WASPADALAH! Pasang Tarif Murah, Ada PSK "Balas Dendam" Sengaja Tularkan HIV
Susi (32), bukan nama sebenarnya, salah satu mantan WPS yang sudah divonis positif HIV.
surabaya.tribunnews.com/Ahmad Zaimul Haq
Susi (bukan nama sebenarnya), menunjukkan bercak-bercak putih di tangannya yang muncul akibat konsumsi obat ARV.
POS KUPANG.COM, SURABAYA -- Praktik prostitusi bisa saja berhenti usai penutupan lokalisasi di sejumlah titik di Surabaya.
Namun, hal ini bukan berarti masalah dan dampak dari praktik itu pun turut berakhir.
Sebaliknya, saat ini patut diwaspadai masalah kesehatan dan penularan HIV/AIDS.
Pasalnya, saat ini masih banyak wanita pekerja seks (WPS) yang kini berjuang untuk sembuh dari HIV/AIDS.
Mereka kini mendapat pendampingan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya maupun lembaga swadaya masyarakat, yang konsen pada para penderita ini.
Susi (32), bukan nama sebenarnya, salah satu mantan WPS yang sudah divonis positif HIV.
Sejak 2013, ia bekerja di sejumlah tempat prostitusi.
"Saya tiga tahun bekerja di Jurang Kuping, lalu freelance di Moroseneng dan di Dinoyo," ujar Susi.
Selama bekerja ia memang tidak terlalu peduli tentang keamanan dan kesehatan.
Ia hanya memikirkan mendapat uang dan bisa hidup.
Ia baru tahu, dirinya positif HIV sejak Juli 2016.
Saat itu, Susi baru lima bulan berhenti sebagai WPS.
"Saya nggak punya bayangan pria mana yang menularkan penyakit ini, wong tahunya positif lima bulan setelah berhenti," katanya.
Saat ditemui Surya (Tribunnews.com Network), kondisi Susi tampak kurang fit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/susi-bukan-nama-sebenarnya-menunjukkan-bercak-bercak-putih_20170504_133511.jpg)