Pemuda TTS-NTT Buang Emas di Kampung Halaman Cari Perunggu di Malaysia

Ada emas di kampung halaman sendiri. Kita gali emas lalu kita pakai tak akan habis bahkan kita akan berjaya.

Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: Ferry Ndoen
ilustrasi
Ilustrasi TKI 

POS KUPANG.COM, SOE-Sikap anak muda di wilayah Kabupaten TTS sangat aneh karenalebih senang membuang emas di kampung sendiri lalu ingin mencari perunggu di tanah rantau seperti di Kalimantan, Malaysia dan Singapura.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten TTS, Drs. Otnial Neonane, S.Tp,M.Si, mengungkapkan hal itu, Senin (10/7/2017).
Dia mengatakan, sebagian besar anak muda di TTS tidak ada minat menjadi petani dan mereka kebanyakan memilih mau bekerja di luar daerah dengan tujuan ke negara Malaysia dan Singapura.

"Mereka lebih tertarik setiap minggu hitung duit tapi sesungguhnya tak cukup. Ada emas di kampung halaman sendiri. Kita gali emas lalu kita pakai tak akan habis bahkan kita akan berjaya. Tapi mereka lebih suka pergi mencari perunggu di luar daerah," kata Otnial.

Otnial mengatakan, pekerjaan di negara luar tidak menjanjikan jika tidak ada ketrampilan serta keahlian yang dimiliki pekerja. Apalagi jika uang yang dihasilkan tidak dipergunakan dengan baik.

"Saya selalu katakan ini abu-abu. Karena mereka pergi pulang, pergi pulang. Hitam tidak hitam yang putih tidak putih. Pulang datang bawa uang Rp 20 juta hingga Rp 30 juta. Datang beli semua termasuk daun ubi juga beli. Akhirnya tidak cukup lalu kembali lagi. Sampai disana kembali lagi lalu tidak cukup, kembali lagi. Bahkan ada yang meninggal dunia lalu nama di rekayasa hingga terjadi berbagai persoalan. Saya minta anak muda di TTS lebih baik gali emas di kampung sendiri," kata Otnial.

Tentang intervensi dinas mengarahkan anak muda di TTS kembali ke lahan pertanian, Otnial mengatakan, mereka sedang melakukan pembinaan terhadap kelompok tani yang beranggotakan anak muda di berbagai wilayah di TTS . Kelompok tani dibina selama tiga bulan. Sejauh ini pembidaan itu berhasil.

"Ada Kelompok Tani Idola Bersama di Desa Malalete di Kecamatan Amanuban Barat. Mereka menanam sayur dan saat panen, setiap anggota mendapat pembagian Rp 15 juta-Rp 17 juta. Mereka langsung beli sepeda motor tunai. Ini menggali emas di kampung sendiri. Asal mau kembali menjadi petani dan bekerja di lahannya sendiri. Dua tahun kemudian kita sudah maju luar biasa.

Karena kebun sudah jadi, panen pisang oke, ubi juga oke, tanama kelapa, kemiri, kopi oke. Kalau kita keluar daerah ada duit tapi tidak ada hasil pertanian. Hanya pulang bawa duit lalu beli hasil pertanian. Nanti kerjanya bolak balik tidak jelas," kata Otnial. (vel)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved