Bulan Ramadan

Maklumlah, aku ini termasuk orang beriman yang kurang sabar, mau menang sendiri, gampang tersinggung, suka menuduh, sering

Bulan Ramadan
DOK POS KUPANG
Maria Matildis Banda

Parodi Maria Matildis Banda

POS KUPANG.COM --
Dari Jakarta sampai Kupang
Pesawat singgah Denpasar
Ramadan sudah menjelang
Saatnya untuk latihan sabar
***
Demikian satu bait pantun yang dikirimkan Rara buat Nona Mia, Jaki, dan Benza temannya. Meskipun ketiga temannya itu tidak merayakan atau menunaikan kewajiban puasa pada bulan Ramadan, Rara pastikan untuk kirim. Tujuannya sederhana saja, yaitu agar ketiga teman bisa lanjutkan untuk teman lain yang merayakannya.

"Aku sudah teruskan untuk teman group WA, teman FB, teman BBM, pokoknya semuanya," kata Benza.

"Aku tidak kirim kemana-mana," sambung Nona Mia. "Pantun itu sepertinya cocok untuk diriku sendiri. Untuk latihan sabar. Maklumlah, aku ini termasuk orang beriman yang kurang sabar, mau menang sendiri, gampang tersinggung, suka menuduh, sering manipulasi, dan terutama sangat cenderung menyalahkan orang lain. Singkat kata, aku ini sahabatmu yang selalu gampang lihat serbuk di mata orang lain daripada balok di mata sendiri."

"Sama dengan aku," jawab Benza. "Aku cenderung mudah melihat semut di seberang hutan daripada gajah di depan hidungku. Rasanya semut yang jauh itu terang benderang di mataku. Sementara gajah di depan mataku terasa gelap gulita. Waduh, aku lagi kena penyakit apa ya?" tanya Benza pada dirinya sendiri.

***
"Melihat ke dalam itu penting sekali," kata Rara.
"Ya, sebelum melihat keluar, sebaiknya memang mencermati ke dalam lebih dulu," sambung Nona Mia.

"Lihat ke dalam sebelum lihat keluar itu penting. Akan tetapi, sekarang saatnya berbagi," kata Jaki. "Pantunmu indah sekali, Rara. Kita kirim pantun ini untuk keluarga anggota Polri yang tewas akibat bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu Jakarta. Sedih sekali ya, kehilangan putra terbaik dalam keluarga, kekasih tercinta yang sebentar lagi akan menikah, justru pada saat akan memasuki bulan Ramadan. Sebuah bulan yang menurut temanku yang merayakannya adalah bulan penuh berkah."

"Ya kita kirim pantun untuk keluarga Ridho Setiawan yang beralamat di Tangerang Selatan, Taufan Tsunami yang beralamat di Bekasi Barat, dan Imam Gilang Adinata yang beralamat di Jakarta Selatan..." kata Rara.

"Jangan hanya satu pantun," kata Benza. "Kita kirim beberapa pantun lagi terutama untuk keluarga korban agar jangan pernah takut...untuk kita semua juga jangan pernah takut..."
***

"Berani karena benar! Takut karena salah!" kata Nona Mia."Itu petuah leluhur yang mesti dikonkretkan sekarang ini. Berani lawan karena benar! Kalau takut dan mundur dan ragu-ragu maka teror bom bunuh diri akan datang lagi."

"Apakah kita kirim pantun untuk menyadarkan pelakunya. Biar ada efek jera..." usul Jaki. "Bagaimana?"

"Itu urusan polisi untuk segera turun tangan ambil tindakan tegas. Usut tuntas sampai ke akar-akarnya. Urusan pemerintah dan wakil rakyat untuk segera tuntaskan undang-undang anti terorisme. Segera, sebagaimana harapan banyak pihak."

"Urusan kita apa?" tanya Jaki.
"Urusan kita, pasti! Jangan takut, jangan ikut-ikutan jadi tukang teror. Khusus untuk politisi sepertimu, Benza. Jangan keluarkan pernyataan yang justru memprovokasi. Meskipun kita berempat tidak menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan ini, kita bisa belajar kebaikan dari sana. Sabar sekaligus sadar! Jangan sampai kita pun ikut-ikutan jadi politisi yang kerjanya jadi provokator kebencian."

***
"Ingat itu Benza," Jaki dan Rara menyambung bersamaan.
"Politisi dalam memasuki bulan Ramadan ini, usahakan kalau bicara jangan sampai pakai cara kerja bom panci. Meledak, menyakiti, dan menghakimi sekaligus membakar..." kata Nona Mia. "Satu pantun darimu saja ya Rara, untuk masing-masing kita secara pribadi dan kita kirim juga untuk semua mereka...agar sadar dan sabar..."

"Selamat memasuki Bulan Ramadan." (*)

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved