Antara Membaca Buku atau Browsing Internet
Namun di era serba digital ini, peran buku kian menurun dari tahun ke tahun. Pengunjung toko buku dan perpustakaan
Oleh: James Elister Natbais
Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan, FST Undana
POS KUPANG.COM - Kalimat di atas terutama ditujukan kepada para pelajar, mahasiswa, serta kaum yang masih ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya entah untuk masa depan ataupun hanya sekedar ingin tahu. Oleh karena itu, jelas hal ini tak terlepas dari peran buku serta referensi lain seperti layanan internet sebagai sumber belajar.
Namun di era serba digital ini, peran buku kian menurun dari tahun ke tahun. Pengunjung toko buku dan perpustakaan mengalami penurunan akibat semakin canggihnya telepon pintar (smartphone) yang mudah diperoleh masyarakat segala kalangan. Lebih tepatnya internet telah menggeser posisi buku sebagai sumber belajar dan informasi.
Alasannya logis, masyarakat bisa dengan mudah memperoleh sumber belajar maupun bacaan menarik yang sesuai keperluan tanpa harus pergi jauh-jauh ke perpustakaan atau berlama-lama membaca buku yang tebal.
Internet jendela dunia?
Problema pun terjadi, apakah pepatah yang menyebut bahwa buku adalah jendela dunia kini hanya jadi slogan yang telah kedaluwarsa? Lalu apakah eksistensi internet telah menggantikan buku sebagai jendela dunia? Ironis memang, namun kenyataan yang ditemui, para pelajar sekarang lebih dulu memanfaatkan layanan mesin pencari Google yang disediakan internet jika memperoleh tugas dari sekolah ataupun kampus. Sedangkan buku menjadi referensi nomor dua.
Google begitu dieluk-elukan sedangkan buku hanya menjadi penghias sudut ruangan lalu menjadi sarang debu. Ini tak terlepas dari karakter masyarakat Indonesia yang hanya mau segala sesuatu terjadi dan berlangsung dengan cepat, instan serta murah dan internet memiliki semuanya.
Namun temuan baru yang dilakukan oleh para pakar Universitas College London selama 5 tahun terakhir dapat menampik pernyataan di atas. Kedua situs yang menyediakan akses ke jurnal-jurnal, buku elektronik, dan sumber-sumber informasi tertulis lain ialah British Library dan United Kingdom Educational Consortium. Mereka mengatakan bahwa ternyata para pengunjung situs tersebut hanya sekilas saja membaca artikel-artikel tersebut. Terkadang para pengunjung juga mengunduh dan menyimpan artikel dalam komputer pribadi tapi tak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka kembali membuka artikel itu untuk dibaca kembali. Dan ternyata temuan mereka sangat persis dengan perilaku kita saat mencari referensi di internet.
Banyaknya jenis hiburan, permainan (game online) dan penggunaan sosial media membuat perhatian kita terhadap bacaan teralihkan. Iklan-iklan khusus orang dewasa juga sangat berbahaya untuk anak di bawah umur yang sedang berselancar di internet.
Buku sangat disarankan
Kadang di film-film barat digambarkan orang yang sedang menunggu bis, di sela-sela menunggu itu disempatkan untuk membaca buku. Walaupun cuma dilihat dari film-film, saya menyimpulkan bahwa tradisi membaca buku memang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat barat. Hal yang jarang ditemui dan dipraktikkan orang Indonesia.
Secara fisik, buku bisa disentuh dan dirasakan. Perspektif dari segi kesehatan, membaca buku membuat mata lebih rileks ketimbang menatap layar monitor yang berakibat mata cepat lelah. Daya ingat dan konsentrasi dapat meningkat jika rajin membaca buku. Hal ini diungkapkan oleh peneliti Anne Mangen, PhD, dari Universitas Stavenger Norwegia.
Buku lebih jujur daripada kebanyakan konten di internet karena sebuah buku layak terbit jika telah melewati proses seleksi yang ketat dari pihak editor penerbit. Tentu fakta yang tertuang dalam buku hampir 100% dapat dipercaya, berbeda dengan e-book maupun artikel yang menjamur di internet tanpa ada seleksi sehingga keakuratan data dan informasi sangat diragukan.
Membaca buku pada hakikatnya menjadi individu baru karena interaksi kita dengan teks. Teks-teks itu memperkaya pemahaman kita dan kemudian terintegrasi dalam psike seorang individu. Buku membuat pikiran kita terbuka. Perspektif kita jadi lebih luas, karena setiap penulis pasti punya hal yang ia yakini. Dengan membaca buku sebenarnya kita sedang diyakinkan oleh banyak orang pada saat bersamaan. Saat kita banyak baca buku, kita akan jadi orang yang lebih mudah menerima sesuatu yang baru.
Masyarakat kembali baca buku
Jangan harap kualitas sumber daya manusia Indonesia meningkat dengan sendirinya kalau pemerintah dan semua kalangan bersikap apatis atas problema ini. Pengembangan masyarakat ke arah yang lebih baik tentu bisa melalui buku. Untuk mewujudkan hal itu, langkah-langkah taktis strategis perlu dilakukan.
Pertama, perlu adanya aksi semacam orasi dari mahasiswa dan semua kalangan intelek untuk mengurangi konsumsi internet dan mengajak kembali membaca buku. Dalam aksi tersebut bisa dengan menggelar aneka poster unik, kreatif, dan inspiratif bertuliskan ajakan membaca buku dan seruan untuk mengunjungi toko buku dan perpustakaan. Sebab poster adalah alat paling efektif untuk meningkatkan eksistensi suatu lembaga maupun berbagai macam kegiatan.
Kedua, mutlak anggaran pendidikan yang begitu besar kiranya beberapa persen dipakai menghidupkan dan memperdayakan semacam komunitas perpustakaan jalanan yang bisa disebar di seluruh pusat keramaian, bukan saja di sekolah-sekolah. Sehingga akses menuju perpustakaan yang dianggap boros waktu bisa diminimalisir. Boleh dikatakan langkah ini untuk mendekatkan buku dengan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-internet_20170104_092408.jpg)