Sabtu, 2 Mei 2026

Inovasi Tradisional dari Pinggiran NKRI

Modifikasi Tempurung Kelapa Jadi 'Tower' Penguat Sinyal, Cara Unik Warga Lewoawang Menggenggam Dunia

Tower tempurung kelapa pun tidak diletakkan di sembarang tempat. Harus ditancapkan pada area yang sering mendapat jaringan komunikasi.

Tayang:
Penulis: Benny Dasman | Editor: Benny Dasman
ISTIMEWA
TELEPON-Seorang warga Desa Lewoawang berkomunikasi melalui jaringan tempurung kelapa. Menggunakan 'teknologi' temuan Maria Sabu Uran ini, penelepon harus berbicara dalam posisi berdiri atau membungkuk. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------
Inovasi tempurung kelapa sangat sederhana, namun kami bangga bisa berselancar di dunia maya 'menaklukkan' dunia.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

KUPANG, POS KUPANG.COM-Kampung Awan. Itu arti harafiah Lewoawang. Desa yang menjorok ke lembah ini 'menghiasi' kaki gunung berapi kembar. Tepatnya di bagian tenggara Pulau Flores, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gunung berapi kembar dikenal sebagai pasangan 'suami-istri.' Sang 'suami' disebut dengan nama Gunung Lewotobi Laki-laki (1.548 meter). Sang 'istri' disebut dengan nama Gunung Lewotobi Perempuan (1.703 meter). Keduanya hanya dipisahkan jarak sejauh dua kilometer. Kawah di puncak Lewotobi Laki-laki berdiameter 400 meter, sedangkan kawah di puncak Lewotobi Perempuan berdiameter 700 meter.

Panorama di sekitarnya membuat mata berbinar-binar. Penuh pesona. Ini menjadi alasan kuat bagi penulis untuk melakukan perjalanan jurnalistik. Reportase pariwisata. Menyisir pantai selatan Kecamatan Ile Bura hingga melingkar masuk ke Kecamatan Wulanggitang, Boru.

Suatu hari, tahun 2002, penulis melintasi 45 kilometer jalur jalan negara yang menghubungkan Kabupaten Flores Timur dan Sikka. Sepeda motor mengaspal jalan hotmiks. Mulus. Tak butuh waktu lama, sekitar satu jam dari Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, kaki menjejak Lewotobi, Desa Birawan, pusat kecamatan dari Kecamatan Ile Bura.

Pemandangan jamak kaum ibu membuat jagung titi (makanan khas Flores Timur). Sangat gurih rasanya kalau dihidangkan dengan kacang tanah yang digoreng tanpa minyak pada kuali tanah. Lebih nikmat kalau ditambah seruputan kopi panas.

Sepeda motor terus dipacu melintasi pesisir pantai selatan Ile Bura menuju Wulanggitang. Desiran ombak terdengar dikejauhan mengusir keletihan. Jalanan yang tadinya mulus dan rata, mulai berkelok-kelok. Sesekali mendaki dan menurun.

Panorama Lewoawang menyapa. Sejenak mengaso, melepas pandangan dari teras SDK Lewoawang. Menyaksikan gelombang menari-nari menghempas di bibir pantai. Menyemburkan busa putih, bertingkat-tingkat.

"Sebagian besar penduduk Lewoawang bermata pencaharian petani. Hasil pertanian utama di desa ini asam, kemiri, kakao, dan jambu mente. Dari hasil pertanian ini, kami menyekolahkan anak. Karenanya kita buka akses ke pasar agar komoditi bisa terjual," ujar Laurensius Dagang Muda, Kepala Desa Lewoawang, saat itu.

Laurensius menceritakan cikal bakal Dewa Lewoawang. Pada tahun 1969 terbentuklah Desa Gaya Baru bernama Birawan yaitu Lewotobi, Lewouran dan Lewoawang. Kepala desa pertama saat itu, Yohanes Sina Witin, berkedudukan di Lewotobi.

Selama kurang lebih 20 tahun bergabung bersama, pada tahun 1998 ada wacana pemekaran desa untuk mendekatkan pelayanan dan pemerataan pembangunan.

Pada tahun 1999, Lewoawang berpisah dari Birawan dan Buranilan berpisah dari Desa Riangbura menjadi desa persiapan selama dua tahun. "Pada tahun 2001, Lewoawang menjadi desa definitif untuk mengatur rumah tangganya sendiri," ceritanya.

Sebagaimana desa-desa lainnya, aktivitas warga di Lewoawang saat itu biasa-biasa saja. Tak ada yang mencolok. Ada yang berkebun, ada pula yang memberi makan ternak (babi) yang dikandangkan di belakang rumah. Sementara kaum ibu membuat camilan jagung titi, makanan tradisional, daya pikat wisatawan.

Pembuatan jagung titi sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi para wanita di Flores Timur. Umumnya, jagung titi menjadi makanan di pagi hari alias untuk sarapan. Sebelum jadwal sarapan, para wanita Flores Timur sudah bangun pagi dan ke dapur, membakar arang untuk kompor, lalu memanaskan panci yang terbuat dari tanah liat.

Dalam bahasa Flores Timur, titi artinya memukul. Jadi, dalam proses pembuatannya, jagung yang sudah dikupas sehingga menyerupai biji itu, dimasukkan ke panci panas.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved