Tour de Flores 2017

Ignas Iryanto Apresiasi Penyelenggaraan Tour de Flores 2017

diadakan minum madu hutan Flores secara massal dengan acara budaya Lamaholot di Larantuka dan di Labuhan Bajo akan diadakan minum kopi Flores

Ignas Iryanto Apresiasi Penyelenggaraan Tour de Flores 2017
ISTIMEWA
Iryanto Djou (kiri) 

POS KUPANG.COM - Ignatius Iryanto bakal calon yang bertarung dalam pemilihan gubernur dan wakil gubernur NTT tahun 2018 memberi apresiasi persiapan penyelenggaran Tour de Flores (TdF).

Apresiasi itu terutama karena adanya sub event di Larantuka sebagai titik start dan di Labuan Bajo sebagai titik akhir ajang balap sepeda internasional itu.

Ada pun sub event di dua tempat tersebut adalah diadakan minum madu hutan Flores secara massal dengan acara budaya Lamaholot di Larantuka dan di Labuhan Bajo akan diadakan minum kopi Flores secara massal dengan acara budaya Manggarai. Kedua sub event tersebut sedang disiapkan panitia.

"Proficiat, suatu langkah maju, diharapkan tahun depan di etape-etape lainnya dibuat sub event juga,"ujar pria kelahiran Ende, Flores ini, Minggu 9 Juli 2017.

Sebelumnya, pria yang akrab disapa Yanto ini mengatakan sub event ini untuk membuka ruang partisipasi dari rakyat kebanyakan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Menurutnya, mestinya dana APBD yang selama ini menjadi polemik dalam TdF digunakan untuk mebiayayi sub event-sub event di masing-masing kabupaten.

Selain memberi apresiasi atas diadakanya sub event di Larantuka dan Labuan Bajo, Ignas juga mengingatkan pentingnya panitia menerapakan strategi media yang tepat.

"Karena TdF lebih diarahkan pada promosi dan bukan mendatangkan wisatawan secara langsung, maka strategi media yang tepat harus dimiliki oleh panitia. Karena di sana terlibat tokoh tokoh media, semoga ini memang diperhatikan secara khusus," ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan doktoral di Berlin, Jerman ini.

Menurutnya, ada ukuran kuantitatif yang bisa dihitung apakah strategi media itu berhasil. "Di tempat saya bekerja, dan juga di beberapa tempat lain, ukuran itu disebut PR Value. Menteri Pariwisata ketika melaunching TdF ini menyebutnya Media Value. Ini sebaiknya dihitung langsung oleh tim perlaksana dan menjadi bagian penting dalam laporannya, sekaligus merupakan KPI (key performance indicator) dari event ini,"ujarnya.

Salah satu cara untuk menaikan media value atau PR value itu adalah dengan mendorong dimuatnya berita TdF ini secara masif di media mainstream maupun medsos.

"Metodanya macam macam. Beberapa contoh, lomba penulisan berita TdF di media cetak. Salah satu kriterianya adalah bagaimana berita yang ditulis itu menyertakan berita dengan obyek wisata yang dilewati oleh para pembalap. Jadi tidak semata kisah mengenai balapannya. Obyek wisata itu, bisa alam, budaya, kuliner, ritual, kampung adat, sejarah dan lain-lain. Itu disisipkan dalam berita mengenai TdF,"ujarnya.

Model kompetisi ini bisa berbentuk tulisan, artikel, lomba membuat video pendek atau bahkan sekadar foto. Foto atau video pendek, bisa dinaikan ke medsos dan salah satu kriterianya adalah jumlah orang yang "like" pada foto atau video tersebut. Begitu juga berita pendek ke TV yang menyediakan space untuk itu.

"PR Value adalah nilai total berita yang dimuat tentang TdF baik cetak, elektronik, medsos dll. Ini jelas menggambarkan efek promosi wisata dari TdF ini. Jumlah yang datang mungkin masih kecil namun efek promosinyau yang besar yang berdampak pada tingkat kunjungan wisata ke Pulau Flores,"pungkasnya. *)

Penulis: Ferry Ndoen
Editor: Ferry Ndoen
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved