Robert Soter Marut
Dari Teknisi Pesawat Tempur Menjadi 'Teknisi' Flobamorata
Sekali melangkah maju, pantang untuk mundur. Itulah komitmen Robert selama mengikuti pendidikan kemiliteran.
--------------------------------------------------------------------
Kerja keras, komitmen, tidak berhenti belajar serta kedisiplinan, telah mengantar Marsda TNI (Purn) Robert Soter Marut menapaki tugas sebagai prajurit angkatan udara negeri ini.
----------------------------------------------------------------------
PRIA yang berulang tahun pada 22 April ini, lahir dan tumbuh di dalam keluarga guru. Ayah dan ibundanya pendidik, mengabdikan diri di wilayah pedesaan Manggarai, NTT. Pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat pedesaan menjadi hal utama di dalam keluarganya.
Robert menghabiskan masa kanak-kanaknya di Todo, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, tempat dia dilahirkan dan menamatkan sekolah dasar.
Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah dasar, terbesit cita-citanya menjadi seorang pastor. Robert pun masuk gerbang pendidikan Seminari St. Pius XII Kisol, Manggarai Timur. Ia ditempa dalam irama pendidikan yang teratur dan taat akan peraturan. Baginya, pendidikan di seminari merupakan ladang belajar disiplin dan mandiri.
Namun, menjadi pastor bukanlah panggilan hidup Robert. Tuhan telah menyediakan ladang lain untuk ia berbakti. Setelah menamatkan pendidikan SMP di seminari, ia melanjutkan studi di SMA Swadaya Ruteng, kini SMA Negeri 1 Ruteng.
Pada tahun 1976, SMA Swadaya mengikuti Pawai HUT Kemerdekaan RI. Pihak sekolah berinisiatif menampilkan Roket Palapa yang baru diluncurkan oleh Pemerintah RI. Dengan senang dan gembira, para siswa yang ditunjuk pihak sekolah, termasuk Robert, membuat replika Roket Palapa. Robert ditunjuk menjadi astronotnya pada saat pelaksanaan pawai.
Pengalaman membuat roket dan berperan menjadi astronot ini tetap membekas di benak Robert. Dari situlah terbesit cita-cita menjadi Prajurit Negara. Ia ingin mengabdikan diri menjadi punggawa pertahanan negeri ini. Setelah menamatkan SMA, Robert merantau ke Jakarta melanjutkan pendidikan. Salah satu sasarannya masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI).
Robert mengikuti seleksi masuk AKABRI di Daerah Kodam Jayakarta. Dari ribuan pendaftar, Robert lulus seleksi tingkat daerah dan dikirim untuk mengikuti seleksi tingkat pusat di Magelang. Selama sebulan mengikuti seleksi tingkat pusat di Magelang, Robert dinyatakan lulus dan diterima untuk dididik menjadi Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Sekali melangkah maju, pantang untuk mundur. Itulah komitmen Robert selama mengikuti pendidikan kemiliteran. Dengan tekun dan kerja keras, ia melalui aneka pendidikan dan tempaan dunia militer di kawah Candradimuka Magelang selama setahun.
Bisa jadi, pengalamannya berperan sebagai "astronot-astronotan", membuat ia terpilih untuk melanjutkan pendidikan di Akademi Angkatan Udara (AKABRI UDARA) di Jogyakarta dan bergabung dengan Jurusan Aeronautika, yang mengantarnya menjadi Teknisi Pesawat Terbang Angkatan Udara yaitu Teknisi Pesawat Tempur.
Kerja keras, komitmen dan tidak berhenti belajar serta kedisiplinan, telah mengantar Marsda TNI (Purn) Robert Soter Marut menapaki tugas sebagai prajurit angkatan udara negeri ini. Semua itu ia jalani tak semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada tantangan dan rintangan dalam tapak-tapak perjalanan kariernya di dunia militer. Robert pun terus mengasah dan menempa kemampuan sebagai teknisi pesawat tempur.
Karir militernya diawali dengan penempatan pertama pada tahun 1982 di Pangkalan Utama Angkatan Udara Iswahjudi Madiun yang merupakan Pangkalan Khusus Pesawat Tempur. Cuma setahun di Madiun, Robert ditugaskan untuk membawa bersamanya 25 keluarga untuk pindah ke Pangkalan Udara Pekanbaru sebagai bagian dari Operasi Boyong dalam rangka penempatan Skadron Udara di luar Pulau Jawa.
Dari sini Robert belajar untuk mandiri dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan personel teknisi karena jauh dari pusat dukungan logistik. Sebagai teknisi pesawat tempur A-4E Skyhawk, Robert dan seluruh teknisi berusaha belajar terus dan sangat waspada. Sebab, pesawat yang disiapkan untuk melaksanakan tugas operasi bukan pesawat baru tetapi bekas pakai negara lain, sehingga benar-benar disiapkan secara cermat.
Pada tahun 1993, Robert diberi kesempatan belajar di Cranfield University, Inggris, mengambil jurusan Gas Turbine Design. Sekembali dari Inggris, Robert ditugaskan kembali di Lanud Pekanbaru.
Pada tahun 1996, Robert kembali ditugaskan di Inggris menjadi Technical Representative di pabrik pesawat Hawk Mk-109/209 BAe System Ltd, British Aerospace, yang dibeli oleh Pemerintah Indonesia menggantikan Pesawat A-4E Skyhawk yang telah berbakti untuk menjaga wilayah udara Nusantara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ribert-marut_20171010_142233.jpg)