), yang mengintegrasikan semua kegiatan pemeliharaan dan pembekalan materiel untuk mendukung transparansi proses dan data valid terhadap dukungan logistik semua pesawat Angkatan Udara.

Robert ditugaskan sebagai KADISMATAU selama 1 tahun 4 bulan, kemudian ditugaskan sebagai Kepala Dinas Aeronautika Angkatan Udara (KADISAEROAU), yang bertugas menyiapkan seluruh pesawat Angkatan Udara dan Amunisi serta Alat Pendukungnya dan Pembinaan Personel Korps Teknik. Jabatan Kadisaeroau dijalankan selama 4 bulan.

Pada tahun 2015, KASAU mengangkat Robert menjadi Komandan KOHARMATAU, jabatan Bintang Dua. Sebagai Komandan KOHARMATAU, Robert bertugas memelihara semua pesawat Angkatan Udara dan melaksanakan pemeliharaan tingkat berat, baik berupa overhaul pesawat maupun komponennya serta menyiapkan amunisi. Di samping itu, membantu satuan pemeliharaan di Lanud-Lanud apabila perlu penanganan engineering dan perbaikan besar.

Tujuh satuan Depo Pemeliharaan yang melaksanakan tugas di bawah komando KOHARMATAU antara lain: (1) Depo Pemeliharaan 10 di Bandung yang merawat dan memelihara Pesawat Angkut, Helikopter dan Pesawat Latih. (2)Depo Pemeliharaan 20 di Lanud Iswahjudi Madiun yang bertugas memelihara peralatan Avionic semua Pesawat dan Alat Ukur Presisinya. (3) Depo Pemeliharaan 30 berkedudukan di Lanud Abdulrachman Saleh Malang yang bertugas memelihara pesawat Tempur, Angkut dan Engine C-130 Hercules.

(4) Depo Pemeliharaan 40 berkedudukan di Lanud Sulaiman Bandung yang bertugas memelihara simulator dan peralatan elektronik pendukung operasi setiap Pangkalan Udara. (5) Depo Pemeliharaan 50 berkedudukan di Lanud Adi Sumarmo Solo yang bertugas memelihara Radar darat dan menjamin kesiapan Radar Angkatan Udara dapat bekerja selama 24 jam.

(6) Depo Pemeliharaan 60 berkedudukan di Lanud Iswahjudi Madiun yang bertugas menjamin kesiapan Rudal, dan amunisi baik kualitas maupun kuantitas untuk mendukung kesiapan operasi Angkatan Udara. (7) Depo Pemeliharaan 70 berkedudukan di Lanud Sulaiman Bandung yang bertugas menjamin kesiapan peralatan dukungan keamanan dan keselamatan terbang, Ground Support Equipment dan Produksi Oksigen untuk dukungan penerbangan dan Rumah Sakit.

Jabatan Komandan KOHARMATAU merupakan jabatan yang diimpikan oleh Perwira Korps Teknik Angkatan Udara. Oleh karena itu Robert memahami bahwa organisasi yang dipimpinnya haruslah diisi oleh personel profesional yang disiapkan secara berjenjang dan berkelanjutan.

Pada jabatan tersebut juga Robert menyusun cara menghitung Operational dan Maintenance Cost bagi seluruh pesawat angkatan udara dan membuat buku panduan untuk dijadikan dasar perencanaan dukungan Pesawat Angkatan Udara. Ilmu dan pengalamannya dalam bidang ini ditularkan kepada junior-juniornya supaya menjadi prajurit Teknik Angkatan Udara yang profesional dan berpengetahuan handal.

Sebagai seorang yang dituakan dalam Korps Teknik Angkatan Udara, Robert pun harus menyiapkan penggantinya yang akan meneruskan tugasnya. Pada Oktober 2016 atau 6 bulan sebelum masa pensiun dari TNI Angkatan Udara, Robert menghadap KASAU untuk minta jabatannya diganti oleh juniornya untuk memberi kesempatan kepada mereka mengembangkan karier dan kemampuannya.

Pada saat itu KASAU menolak dengan alasan Robert masih lama pensiunnya. Namun dengan penjelasan agar regenerasi berjalan dengan baik bagi Korps Teknik, KASAU mengizinkan untuk istirahat dari jabatan DANKOHARMATAU menjadi Staf Khusus KASAU sambil menunggu pensiun pada 1 Mei 2017.

Selama menjalankan tugas di TNI Angkatan Udara, Robert dianugerahi beberapa Tanda Jasa Kesetiaan dan Bintang Jasa yaitu: (1) Tanda Jasa Kesetiaan 8 Tahun, (2) Tanda Jasa Kesetiaan 16 Tahun, (3) Tanda Jasa Kesetiaan 24 Tahun, (4) Tanda Jasa Kesetiaan 32 Tahun, (5) Satya Lencana GOM VII Aceh, (6) Satya Lencana Seroja, (7) Satya Lencana Dwijasista, (8) Bintang Jasa Dharma Dirgantara, (9) Bintang Jasa Swabhuana Phaksa Nararya, (10) Bintang Jasa Swabhuana Phaksa Pratama, (11) Bintang Jasa Yudha Dharma Nararya. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved