Lilin Paskah dan Pengorbanan Politik

Hal tersebut merupakan simbolisasi tindakan saling berbagi terang kebangkitan Kristus dan cinta Allah yang menyelamatkan.

Editor: Dion DB Putra
VIA BBC
ilustrasi 

Oleh Inosentius Mansur
Rohaniwan Katolik dari Seminari Tinggi Ritapiret- Maumere

POS KUPANG.COM - Salah satu sarana liturgi saat perayaan malam Paskah adalah Lilin Paskah. Secara teologis, Lilin Paskah yang bernyala di tengah kegelapan melambangkan Kristus yang bangkit dari kematian. Karenanya, umat wajib menyalakan lilin masing-masing dari Lilin Paskah tersebut (Maryanto, 2004).

Hal tersebut merupakan simbolisasi tindakan saling berbagi terang kebangkitan Kristus dan cinta Allah yang menyelamatkan. Dengan begitu, umat memperbaharui janji baptis untuk tetap hidup dalam terang Kristus dan menjadi cahaya kekal bagi sesama. Dalam tulisan ini, saya hendak merefleksikan dimensi sosial-politik dari Lilin Paskah tersebut.

Pijakan Refleksi
Dari Lilin Paskah, ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai rujukan refleksi. Pertama, pengorbanan. Lilin Paskah, akan bisa memberi terang dan dapat menjadi sumber cahaya bagi lilin umat, jika mengorbankan/menghancurkan dirinya. Dengan kata lain, Lilin Paskah "mengafirmasi" diri sebagai terang dengan cara menghabiskan diri. Kedua, dipajang pada tempat khusus. Lilin Paskah selalu dipajang pada tiang lilin yang disiapkan dan dihiasi secara khusus.

Dengan begitu, umat yang berpartisipasi dalam perayaan Paskah dapat secara khusus memperhatikan Lilin Paskah dan mengarahkan pandangan pada Kristus yang bangkit dan menjadi terang sebagaimana dilambangkan oleh Lilin Paskah tersebut. Kristus yang bangkit merestorasi peradaban manusia yang diobrak-abrik oleh berbagai tindakan destruktif. Kristus yang bangkit kini berdiri kokoh, mengambil posisi "sentral" dan membebaskan manusia dari isolasi dosa, baik secara kolektif maupun secara individual.

Ketiga, cahaya. Lilin Paskah yang dinyalakan saat malam Paskah berhasil mendatangkan cahaya bagi seluruh umat. Dengan begitu, umat bisa menyadari bahwa Kristus yang bangkit dari kematian, hadir dan melakukan intervensi atas kehidupan manusia. Kristus adalah sumber cahaya. Dia ingin membagikan cahaya itu kepada manusia. Manusia pun mesti menjadikan Kristus sebagai acuan/asal cahaya dan bersedia membagikan cahaya tersebut kepada sesama. Refleksi dan praksis sosial kehidupan manusia mesti berpijak pada cahaya Kristus.

Pengorbanan
Dalam ranah publik, kita membutuhkan kehadiran politikus dan pemimpin yang bersedia menjadi "Lilin Paskah", yaitu figur yang rela mengorbankan diri. Itu berarti fokus dan kiblat elaborasi sikap serta tindakan politik mereka adalah kepentingan rakyat.

Mereka mesti mampu tampil bagaikan "Lilin Paskah" dengan memberikan diri demi kebaikan banyak orang. Itu berarti kondisi rakyat dijadikan sebagai basis tindakan dalam berkiprah. Rujukan tindakan politiknya bukanlah kalkulasi individual/kelompok tertentu, melainkan realitas kerakyatan.

Seperti Lilin Paskah yang dipajang di tempat khusus, begitu juga dengan posisi sosial politikus ataupun pemimpin publik. Mereka akan menjadi pusat perhatian rakyat. Mereka mendapatkan tempat istimewa dan privilese ditengah ruang sosial.

Tetapi hal seperti itu akan menjadi nirmakna, jika mereka gagal menjadi cahaya bagi rakyat. Cahaya, demikian kajian filsafat ilmuninasi pemikir muslim Suhrawardi (1153 M) -tak boleh hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga mesti menerangi yang lain. Berpijak pada pandangan ini, privilese yang diterima politikus dan pemimpin, tidak akan berguna jika mereka tidak mampu menjadi sumber cahaya bagi yang lain.

Dengan kata lain, segala keistimewaan itu akan menjadi kontraproduktif jika praksis dan penjabarannya tidak mengakomodir sistem nilai yang sesuai dengan kehendak rakyat. Sistem nilai yang mendasari kehidupan bernegara, demikian Franz Magnis-Suseno (1999), harus berorientasi pada nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, dan bukan sebaliknya. Jika tidak, maka praksis perpolitikan akan terjebak dalam orientasi pragmatis, menyangkal nilai-nilai kemasyarakatan dan mengorbankan esensi politik.

Memang, hal seperti ini tidaklah gampang. Alih-alih berkorban bagi rakyat, para politikus ataupun pemimpin malah (acapkali) mengorbankan rakyat. Selama ini, kebijakan publik dan keputusan politik seringkali apublik dan apolitik. Rakyat seringkali dieliminasi dan tidak menjadi basis kebijakan itu.

Karena itulah, kita berharap agar politikus dan pemimpin mesti menampilkan diri sebagai "Lilin Paskah". Praksis berpolitik mereka mesti berpijak pada pola intervensi politik Allah. Politik Allah adalah politik keteraturan, kesejahteraan, dan keadilan untuk semua (Kolimon, 2016). Politikus dan pemimpin tidak boleh mengingkari hakikat eksistensi mereka dengan mengabaikan rakyat sebagai titik tolak dan orientasi perjuangan. *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved