Mengharukan! Kekerasan Seksual Digunakan Sebagai Alat Teror Untuk Memaksa Populasi Rohingya

Siapa pun akan merasa terharu dengan cara sadis yang memperkosa kaum wanita di depan anaknya sendiri

Mengharukan! Kekerasan Seksual Digunakan Sebagai Alat Teror Untuk Memaksa Populasi Rohingya
ANTARA FOTO/ REUTERS/ Mohammad Ponir Hossain
Pengungsi Rohingya berjalan menuju pantai dengan harta benda mereka setelah menyebrangi perbatasan Bangladesh-Myanmar menggunakan perahu melalui Teluk Benggala di Teknaf, Bangldesh, Selasa (5/9). 

POS KUPANG.COM, LEDA - Shamila mencengkeram tangan putrinya dengan sangat rapat sehingga berubah menjadi putih, saat menceritakan bagaimana tentara Myanmar memperkosanya.

Shamila adalah salah satu warga Rohingya yang kini berada di kamp penampungan Reda, di Banglades.

Dia bercerita tentang kejadian memilukan saat tentara Myanmar memperkosanya di depan anak-anaknya.

Kisah semacam ini berulang kali terdengar dari mulut para pengungsi Rohingya, yang ada di kamp-kamp penampungan.

Pengamat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pun mengaku telah mendapati sejumlah korban perkosaan, pada mereka yang kabur dari kekerasan di Myanmar dalam beberapa pekan terakhir.

Hampir semuanya mengatakan, pelaku adalah orang-orang berseragam yang mereka yakini sebagai anggota militer Myanmar.

Kasus tersebut, menurut para ahli, hampir pasti merupakan "puncak gunung es", dari perkara serupa yang jumlahnya lebih banyak lagi.

Stigma sosial seputar korban pemerkosaan dan tantangan untuk menemukan tempat berteduh dan makanan, semakin menambah beban kaum perempuan yang menjadi korban.

Shamila, bukan nama sebenarnya. Dia mengaku masih berdarah, bahkan hingga dia tiba di pengungsian di Banglades, meski telah berjalan kaki tiga hari.

"Semua tiga tentara memperkosa saya," katanya sambil menangis.

Halaman
12
Editor: Marsel Ali
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved